BERITA TERKINI
Analis: Konflik AS-Israel dan Iran Berisiko Jadi Krisis Global, Harga Minyak Bisa Melonjak

Analis: Konflik AS-Israel dan Iran Berisiko Jadi Krisis Global, Harga Minyak Bisa Melonjak

Konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dinilai berpotensi berkembang menjadi krisis global. Risiko utamanya bukan hanya perang yang berkepanjangan, tetapi juga lonjakan harga energi yang dapat mengguncang perekonomian dunia.

Analis International Crisis Group, Ali Vaez, memperingatkan bahwa pendekatan militer tidak akan menghasilkan solusi jangka panjang. Ia menilai kegagalan diplomasi dan meningkatnya ketidakpercayaan telah mendorong situasi ke arah konflik tanpa jalan keluar yang jelas.

Vaez menilai strategi Presiden AS Donald Trump turut memicu runtuhnya jalur negosiasi. Menurutnya, pendekatan tekanan tanpa kompromi membuat peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran semakin kecil.

“Presiden Trump selalu dikelilingi oleh orang-orang yang memimpin negosiasi, namun mereka tidak memiliki minat untuk mencapai kesepakatan yang serius. Mereka meyakinkan bahwa Iran akan menyerah di bawah tekanan, sehingga tidak perlu ada proses tawar-menawar,” ujar Vaez, dikutip dari Anadolu.

Ia menambahkan, anggapan bahwa Iran akan menerima kesepakatan sepihak dinilai tidak realistis. Keputusan AS keluar dari perjanjian nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) juga disebut merusak kepercayaan dan memperumit upaya diplomasi berikutnya.

“Opsi militer itu bukan solusi,” tegas Vaez.

Menurutnya, Washington kini menghadapi dua pilihan sulit: meredakan konflik atau memperluas eskalasi. Keduanya, kata Vaez, sama-sama mengandung risiko besar.

Jika konflik meluas, salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Vaez menilai dampaknya bisa sangat besar terhadap pasar global.

“Jika itu terjadi, Iran akan membakar infrastruktur energi di seluruh kawasan. Harga minyak bisa melonjak di atas 250 dolar AS per barel atau sekitar Rp4,2 juta, dan kita akan menghadapi kehancuran ekonomi global,” ujarnya.

Lonjakan tersebut, menurut Vaez, berpotensi memicu krisis energi sekaligus meningkatkan tekanan inflasi secara global.

Vaez juga menilai serangan militer tidak akan mampu menghapus kemampuan nuklir Iran, karena pengetahuan teknologi tidak bisa dihancurkan hanya lewat serangan fisik. “Iran telah menguasai teknologi pengayaan nuklir. Itu adalah ilmu pengetahuan yang tidak bisa dihapus dari pikiran para ilmuwan Iran,” katanya.

Selain itu, ia memperingatkan konflik ini dapat melemahkan rezim non-proliferasi nuklir global. Serangan terhadap negara yang tidak memiliki senjata nuklir, menurutnya, justru dapat mendorong negara lain mengembangkan senjata serupa sebagai langkah perlindungan.

“Iran diserang karena tidak memiliki senjata nuklir. Jadi, mengapa Korea Utara harus mau bernegosiasi soal nuklir?” ujar Vaez.

Ia menambahkan, kondisi tersebut berisiko mendorong lebih banyak negara mempertimbangkan senjata pemusnah massal dan dalam jangka panjang dapat mempercepat perlombaan senjata global.

Di sisi lain, Vaez menilai negara-negara Teluk berada dalam posisi sulit. Mereka bergantung pada perlindungan militer AS, namun secara geografis tidak dapat menghindari kedekatan dengan Iran.

Menurut Vaez, tidak ada pihak yang benar-benar menang dalam konflik ini. AS, Israel, dan Iran sama-sama menanggung biaya besar tanpa hasil yang menentukan. “Semakin lama perang ini berlangsung, semakin tinggi biaya dan risiko bagi semua pihak, termasuk dunia. Gencatan senjata mungkin terlihat tidak menarik, tetapi itu adalah pilihan terbaik yang tersedia,” ujarnya.