Guru Besar Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang Prof. Henry Indraguna menilai diplomasi energi yang dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Jepang telah memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan ekosistem energi global.
Henry menyebut Indonesia kini tidak lagi sekadar menjadi objek, melainkan aktor yang aktif menentukan kepentingannya sendiri. Ia juga menilai langkah tersebut sebagai upaya mendekonstruksi narasi lama yang menempatkan negara berkembang hanya sebagai pemasok bahan mentah, sekaligus mendorong Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global.
“Indonesia tidak lagi menjadi objek dalam relasi kuasa global, namun menjadi subjek yang aktif mendefinisikan kepentingannya sendiri,” kata Henry dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis. Ia menambahkan, langkah itu menunjukkan kemampuan hukum nasional beradaptasi dengan standar internasional tanpa kehilangan jati diri konstitusional.
Pernyataan Henry disampaikan terkait kunjungan Bahlil ke Tokyo, Jepang, pada pertengahan Maret 2026. Dalam kunjungan tersebut, Indonesia memperkuat kerja sama strategis di sektor energi dan mineral dengan pemerintah Jepang.
Dalam pertemuan dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Ryosei Akazawa, Bahlil menyepakati dua nota kesepahaman (MoU) yang mencakup penguatan rantai pasok mineral kritis serta pengembangan teknologi nuklir rendah karbon.
Selain itu, Bahlil mendorong percepatan investasi migas oleh Inpex Corporation pada Proyek Gas Lapangan Abadi Blok Masela dengan nilai mencapai Rp339 triliun. Proyek tersebut dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Pemerintah Indonesia juga menawarkan pengelolaan bersama sejumlah komoditas strategis kepada Jepang, meliputi nikel, bauksit, tembaga, hingga logam tanah jarang yang dinilai penting dalam transisi energi global.
Kerja sama kedua negara turut diperluas ke sektor batu bara, gas alam cair (LNG), serta proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC). Sejumlah proyek yang menjadi fokus antara lain penyelesaian PLTSa Legok Nangka dan optimalisasi PLTP Sarulla.
Dari perspektif ekonomi modern, Henry menilai langkah tersebut sejalan dengan konsep pertumbuhan endogen yang menekankan pentingnya investasi pada teknologi dan sumber daya manusia. Menurutnya, upaya mengamankan teknologi nuklir dan hilirisasi nikel dapat mendorong pertumbuhan melalui nilai tambah yang berkelanjutan.
Henry juga menilai integrasi investasi Jepang dalam struktur industri nasional berpotensi membentuk ekosistem ekonomi yang lebih tangguh terhadap tekanan eksternal. Kepastian hukum dalam proyek strategis seperti Blok Masela, menurutnya, dapat menjadi sinyal positif bagi investor global bahwa Indonesia merupakan mitra yang kredibel.
Secara yuridis, Henry menekankan implementasi nota kesepahaman perlu dikawal agar tetap sejalan dengan kepentingan nasional. Ia menilai kerja sama internasional semestinya memberikan manfaat yang adil dan berkelanjutan, termasuk dalam pemanfaatan sumber daya alam yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga mendukung kemandirian energi.
Henry meyakini penguatan posisi Indonesia di kawasan Indo-Pasifik melalui diplomasi energi tersebut dapat menjadi fondasi penting untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat kekuatan energi baru pada masa depan.

