BERITA TERKINI
Analisis Percakapan di X: Sebutan “Abah” Dinilai Lebih Organik Dibanding “AyahBowo”

Analisis Percakapan di X: Sebutan “Abah” Dinilai Lebih Organik Dibanding “AyahBowo”

Sebutan “Abah” dan “AyahBowo” menjadi dua contoh panggilan positif yang sempat beredar di platform X (dulu Twitter) pada periode 24 Desember 2023 hingga 11 Januari 2024. Dalam rentang waktu tersebut, dilakukan penelusuran pola percakapan untuk melihat apakah interaksi yang terjadi cenderung alami atau menunjukkan indikasi tidak natural.

Analisis menggunakan data dari X dengan kata kunci utama “Abah” (tanpa tambahan), karena banyak pengguna hanya menuliskan kata tersebut. Untuk “AyahBowo”, penelusuran dilakukan sesuai penyebutan frasa tersebut. Selain memantau tren kemunculan, kajian juga menyoroti peta jejaring percakapan (social network analysis/SNA), tingkat interaksi, karakteristik pengikut akun, serta sebaran lokasi pengguna.

Dari sisi tren, sebutan “Abah” mulai mendapat perhatian sekitar 30 Desember 2023 dan mencapai puncak interaksi sekitar 2 Januari 2024. Polanya digambarkan menyerupai lonjakan yang bertahap, lalu menurun secara bertahap. Salah satu contoh cuitan yang disorot berasal dari akun @ifrauzt pada 30 Desember 2023, yang menyebut “Abah” dan tercatat memperoleh 7 retweet serta 79 likes.

Sementara itu, tren kemunculan “AyahBowo” dinilai berbeda. Polanya cenderung lebih datar, fluktuasinya dianggap kurang alami, dan setelah 9 Januari 2024 terlihat penurunan yang sangat tajam. Contoh yang disebutkan adalah cuitan akun @agathadew_ pada 9 Januari 2024 yang menyebut “AyahBowo” dan memperoleh 163 retweet serta 207 likes.

Dalam pemetaan jejaring percakapan untuk “Abah”, sampel percakapan pada 30–31 Desember 2023 menunjukkan adanya satu klaster besar yang berisi akun-akun dengan node besar dari kelompok “Netral” dan “Pro Anies”. Jumlah akun yang terlibat dalam percakapan disebut minimal sekitar 60 ribu akun. Kondisi ini ditafsirkan sebagai indikasi adanya interaksi yang lebih natural antarpengguna, karena skala keterlibatan yang besar dinilai sulit dibentuk melalui pola bot.

Untuk menguji apakah percakapan “Abah” berdiri sendiri atau menyatu dengan percakapan yang lebih luas, analisis juga membandingkannya dengan percakapan tentang Capres 01, yang disebut sebagai pihak yang dituju oleh panggilan tersebut. Hasil peta SNA gabungan menunjukkan satu klaster yang sangat besar dan padat. Di dalamnya tampak sekelompok akun Netral yang banyak mendapat retweet membahas “Abah” dan Capres 01, sementara akun-akun Pro Anies lebih banyak membahas Capres 01 namun turut mengamplifikasi percakapan tentang “Abah”. Temuan ini ditafsirkan sebagai irisan engagement yang kuat dan natural antara dua topik tersebut.

Dari daftar akun dengan interaksi tertinggi pada topik “Abah”, disebutkan ada 24 akun teratas, dengan 20 di antaranya memperoleh retweet lebih dari 100. Mayoritas akun tersebut berasal dari kalangan Pro Anies, meski pada awalnya percakapan juga diramaikan oleh kalangan K-popers.

Berbeda dengan itu, pemetaan jejaring percakapan “AyahBowo” menunjukkan total sekitar 8 ribu akun terlibat, namun hanya 6–10 akun yang mendapat retweet tinggi. Untuk melihat apakah pola ini natural, percakapan “AyahBowo” kemudian dibandingkan dengan percakapan tentang Capres 02, yang disebut sebagai pihak yang dituju panggilan tersebut.

Pada peta SNA gabungan “AyahBowo & Capres 02”, percakapan “AyahBowo” dinilai tidak memperoleh engagement dari klaster pengguna yang membahas Capres 02, baik dari subklaster Pro Prabowo, Media, maupun kelompok lain seperti Pro Anies, Pro Ganjar, dan Netral. Meski demikian, disebut ada interaksi lemah dengan sebagian pengguna dari subklaster Pro Prabowo. Kesimpulan analisis menyebut topik “AyahBowo” cenderung eksklusif di kelompok akun tertentu dan tidak menyatu dengan percakapan yang lebih luas tentang Capres 02, berbeda dengan pola pada “Abah” yang menyatu dengan percakapan Capres 01.

Jika dilihat dari akun teratas pada topik “AyahBowo”, dari 24 akun yang paling banyak mendapat interaksi (retweet dan reply), hanya 7 akun yang memperoleh engagement di atas 100, sementara sisanya jauh di bawah angka tersebut.

Perbedaan juga terlihat pada tingkat interaksi. Untuk “Abah”, rata-rata setiap cuitan mendapat sekitar 10 interaksi (reply dan retweet) dan percakapan disebut ramai sepanjang periode. Sebaliknya, “AyahBowo” memiliki tingkat interaksi 0,58, yang diartikan sebagai lebih banyak unggahan awal dibandingkan interaksi yang muncul. Pada 11 Januari, disebutkan sebagian besar cuitan tidak mendapat interaksi, yang dinilai sebagai indikasi percakapan tidak natural.

Dari sisi sebaran jumlah pengikut, percakapan “Abah” lebih banyak dibuat oleh akun dengan jumlah follower lebih tinggi: 24% berasal dari akun dengan follower kurang dari 25, sedangkan 63% dari akun dengan follower di atas 51. Untuk “AyahBowo”, 75% cuitan disebut dibuat oleh akun dengan follower kurang dari 25, yang dalam analisis ini dipandang sebagai salah satu indikasi percakapan yang tidak natural karena kerap terkait akun baru atau akun dengan interaksi rendah.

Analisis sebaran lokasi pengguna juga menunjukkan perbedaan. Pada topik “Abah”, 10 kota asal pengguna teratas disebut semuanya berada di Indonesia, yang ditafsirkan sebagai minat lokal yang kuat. Sementara pada “AyahBowo”, dari 10 kota teratas hanya dua yang berasal dari Indonesia, sedangkan sisanya tersebar di luar negeri seperti Lahore, Sydney, Los Angeles, Dublin, Bangkok, Boston, Edinburgh, dan Calgary, dengan jumlah cuitan yang mirip. Kondisi ini dinilai sebagai indikasi koordinasi serempak lintas negara yang tidak lazim untuk percakapan natural.

Secara keseluruhan, rangkuman analisis menyimpulkan bahwa percakapan dengan sebutan “Abah” menunjukkan karakteristik yang lebih organik—ditandai keterlibatan yang konsisten, jejaring percakapan yang menyatu dengan topik terkait, serta basis pengguna yang terkonsentrasi secara geografis. Sebaliknya, percakapan “AyahBowo” dinilai memperlihatkan sejumlah indikator yang mengarah pada pola tidak natural, seperti tingkat interaksi rendah, dominasi akun dengan pengikut sangat sedikit, serta sebaran lokasi yang tidak lazim.

Rujukan pembahasan tercantum pada tautan berikut: https://twitter.com/ismailfahmi/status/1746391213794894050