Arab Saudi mengumumkan penghentian sementara pembangunan Mukaab, proyek pencakar langit berbentuk kubus yang dirancang menjadi ikon utama distrik New Murabba di Riyadh. Keputusan yang disampaikan pada Januari 2026 itu diambil ketika pekerjaan penggalian dan pondasi tiang sudah berjalan, namun pembangunan struktur bangunan utamanya kini ditangguhkan.
Penundaan proyek yang diperkirakan bernilai sekitar US$50 miliar tersebut menandai perubahan pendekatan dalam pelaksanaan program Visi 2030. Otoritas menyebut penghentian dilakukan untuk peninjauan keuangan dan teknis, di tengah tekanan anggaran yang meningkat akibat harga minyak yang melemah serta tantangan rekayasa pada desain bangunan yang belum pernah diterapkan dalam skala serupa.
Meski konstruksi Mukaab dihentikan sementara, pengembangan real estat di area sekitarnya disebut tetap berlanjut. Namun, setelah revisi rencana, target penyelesaian keseluruhan distrik New Murabba turut mundur: dari semula ditetapkan 2030 menjadi 2040. Hingga saat ini, nilai kontrak yang telah diberikan dilaporkan baru sekitar US$100 juta.
Mukaab dirancang sebagai kubus logam berukuran 400 meter pada setiap sisinya, dengan struktur silindris di bagian dalam. Salah satu elemen yang paling menonjol adalah rencana pembangunan kubah tampilan yang dikendalikan AI, yang disebut akan menjadi yang terbesar di dunia, serta menara spiral internal setinggi lebih dari 300 meter. CEO Murabba, Michael Dyke, dalam konferensi pada Desember, menggambarkan pengalaman memasuki bangunan itu sebagai “dunia lain” dan menekankan konsep ruang imersif yang menggabungkan budaya, kreativitas, dan teknologi.
Namun Dyke juga mengakui tingkat kesulitan teknis yang menyertai rancangan tersebut. Pernyataannya, “Sulit untuk menemukan solusi untuk masalah yang belum ada,” mencerminkan tantangan yang muncul dari kombinasi dimensi ekstrem, teknologi tampilan inovatif, dan kompleksitas struktur internal yang direncanakan.
New Murabba sendiri diproyeksikan pemerintah sebagai pengembangan perkotaan besar seluas 19 kilometer persegi, dengan konsep “kota 15 menit”. Proyek ini ditargetkan menyediakan 104.000 unit hunian pada 2030 dan diklaim dapat menyumbang 180 miliar riyal bagi perekonomian, serta menciptakan 334.000 lapangan kerja langsung maupun tidak langsung pada 2030. Total area yang dapat dibangun disebut mencapai 19 juta meter persegi untuk ritel, perhotelan, perumahan, dan perkantoran.
Peninjauan ulang Mukaab berlangsung di tengah perubahan kondisi fiskal Arab Saudi. Kerajaan menghadapi tekanan dari harga minyak yang lebih rendah dibandingkan kebutuhan untuk menyeimbangkan anggaran. Goldman Sachs memperkirakan Arab Saudi memerlukan harga minyak sekitar US$93 per barel untuk mencapai titik impas, sementara pada awal 2025 harga minyak berada di kisaran US$62–65 per barel setelah pengumuman tarif baru oleh Presiden AS Donald Trump yang memicu kekhawatiran resesi global.
Defisit anggaran diproyeksikan mencapai 245 miliar riyal pada 2025 (sekitar US$65 miliar atau 5,3% dari PDB), dan 165 miliar riyal pada 2026 (sekitar US$44 miliar atau 3,3% dari PDB). Pada semester pertama 2025, pendapatan minyak turun 24%, dan defisit anggaran meningkat dari 28 miliar riyal pada periode yang sama 2024 menjadi 93 miliar riyal. Meski demikian, Dana Moneter Internasional menilai posisi utang Arab Saudi—sekitar 31,7% dari PDB—masih relatif rendah dibanding banyak negara maju.
Untuk menutup kebutuhan pembiayaan, Kementerian Keuangan menyetujui rencana pinjaman sekitar 217 miliar riyal untuk 2026 (sekitar US$58 miliar), yang ditujukan menutup defisit dan membayar kembali utang jatuh tempo. Di saat bersamaan, Dana Investasi Publik (PIF) sebagai motor investasi Visi 2030 juga melakukan penyesuaian prioritas. Pada Oktober 2025, Arab Saudi mengumumkan penataan ulang fokus PIF agar lebih menekankan sektor yang dinilai lebih mendesak dan berpotensi memberi imbal hasil lebih cepat, seperti logistik, ekstraksi mineral, kecerdasan buatan, dan pariwisata religi.
Menteri Keuangan Mohammed Al-Jadaan menyatakan kepada Reuters bahwa tingkat belanja tetap stabil dalam tiga siklus anggaran terakhir, namun fokusnya bergeser pada prioritas pengeluaran. Menteri Perekonomian Faisal al-Ibrahim juga menegaskan pemerintah tidak akan ragu untuk menunda, memperlambat, atau menyesuaikan ulang proyek.
Perubahan prioritas ini sejalan dengan penekanan pada agenda yang memiliki tenggat dan komitmen internasional, terutama Expo 2030 di Riyadh dan Piala Dunia FIFA 2034. Expo 2030, yang dimenangkan Arab Saudi pada November 2023, diperkirakan menarik lebih dari 40 juta pengunjung dari 190 negara dan berlangsung pada Oktober 2030 hingga Maret 2031. Sementara Piala Dunia FIFA 2034 membutuhkan investasi besar untuk stadion dan infrastruktur, termasuk pembangunan atau peningkatan stadion serta 134 fasilitas pelatihan.
Selain itu, proyek Diriyah—pusat budaya senilai US$63,2 miliar—dan Qiddiya—destinasi hiburan dan olahraga dengan investasi US$6,5 miliar—termasuk proyek yang disebut mendapat prioritas. Pergeseran ini juga terjadi setelah proyek Neom, khususnya The Line, mengalami pengurangan besar. The Line yang semula dirancang sepanjang 170 kilometer, pada April 2024 diproyeksikan hanya mencapai 2,4 kilometer pada 2030, dengan penurunan target populasi dan pembengkakan estimasi biaya hingga 8,8 triliun dolar AS.
Di ranah publik, desain Mukaab sempat memicu kontroversi karena dianggap mirip Ka’bah oleh sebagian warganet. Sementara itu, investasi besar untuk ajang olahraga turut memunculkan kritik “sportswashing”, meski Putra Mahkota Mohammed bin Salman menekankan manfaat ekonomi, termasuk klaim kenaikan PDB sebesar satu persen dari investasi olahraga.
Penundaan Mukaab memperlihatkan bagaimana realitas pasar energi dan tantangan teknis dapat memengaruhi megaproyek, bahkan di negara dengan dana kekayaan besar. Dengan harga minyak yang masih jauh dari tingkat yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan anggaran, Arab Saudi kini terlihat menata ulang langkahnya: mengalihkan sumber daya dari proyek arsitektur ultraambisius ke agenda infrastruktur dan sektor yang dipandang lebih cepat menghasilkan dampak ekonomi.

