Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan transformasi struktural dan penguatan integrasi ekonomi kawasan menjadi agenda utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Asia-Pasifik yang inklusif di tengah dinamika global yang terus berubah. Menurutnya, sinergi kebijakan publik dan peran dunia usaha diperlukan agar transformasi ekonomi berjalan efektif serta memberi manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Airlangga dalam opening remarks pada Opening Ceremony APEC Business Advisory Council (ABAC) Meeting I 2026 di Jakarta, Sabtu (7/2). Ia menilai kondisi global saat ini menuntut lebih dari sekadar pemulihan ekonomi, melainkan perubahan yang bersifat fundamental.
“Kita berkumpul pada momen yang sangat penting, ketika lanskap ekonomi global menuntut lebih dari sekadar pemulihan, tetapi juga transformasi mendasar. Dalam upaya mempercepat pertumbuhan inklusif regional melalui reformasi struktural, kita harus menyadari bahwa kekuatan utama kita terletak pada integrasi,” ujar Airlangga.
Dalam forum tersebut, Airlangga menyampaikan ketahanan ekonomi Indonesia dibangun melalui penerapan kebijakan yang kuat, kredibel, dan dijalankan secara konsisten. Ia menyebut pada kuartal IV-2025 perekonomian Indonesia tumbuh 5,39 persen (year on year), sementara sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan 5,11 persen. Capaian itu, menurutnya, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kinerja ekonomi terbaik di kawasan APEC.
“Ketahanan ekonomi Indonesia bukan terjadi secara kebetulan, melainkan dibangun melalui kebijakan yang kuat dan kredibel untuk memastikan pertumbuhan yang inklusif serta sejalan dengan agenda reformasi,” tegasnya.
Airlangga juga menyampaikan pertumbuhan ekonomi tersebut berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia menyebut tingkat kemiskinan turun hingga 8,5 persen, pengangguran menurun menjadi 4,9 persen, ketimpangan membaik, dan Indeks Pembangunan Manusia terus meningkat. Menurutnya, capaian ini didukung bauran kebijakan yang terkoordinasi, penguatan sinergi lintas sektor, serta komunikasi kebijakan yang konsisten.
Terkait kerja sama kawasan, Airlangga menjelaskan Agenda Reformasi Struktural APEC 2026–2030 difokuskan pada penguatan persaingan usaha yang adil, perbaikan iklim bisnis, serta percepatan inovasi dan digitalisasi, termasuk pemberdayaan pelaku ekonomi. Ia menyebut agenda tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, ketahanan, dan kemakmuran bersama, sejalan dengan komitmen terhadap sistem perdagangan multilateral yang terbuka dan inklusif di bawah naungan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Menutup sambutannya, Airlangga menekankan pentingnya memperkuat sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. “Pertemuan ini menegaskan bahwa sinergi yang lebih erat antara pemerintah dan kepemimpinan dunia usaha merupakan kunci untuk menavigasi tantangan dekade ini. Mari kita wujudkan gagasan-gagasan yang dibahas menjadi cetak biru dan langkah konkret, agar Asia-Pasifik tetap menjadi motor utama pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan di dunia,” pungkasnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Chair ABAC Li Fanrong, Chair APEC Senior Officials’ Meeting (SOM) Chen Xu, Chairman ABAC Indonesia Anindya Novyan Bakrie, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi, serta para pejabat senior APEC, anggota ABAC, dan delegasi ABAC Meeting I 2026.

