Akademi Keuangan Vietnam akan berpartisipasi untuk pertama kalinya dalam Pameran Pendidikan Internasional Asia-Pasifik (APAIE) 2026 yang digelar di Hong Kong, Tiongkok. Direktur Akademi Keuangan, Profesor Madya Dr. Nguyen Dao Tung, menilai keikutsertaan ini berlangsung dalam momentum penting karena Vietnam untuk pertama kalinya menghadirkan paviliun nasional di ajang tersebut.
Menurut Nguyen Dao Tung, kehadiran paviliun nasional menandai perubahan dari partisipasi yang sebelumnya lebih bersifat individual oleh masing-masing lembaga pendidikan menjadi kehadiran tingkat negara yang lebih sistematis, profesional, dan memiliki arah strategis yang jelas.
Ia menjelaskan, APAIE dikenal sebagai salah satu forum pendidikan internasional terbesar dan bergengsi. Selain menjadi wadah jejaring dan kolaborasi, forum ini juga dimanfaatkan untuk pertukaran kebijakan serta berbagi tren internasionalisasi pendidikan tinggi, pendidikan lintas batas, dan arah pembangunan berkelanjutan.
Nguyen Dao Tung menilai, langkah Vietnam berpartisipasi secara proaktif dan menyelenggarakan paviliun nasional menunjukkan tekad untuk terintegrasi lebih dalam ke ruang pendidikan global, sekaligus meningkatkan daya saing dan posisi pendidikan tinggi Vietnam. Ia juga menekankan pentingnya dialog dua arah, yakni tidak hanya memamerkan kapasitas, tetapi juga menyerap pembelajaran dari mitra internasional terkait manajemen universitas, transformasi digital, dan internasionalisasi.
Dalam partisipasi perdananya, Akademi Keuangan membawa tiga nilai inti. Pertama, menampilkan kapasitas pelatihan dan penelitian di bidang keuangan, akuntansi, audit, administrasi bisnis, dan ekonomi digital. Ia menyebut sektor-sektor tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan dinamika ekonomi global.
Di tengah tren transformasi digital dan keuangan berkelanjutan, Akademi Keuangan mengarahkan pengembangan program ke area seperti keuangan hijau, tata kelola yang transparan, serta penerapan teknologi dalam keuangan dan akuntansi.
Kedua, Akademi akan memperkenalkan program pelatihan berkualitas tinggi, kurikulum berbahasa Inggris, serta model kerja sama internasional yang telah diterapkan. Pada saat yang sama, institusi ini juga mencari peluang memperluas pertukaran mahasiswa dan dosen, serta kolaborasi riset.
Nguyen Dao Tung menyatakan, internasionalisasi dipahami tidak hanya sebatas pelatihan kolaboratif, tetapi juga memasukkan unsur internasional secara langsung ke dalam lingkungan akademik domestik, sehingga secara bertahap membangun ruang pembelajaran multikultural.
Ketiga, Akademi Keuangan ingin menegaskan perannya sebagai lembaga pelatihan utama di bidang keuangan publik dan keuangan perusahaan, sekaligus memberi kontribusi praktis dalam perencanaan kebijakan dan pengembangan sumber daya manusia berkualitas tinggi. Selain pendidikan, Akademi menargetkan penguatan kelompok riset khusus dan peningkatan publikasi internasional agar standar akademiknya semakin mendekati tingkat kawasan dan global.
Adapun pesan yang ingin disampaikan Akademi Keuangan melalui ajang ini adalah komitmen untuk proaktif terhubung dengan pengetahuan keuangan global, melatih sumber daya manusia berkualitas tinggi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan berkelanjutan dan transformasi digital, serta menjadi mitra yang dapat diandalkan dalam jejaring kerja sama akademik regional.
Terkait upaya menarik investasi dalam pelatihan dan memastikan kesiapan kerja lulusan, Nguyen Dao Tung menyebut Akademi telah menjalankan sejumlah langkah untuk memperkuat keterhubungan antara pendidikan dan kebutuhan pasar tenaga kerja sekaligus mendiversifikasi sumber daya pengembangan.
Pertama, Akademi memperluas kerja sama strategis dengan perusahaan, bank, firma audit, serta pelaku bisnis di bidang keuangan dan akuntansi untuk mengembangkan program pelatihan berbasis aplikasi yang diperbarui sesuai standar profesional internasional dan kebutuhan praktis dunia usaha. Dalam model “kolaborasi” yang dikembangkan, pihak bisnis terlibat mulai dari penyusunan konten, pengajaran khusus, hingga penilaian kompetensi.
Kedua, Akademi memperkuat model pelatihan yang terkait erat dengan praktik, menstandarkan keterampilan profesional, serta membuka peluang bagi mahasiswa untuk merasakan lingkungan kerja nyata selama masa studi. Ia menilai aspek ini penting untuk meningkatkan kemampuan adaptasi mahasiswa di pasar kerja yang kompetitif dan terintegrasi.
Ketiga, Akademi mendorong program pelatihan bersama internasional, program gelar, dan kolaborasi riset untuk memperluas peluang karier mahasiswa sekaligus meningkatkan daya tarik institusi bagi mitra luar negeri.
Keempat, Akademi membangun ekosistem inovasi dan kewirausahaan di lingkungan kampus dengan menjalin hubungan bersama dana investasi, dunia usaha, dan jaringan alumni. Langkah ini ditujukan untuk mendukung mahasiswa mengembangkan pola pikir kreatif, keterampilan profesional, dan peluang kerja.
Di sisi riset, Akademi juga mempelajari model kolaborasi sains dan teknologi serta konsultasi kebijakan guna meningkatkan nilai tambah dari kegiatan penelitian. Ke depan, institusi ini berencana melanjutkan transformasi digital dalam tata kelola dan pelatihan, mengembangkan program yang memenuhi standar akreditasi internasional, meningkatkan kualitas riset, dan memperluas kerja sama akademik dengan mitra asing.
Nguyen Dao Tung menegaskan, upaya menarik investasi berkelanjutan di bidang pendidikan perlu bertumpu pada reputasi akademik, kualitas pelatihan, dan mekanisme tata kelola yang transparan. Ia menyebut tujuan Akademi adalah membantu memastikan penempatan kerja bagi mahasiswa serta melahirkan profesional yang kompeten, adaptif, berwawasan global, dan bertanggung jawab terhadap pembangunan berkelanjutan.

