AirNav Indonesia ditunjuk International Civil Aviation Organization (ICAO) sebagai Chairperson of APAC Project 30/10 Task Force untuk memimpin implementasi peningkatan efisiensi ruang udara di kawasan Asia Pasifik. Penunjukan tersebut menempatkan Indonesia pada peran strategis dalam koordinasi pengelolaan ruang udara lintas negara di kawasan.
Direktur Operasi AirNav Indonesia, Setio Anggoro, yang ditunjuk dalam forum tersebut, mengatakan mandat itu mencerminkan kepercayaan negara-negara Asia Pasifik terhadap kapasitas Indonesia dalam memimpin koordinasi di sektor navigasi penerbangan. “Ini mencerminkan kepercayaan negara-negara di kawasan terhadap kapasitas Indonesia dalam memimpin koordinasi lintas negara di sektor navigasi penerbangan,” ujar Setio dalam keterangan resmi, Minggu (3/5/2026).
Menurut Setio, penunjukan ini turut menegaskan kepercayaan internasional terhadap kapasitas Indonesia dalam mendukung implementasi transformasi navigasi udara, khususnya di kawasan Asia Pasifik.
APAC Project 30/10 Task Force merupakan bagian dari implementasi Project 30/10, sebuah inisiatif global ICAO yang bertujuan meningkatkan efisiensi pengelolaan ruang udara melalui optimalisasi pengaturan jarak antarpesawat (separation minima) dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan.
Dalam proses pemilihan, AirNav Indonesia dinominasikan oleh Malaysia dan mendapat dukungan anggota ICAO Asia Pasifik lainnya, termasuk Mongolia, Pakistan, Singapura, dan Thailand.
Setio menjelaskan, selama beberapa dekade terakhir peningkatan kapasitas penerbangan umumnya bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik seperti bandara dan landasan pacu. Melalui Project 30/10, pendekatan tersebut mulai bergeser ke arah optimalisasi sistem.
Ia menambahkan, efisiensi operasional menjadi faktor penting untuk menjaga kinerja dan daya saing industri penerbangan. Namun, implementasi kebijakan di Asia Pasifik menghadapi tantangan karena perbedaan tingkat kesiapan teknologi, regulasi, serta karakteristik ruang udara antarnegara.
“Implementasi program ini membutuhkan pendekatan kolaboratif antarnegara dengan tingkat kesiapan yang berbeda. Fokusnya adalah memastikan efisiensi dapat dicapai tanpa mengurangi aspek keselamatan,” kata Setio.
ICAO saat ini juga menaruh perhatian pada efisiensi operasional dan agenda keberlanjutan. Optimalisasi ruang udara yang mendukung pengelolaan penerbangan secara lebih efisien dinilai dapat berkontribusi terhadap peningkatan kinerja lingkungan di sektor aviasi.
Selain memimpin task force, AirNav Indonesia juga ditunjuk menjadi tuan rumah pertemuan perdana APAC Project 30/10 Task Force di Tangerang, Banten, pada 16–18 Juni 2026. Dalam laporan pelaksanaan Kick Off Meeting of the APAC Project 30/10 Task Force (AP30-10/TF/1), Sekretariat ICAO menyampaikan apresiasi atas kesediaan AirNav Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan tersebut.
Agenda pertemuan mencakup pembahasan sejumlah isu serta rencana kunjungan peserta ke Jakarta Air Traffic Control Centre (JATSC) yang dikelola AirNav Indonesia. Setio mengatakan kunjungan itu berkaitan dengan implementasi sistem baru AirNav Indonesia, yakni ATMAS (Air Traffic Management Automation System), yang digunakan untuk meningkatkan kualitas sistem pelayanan navigasi nasional. “AirNav Indonesia baru saja mengimplementasikan sistem baru, yaitu ATMAS (Air Traffic Management Automation System) untuk meningkatkan kualitas sistem pelayanan navigasi nasional. Mereka ingin melihat ini,” ujarnya.