Krisis pangan global kembali menguat di tengah konflik geopolitik, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok internasional. Laporan terbaru World Food Programme (WFP) memperingatkan potensi lonjakan jumlah penduduk yang mengalami kelaparan akut pada 2026. Dalam situasi ini, ketahanan pangan dipandang bukan sekadar isu sektoral, melainkan fondasi penting bagi stabilitas ekonomi, sosial, dan politik suatu negara.
Berdasarkan analisis WFP, konflik global yang berkepanjangan serta kenaikan harga energi berpotensi mendorong tambahan sekitar 45 juta orang ke dalam kondisi rawan pangan akut. Temuan itu menegaskan bahwa krisis pangan tidak semata terjadi karena kekurangan produksi, tetapi juga dipengaruhi faktor distribusi, harga, dan stabilitas geopolitik global.
Di tengah ancaman tersebut, Indonesia disebut berada dalam kondisi yang relatif stabil dan cenderung positif pada sektor pangan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan dunia menghadapi ancaman krisis pangan serius, sehingga setiap negara perlu memperkuat ketahanan pangan domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Amran menilai, dalam kondisi krisis global, negara yang mampu memproduksi pangan secara mandiri akan berada dalam posisi paling aman. Karena itu, penguatan produksi dalam negeri disebut menjadi kunci menjaga stabilitas pangan nasional.
Pemerintah menjalankan sejumlah strategi untuk menjaga ketahanan pangan, di antaranya peningkatan produksi melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Intensifikasi dilakukan dengan memaksimalkan produktivitas lahan melalui penggunaan teknologi, benih unggul, dan mekanisasi pertanian. Sementara ekstensifikasi dilakukan melalui pembukaan lahan baru serta optimalisasi lahan yang sebelumnya kurang produktif.
Hasil strategi tersebut diklaim mulai terlihat melalui surplus produksi pangan, khususnya beras. Produksi beras nasional yang meningkat disebut tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga membuka potensi kontribusi pada pasar global. Pemerintah juga melaporkan cadangan beras berada dalam kondisi aman dan terus meningkat.
Amran menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki peluang menjadi lumbung pangan dunia. Ia menilai Indonesia memiliki prasyarat berupa sumber daya alam yang melimpah, iklim yang mendukung, serta tenaga kerja yang memadai untuk mencapai kemandirian pangan sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan global.
Selain peningkatan produksi, pemerintah juga mendorong pembangunan sistem pertanian yang modern dan berkelanjutan. Transformasi itu mencakup perbaikan tata kelola distribusi, reformasi kebijakan pupuk, serta peningkatan efisiensi rantai pasok pangan. Langkah tersebut ditujukan agar surplus produksi dapat dirasakan masyarakat melalui stabilitas harga dan ketersediaan pangan yang lebih merata.
Dalam salah satu laporan, Amran menyebut Indonesia telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas strategis. Sembilan komoditas yang disebut meliputi beras, gula konsumsi, cabe besar, cabe rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional hingga akhir April 2026, total ketersediaan beras tercatat 27,55 juta ton dengan kebutuhan 10,30 juta ton, sehingga terdapat surplus 17,24 juta ton. Sementara itu, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Bulog per Februari 2026 tercatat 3,3 juta ton. Menurut perhitungan Amran, dalam tiga bulan berikutnya stok beras Bulog berpotensi mencapai 6 juta ton.
Meski demikian, tantangan ketahanan pangan dinilai tidak hanya terkait produksi, tetapi juga distribusi, akses, dan stabilitas harga. Gangguan pada salah satu aspek tersebut dapat memicu krisis meskipun produksi mencukupi. Karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk menjaga sistem pangan yang tangguh.
Perubahan iklim juga menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Cuaca ekstrem seperti kekeringan dan banjir berpotensi mengganggu produksi pertanian, sehingga inovasi teknologi pertanian dan adaptasi terhadap perubahan iklim dipandang penting untuk menjaga keberlanjutan produksi.
Dalam konteks geopolitik, ketahanan pangan memiliki dimensi strategis. Negara yang mandiri dalam pangan cenderung lebih stabil dan tidak mudah terpengaruh gejolak global, sementara ketergantungan pada impor membuat negara lebih rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan pasokan internasional.
Dengan terus meningkatkan produksi, memperbaiki sistem distribusi, serta memperkuat cadangan pangan nasional, Indonesia dinilai memiliki peluang memperkuat posisinya dalam peta pangan global. Ketahanan pangan pun disebut perlu menjadi prioritas pembangunan agar Indonesia mampu bertahan di tengah ketidakpastian global dan berperan dalam menjaga stabilitas pangan dunia.

