Ketidakpastian geopolitik global meningkat seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang ikut memengaruhi stabilitas pasar keuangan dunia. Penutupan efektif Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang menyalurkan sekitar 20 juta barel minyak per hari—dinilai meningkatkan risiko geopolitik sekaligus memicu volatilitas di pasar global.
Allianz Global Investors (AllianzGI) Indonesia menilai situasi tersebut berpotensi menekan perekonomian Indonesia dan negara berkembang lainnya dalam jangka pendek, terutama melalui kenaikan biaya energi serta menguatnya sentimen risk-off di pasar keuangan.
Meski demikian, AllianzGI Indonesia berpandangan fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. President Director AllianzGI Indonesia Aliyahdin (Adi) Saugi mengatakan, meskipun ketidakpastian global meningkat, prospek investasi jangka panjang Indonesia tetap menarik.
Menurut Adi, volatilitas eksternal dapat memicu koreksi pasar sesekali. Namun, ia menilai fondasi ekonomi domestik masih solid, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, iklim investasi yang semakin membaik, serta pembangunan infrastruktur yang terus berlanjut. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).
Dalam menghadapi dinamika pasar, AllianzGI Indonesia menyatakan menerapkan pendekatan pengelolaan portofolio yang berhati-hati namun tetap oportunistik. Strategi investasinya difokuskan pada diversifikasi portofolio, manajemen risiko yang disiplin, serta pemilihan sektor dan emiten secara selektif.
Adi menyebut pihaknya memprioritaskan perusahaan dengan profil pendapatan yang tangguh, arus kas kuat, neraca keuangan sehat, serta kemampuan mempertahankan pembayaran dividen. Karakteristik tersebut dinilai dapat membantu memberikan perlindungan ketika kinerja pasar melemah di tengah periode ketidakpastian global.
Di sisi lain, AllianzGI Indonesia juga secara selektif memanfaatkan peluang yang muncul akibat dislokasi pasar. Fokus investasi diarahkan pada sektor yang diuntungkan oleh kuatnya permintaan domestik, memiliki model bisnis yang efisien dalam penggunaan energi, serta sektor yang memiliki pricing power.
Adi menambahkan, melalui proses investasi yang disiplin dan aktif, AllianzGI berupaya menjaga ketahanan portofolio sekaligus tetap siap menangkap peluang ketika kondisi pasar mulai stabil dan volatilitas mereda.
Dari perspektif global, AllianzGI menilai gangguan jalur energi dan produksi di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, telah memperketat pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga energi.
Tim CIO AllianzGI menyampaikan bahwa dalam skenario dasar mereka, pasar energi diperkirakan tetap ketat namun masih dapat dikelola. Meski begitu, gangguan pasokan yang berkepanjangan dinilai menjadi risiko utama bagi pertumbuhan ekonomi dan inflasi.
Selain itu, risiko kerusakan infrastruktur energi juga meningkat selama konflik berlangsung dan berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kapasitas produksi energi di kawasan tersebut. Jika gangguan berlangsung lebih lama, pasokan energi global diperkirakan akan semakin ketat.
Tim CIO AllianzGI juga menyatakan telah melakukan penyesuaian taktis terhadap preferensi kelas aset di tengah ketidakpastian yang tinggi, namun tetap mempertahankan pandangan yang konstruktif terhadap lingkungan risiko secara keseluruhan.

