BERITA TERKINI
AS Tawarkan Pasokan Energi ke Asia-Pasifik di Tengah Ketegangan Timur Tengah

AS Tawarkan Pasokan Energi ke Asia-Pasifik di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Amerika Serikat menawarkan diri untuk memasok energi ke kawasan Asia-Pasifik di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dan gas. Tawaran itu disampaikan Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum dalam sebuah forum di Tokyo pada 14 Maret.

Dalam pernyataannya, Burgum mengatakan kebijakan “dominasi energi” Presiden Donald Trump membuat AS mampu mengamankan pasokan energi yang cukup untuk kebutuhan pembangunan dalam negeri, sekaligus memungkinkan negara itu menjual energi kepada mitra dan sekutu.

Menurut Burgum, langkah tersebut ditujukan untuk membantu negara-negara di kawasan memperoleh pasokan energi yang “andal, terjangkau, dan aman”, serta tidak mudah terpengaruh oleh faktor geopolitik.

Pernyataan itu muncul di tengah kenaikan tajam harga minyak dan gas setelah serangan udara AS-Israel yang menargetkan Iran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi negara tersebut, yang kemudian menyeret Timur Tengah ke dalam konflik. Dampak konflik juga dirasakan pada jalur perdagangan energi global, termasuk pengiriman melalui Selat Hormuz yang dilaporkan hampir terhenti.

Selat Hormuz merupakan jalur transit penting bagi minyak dan gas dunia. Sebagian besar minyak dan gas yang melewati jalur ini dikirim ke negara-negara Asia, sehingga gangguan di kawasan tersebut berpotensi menekan pasokan dan memperbesar ketidakpastian harga.

Di awal pekan yang sama, Presiden Trump—yang dikenal sebagai pendukung kuat industri minyak—menulis di platform Truth Social bahwa AS merupakan produsen minyak terbesar di dunia. Ia menyatakan bahwa ketika harga naik, AS “menghasilkan banyak uang”.

Selain isu energi, Burgum juga menekankan pentingnya mengamankan pasokan mineral penting. Ia menyinggung upaya banyak negara untuk mengurangi ketergantungan pada China, yang disebut sebagai eksportir utama dunia untuk komoditas tersebut. Mineral seperti litium dan kobalt digunakan dalam berbagai produk, mulai dari kendaraan listrik, baterai surya, ponsel pintar, mesin pesawat, hingga rudal berpemandu.

Forum di Tokyo itu disebut telah direncanakan sebelum pecahnya pertempuran di Timur Tengah pada 28 Februari. Pertemuan tersebut mempertemukan pemimpin politik AS dan perusahaan energi untuk mendorong kesepakatan perdagangan.

Menurut Bloomberg, acara yang dihadiri 17 negara di kawasan—termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Thailand—diperkirakan akan mengumumkan kesepakatan energi dan mineral dengan AS senilai setidaknya 30 miliar dolar AS.

Jepang, yang merupakan ekonomi terbesar keempat di dunia dan disebut bergantung 95% pada impor minyak dari Timur Tengah, mengumumkan nota kesepahaman dengan Washington untuk membiayai bersama proyek “infrastruktur strategis” di pasar negara berkembang.

Tokyo juga menyatakan setuju untuk menginvestasikan 550 miliar dolar AS di AS sebelum 2029 sebagai imbalan atas pengurangan pajak berdasarkan kebijakan tarif global Presiden Trump.

Di tingkat korporasi, sejumlah kerja sama energi turut diumumkan. Hitachi dari Jepang dan perusahaan AS GE Vernova sepakat menjajaki peluang membangun reaktor nuklir generasi berikutnya, yang dikenal sebagai reaktor modular kecil (SMR), di Asia Tenggara.

Sementara itu, Holtec dan Mitsubishi Electric juga bekerja sama di bidang energi nuklir. Selain itu, perusahaan AS Venture Global menandatangani kontrak jangka panjang untuk memasok 1,5 juta ton gas alam cair (LNG) kepada anak perusahaan Hanwha Group dari Korea Selatan.