BERITA TERKINI
Aksi Jual Obligasi Global dan Kenaikan Harga Minyak Membebani Pasar Asia

Aksi Jual Obligasi Global dan Kenaikan Harga Minyak Membebani Pasar Asia

Aksi jual di pasar surat utang global diperkirakan meluas ke kawasan Asia, seiring lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong imbal hasil Treasury AS jangka panjang ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Kondisi ini juga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Tekanan pada awal perdagangan regional terlihat pada obligasi pemerintah Australia dan Selandia Baru bertenor 10 tahun yang melemah. Di Jepang, kontrak berjangka mengindikasikan potensi penurunan harga surat utang, sementara imbal hasil indeks obligasi global menyentuh 4% untuk pertama kalinya sejak 2007.

Perkembangan tersebut menyusul aksi jual yang sebelumnya mendorong imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun ke level tertinggi sejak 2004. Pada saat yang sama, imbal hasil tenor 10 tahun naik 8 basis poin menjadi 5,20%.

Tekanan pasar bertambah setelah hasil operasi pembelian kembali (buyback) Treasury yang diperluas dinilai berada di bawah ekspektasi investor. Di sisi lain, harga minyak mentah Brent yang ditutup pada US$106,60 per barel tetap menjadi sumber beban utama bagi pasar.

Meski begitu, pasar mendapat sedikit kelegaan setelah minyak mentah AS turun tipis. Penurunan terjadi ketika negosiator Amerika Serikat dan Iran mengeksplorasi kesepakatan bertahap untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mencabut blokade pelabuhan.

Di pasar valuta, indeks Dolar AS mempertahankan penguatannya di level yang terakhir terlihat pada Juli. Sementara itu, harga emas tercatat turun tipis ke kisaran US$4.271 per troy ounce.

Saham-saham Asia diperkirakan dibuka dengan sikap hati-hati setelah bursa AS memangkas kerugian sebelumnya. Pasar swap kini sepenuhnya memperhitungkan tiga kenaikan suku bunga tambahan, masing-masing 25 basis poin, dalam satu tahun ke depan.

Prospek pengetatan moneter tersebut mendorong imbal hasil Treasury jangka panjang mencetak rekor baru sekaligus memperbesar tekanan terhadap valuasi saham. Kenaikan imbal hasil terbaru juga memperpanjang penyesuaian harga (re-pricing) yang tajam sejak dimulainya konflik AS-Iran.

Byron Anderson dari Laffer Tengler Investments menilai pasar berada dalam posisi yang kuat untuk menghadapi imbal hasil yang lebih tinggi. Namun ia mengingatkan, kenaikan suku bunga tidak serta-merta menyelesaikan persoalan yang terkait Iran, minyak, ledakan AI, maupun inflasi, dan justru dapat meningkatkan biaya pinjaman yang pada akhirnya menekan tenaga kerja serta konsumen jika The Fed bertindak agresif.

Aksi jual obligasi tercatat sebagai penurunan harian terbesar sejak kebijakan tarif diluncurkan pada April 2025. Imbal hasil Treasury tenor dua tahun dilaporkan melonjak lebih dari 150 basis poin, sedangkan tenor 30 tahun meningkat melebihi 80 basis poin.

Di tengah gejolak, sejumlah pejabat bank sentral AS kembali menyoroti risiko inflasi. Presiden Federal Reserve Philadelphia Anna Paulson mengatakan kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke target. Presiden Federal Reserve New York John Williams juga menyatakan bank sentral masih memiliki banyak pekerjaan untuk meredakan tekanan harga.

Angelo Kourkafas dari Edward Jones menilai, meski pertumbuhan ekonomi yang solid dan fundamental perusahaan yang sehat menunjukkan suku bunga belum cukup restriktif untuk menggagalkan ekspansi, kenaikan imbal hasil yang cepat serta tingginya volatilitas pasar obligasi dapat menjadi hambatan yang semakin berarti bagi saham.