Isu krisis energi dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah negara disebut belum berdampak signifikan terhadap minat masyarakat Indonesia untuk membeli sepeda motor listrik. Pelaku industri menilai masih diperlukan waktu dan momentum yang lebih tepat untuk melihat apakah isu tersebut benar-benar mengubah perilaku konsumen.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) Budi Setiyadi mengatakan, isu kenaikan harga bensin yang ramai belakangan ini muncul berdekatan dengan periode Lebaran. Menurutnya, pada masa tersebut fokus masyarakat cenderung tertuju pada kebutuhan dan konsumsi hari raya.
“Ini kan ribut-ribut tentang bensin mahal baru dua mingguan. Dan kebetulan momentumnya bersamaan dengan Lebaran, di saat orang fokus mikirin konsumsi untuk itu,” kata Budi, Kamis (26/3/2026).
Budi menilai, penilaian dampak isu tersebut terhadap penjualan kendaraan listrik menjadi kurang relevan jika dilakukan dalam waktu dekat. Aktivitas belanja masyarakat pada periode Lebaran juga dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi normal.
“Mungkin setelah beberapa waktu, setelah minggu depan, baru kita lihat evaluasi. Karena satu minggu ini tidak efektif untuk menilai perubahan perilaku masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, hingga kini belum terlihat dorongan kuat yang membuat masyarakat beralih dari motor berbahan bakar minyak ke motor listrik. Salah satu faktornya, kata dia, belum ada kebijakan kenaikan harga BBM dari pemerintah yang menjadi perhatian utama publik.
“Kalau menurut saya sih mungkin ada efek, tapi tidak signifikan. Karena sekarang juga belum ada isu kenaikan harga BBM yang benar-benar jadi perhatian utama,” ungkapnya.
Menurut Budi, isu yang sempat berkembang di masyarakat sebelumnya lebih banyak terkait asal pasokan BBM, bukan mengenai kelangkaan atau kenaikan harga. Karena itu, dampaknya terhadap konsumsi dinilai tidak besar.
“Yang ramai kemarin itu soal BBM dari Singapura atau Malaysia, bukan soal kenaikan harga atau kelangkaan. Jadi dampaknya ke konsumsi tidak besar,” jelasnya.
Di sisi lain, Budi menyebut pemerintah tengah mendorong program konversi motor listrik dalam skala besar. Namun, pelaksanaannya masih menunggu kejelasan arah kebijakan dan target yang lebih konkret.
Ia juga mengatakan dirinya dijadwalkan mempresentasikan kesiapan industri sepeda motor listrik di hadapan Dewan Ekonomi Nasional dalam waktu dekat.
“Kalau pemerintah nanti benar-benar membuat kebijakan konversi, kami diminta untuk mempresentasikan kesiapan industri sepeda motor listrik,” katanya.
Budi menilai evaluasi yang lebih akurat terkait dampak isu BBM terhadap minat motor listrik baru dapat dilakukan setelah aktivitas masyarakat kembali normal pasca Lebaran.

