Aliansi Mahasiswa Indonesia menggelar diskusi publik dan buka puasa bersama bertema “Perang AS-Israel vs Iran Memanas! Mengukur Risiko Geopolitik dan Dampaknya bagi Kepentingan Nasional Indonesia”. Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat (06/3/2026) di Wisma Kementerian Agama, Jakarta, dengan menghadirkan sejumlah tokoh mahasiswa nasional sebagai narasumber.
Forum ini membahas dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah yang dinilai kian memanas, sekaligus menyoroti potensi dampaknya terhadap stabilitas global dan kepentingan nasional Indonesia. Selain itu, diskusi menjadi ruang dialog mahasiswa lintas organisasi untuk memperkuat komitmen menjaga persatuan bangsa di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
Narasumber pertama, Presidium Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama se-Nusantara (BEM PT NU) Achmad Baha’ur Rifqi, meninjau konflik dari perspektif dunia Islam. Ia menilai konflik AS-Israel dan Iran memiliki akar sejarah serta dinamika politik yang panjang di kawasan Timur Tengah.
Ia juga mengingatkan bahwa narasi konflik Timur Tengah kerap memengaruhi emosi umat di berbagai negara. Karena itu, menurutnya, respons terhadap isu global perlu dilakukan secara bijak agar tidak memicu perpecahan di dalam negeri.
“Solidaritas terhadap isu global, khususnya yang menyangkut kemanusiaan dan dunia Islam, tentu penting. Namun kita harus memastikan bahwa solidaritas tersebut tidak dimanfaatkan untuk memecah persatuan bangsa. Persatuan Indonesia harus tetap menjadi prioritas utama,” ujar Achmad.
Sementara itu, Koordinator Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa Kristiani Seluruh Indonesia (BEM KSI) Charles Gilbert menekankan potensi konflik global memicu polarisasi identitas apabila tidak disikapi secara bijak di ruang publik. Ia menyoroti maraknya propaganda digital dan perang narasi di media sosial yang, menurutnya, kerap memanfaatkan isu konflik global untuk membangun sentimen keagamaan dan identitas tertentu.
“Konflik global tidak boleh dijadikan alat untuk membenturkan kelompok agama di Indonesia. Justru mahasiswa lintas iman harus menjadi garda terdepan dalam menjaga kewarasan ruang publik, memperkuat dialog, dan merawat persatuan bangsa,” kata Charles.
Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Visioner Indonesia (PMVI) Angga Febrinda menilai konflik tersebut juga perlu dilihat dari perspektif kepentingan nasional Indonesia. Ia menyebut eskalasi konflik berpotensi memengaruhi stabilitas global yang pada akhirnya berdampak pada sektor ekonomi, energi, hingga keamanan nasional.
Angga menambahkan Indonesia perlu konsisten menjalankan prinsip politik luar negeri bebas dan aktif serta mengambil peran dalam mendorong perdamaian dunia. “Indonesia harus mampu membaca dinamika geopolitik global secara strategis. Di tengah konflik yang semakin kompleks, Indonesia memiliki peluang untuk tampil sebagai jembatan diplomasi dan kekuatan moral yang mendorong dialog serta perdamaian,” ujarnya.
Diskusi dipandu Sekretaris Nasional BEM PT NU Arip Muztabasani. Dalam penutup, ia menegaskan pentingnya peran mahasiswa untuk menjaga keseimbangan antara kepedulian pada isu global dan tanggung jawab merawat persatuan bangsa.
“Mahasiswa harus mampu melihat persoalan global secara kritis dan rasional. Kepedulian terhadap konflik internasional penting, tetapi kita juga memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi ruang persatuan yang damai di tengah dinamika dunia,” kata Arip.
Kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama yang disebut sebagai simbol kebersamaan dan solidaritas lintas organisasi mahasiswa. Para peserta berharap diskusi dapat menjadi ruang refleksi sekaligus memperkuat peran mahasiswa dalam menjaga persatuan, toleransi, dan stabilitas nasional di tengah dinamika geopolitik global.

