BERITA TERKINI
Analisis Ilmiah Relasi Israel–AS: Penulis Ingatkan Bahaya Reduksi Sektarian dalam Diskursus Umat

Analisis Ilmiah Relasi Israel–AS: Penulis Ingatkan Bahaya Reduksi Sektarian dalam Diskursus Umat

Sebuah tulisan di Ranahriau.com menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam membaca relasi Israel dan Amerika Serikat, terutama agar analisis tidak terjebak pada simplifikasi dan bias ideologis. Dalam kerangka kajian Hubungan Internasional, hubungan antarnegara dipahami melalui kepentingan nasional, distribusi kekuatan, institusi, serta konstruksi identitas. Karena itu, relasi Israel–AS dinilai tidak tepat jika direduksi menjadi narasi tunggal, apalagi dijadikan alat untuk mendeligitimasi kelompok intra-Islam seperti Syi’ah maupun Salafi-Wahabi.

Penulis menguraikan tiga kerangka teoretis yang umum digunakan dalam Hubungan Internasional. Dari perspektif realisme, dukungan AS terhadap Israel dipahami sebagai aliansi strategis berbasis kepentingan, di mana Israel diposisikan sebagai mitra geopolitik penting di Timur Tengah dan AS memperoleh pijakan strategis untuk menjaga stabilitas regional serta kepentingan globalnya. Sementara itu, liberalisme menyoroti peran nilai bersama, institusi, dan faktor politik domestik—termasuk lobi politik, opini publik, serta nilai demokrasi yang dianggap sejalan. Adapun konstruktivisme memandang relasi tersebut sebagai hasil konstruksi identitas dan narasi historis, di mana persepsi tentang “sekutu alami” dibentuk oleh sejarah, budaya politik, dan wacana yang berkembang. Ketiga pendekatan itu disebut menunjukkan bahwa relasi Israel–AS bersifat multidimensional.

Dari sisi geopolitik, tulisan tersebut menilai hubungan kedua negara tidak selalu berjalan tanpa friksi. Ada dinamika berupa perbedaan kepentingan dalam kebijakan kawasan, tekanan internasional, dan perubahan kepemimpinan politik. Karena itu, relasi Israel–AS dinilai lebih tepat dipahami sebagai “koalisi dinamis” ketimbang hubungan yang sepenuhnya harmonis. Penulis juga mengingatkan bahwa penyederhanaan kompleksitas ini menjadi narasi konspiratif tunggal berisiko mengabaikan variabel penting seperti ekonomi global, keamanan energi, dan perubahan tatanan internasional.

Penulis kemudian mengkritik kecenderungan mengaitkan relasi Israel–AS dengan perbedaan mazhab dalam Islam. Hal itu disebut sebagai kekeliruan epistemologis atau category error, karena konflik geopolitik antarnegara berada dalam ranah analisis sistem internasional, sedangkan perbedaan Syi’ah dan Salafi-Wahabi merupakan fenomena teologis dan historis dalam konteks internal umat Islam. Pencampuran dua ranah tersebut dinilai tidak akurat secara ilmiah dan berpotensi memicu confirmation bias, yakni kecenderungan memilih informasi secara selektif untuk menguatkan prasangka terhadap kelompok tertentu.

Dari perspektif sosiologi politik, tulisan itu menilai narasi yang menghubungkan konflik global dengan identitas sektarian internal dapat memperdalam fragmentasi sosial. Polarisasi semacam ini disebut berpotensi melemahkan kohesi umat dan mengalihkan perhatian dari isu yang lebih luas, seperti ketidakadilan global dan ketimpangan kekuasaan. Dalam kajian studi konflik, penulis juga menyinggung bahwa strategi divide et impera sering efektif ketika kelompok yang seharusnya memiliki kepentingan bersama justru terjebak konflik internal; dalam konteks ini, reproduksi narasi sektarian dinilai dapat menguntungkan aktor eksternal secara tidak langsung.

Di bagian penutup, penulis menyerukan pemisahan tegas antara analisis geopolitik dan sentimen sektarian. Relasi Israel–AS diminta dipahami sebagai fenomena kompleks dalam sistem internasional, bukan sebagai instrumen untuk menyerang kelompok intra-agama. Menurut tulisan tersebut, upaya memahami konflik global seharusnya diarahkan pada peningkatan literasi geopolitik dan kapasitas analitis, disertai ketelitian berpikir, penggunaan kerangka teori yang tepat, serta kesadaran epistemologis agar tidak terjadi distorsi dalam membaca realitas global.