BERITA TERKINI
Analis: Gejolak Minyak 2026 Akibat Hormuz Berbeda dengan Krisis 1973

Analis: Gejolak Minyak 2026 Akibat Hormuz Berbeda dengan Krisis 1973

Gejolak di pasar minyak dan gas (migas) global yang dipicu penutupan jalur perdagangan di Selat Hormuz dinilai memiliki sejumlah perbedaan dibanding krisis minyak 1973. Pandangan ini disampaikan analis komoditas yang menilai perubahan peta pasokan energi dunia membuat dampak gangguan pasokan saat ini tidak sama seperti beberapa dekade lalu.

Presiden Komisioner HFX Internasional Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan krisis 1973 mendorong negara-negara di dunia mengambil berbagai langkah untuk mengamankan pasokan energi. Menurutnya, sebelum 1973 dunia sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah atau Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), sementara pada masa itu Amerika Serikat (AS) masih berstatus sebagai importir minyak mentah.

Sutopo menilai situasi kini berbeda karena peta kekuatan energi telah berubah. AS disebut telah menjadi produsen minyak mentah terbesar. Selain itu, kehadiran minyak serpih (shale oil) serta produksi dari negara-negara non-OPEC dinilai memberi bantalan bagi pasokan minyak dunia.

Dengan perubahan tersebut, Sutopo berpendapat embargo atau gangguan pasokan dari satu wilayah tidak lagi memiliki daya rusak yang sama terhadap ekonomi global seperti pada masa krisis 1973. “Artinya, embargo satu wilayah tidak lagi memiliki daya rusak ‘mematikan’ yang sama terhadap ekonomi global,” kata Sutopo saat dihubungi, Senin (30/3/2026).