Pemerintah menyatakan ekonomi Indonesia tetap tumbuh di tengah perlambatan global dan menilai terdapat ruang ekspansi untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perekonomian dunia diproyeksikan stagnan di kisaran 3 persen.
Dalam forum Indonesia Economic Outlook di Wisma Danatara, Jumat (13/2/2026), Airlangga menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 tercatat 5,11 persen secara tahunan (year-on-year). Menurut dia, capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan terbesar kedua di G20 pada periode itu, setelah India yang mencatat 7,4 persen.
Airlangga memaparkan, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,98 persen. Ia menilai kinerja tersebut mencerminkan stimulus yang tepat sasaran, stabilitas harga, serta peningkatan mobilitas masyarakat pada periode Natal dan Tahun Baru.
Dari sisi investasi, pertumbuhan tercatat 5,09 persen. Ia juga menyampaikan belanja modal pemerintah melonjak 44,2 persen dan menjadi pendorong utama pada akhir tahun. Secara keseluruhan, belanja pemerintah pada kuartal IV 2025 tumbuh 4,55 persen dan disebut berperan sebagai peredam risiko perlambatan global.
Di sektor eksternal, ekspor tumbuh 7,03 persen. Airlangga mengatakan kenaikan nilai dan volume ekspor, serta peningkatan kunjungan wisatawan sebesar 10 persen turut menopang kinerja tersebut. Ia menambahkan, sektor transportasi, pergudangan, akomodasi, serta makan dan minum tumbuh di atas 7 persen. Sepanjang 2025, mobilitas wisatawan domestik tercatat mencapai 1,2 miliar perjalanan.
Untuk 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen dengan potensi hingga 5,6 persen. Dalam jangka menengah, target pertumbuhan diarahkan ke 8 persen. Airlangga menggambarkan target itu sebagai fase “take off” yang diharapkan terjadi dalam dua tahun ke depan.
Ia menyebut pemerintah menyiapkan reformasi struktural berkelanjutan guna mendukung target tersebut. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong melalui belanja negara, investasi swasta, dan penguatan pembiayaan non-APBN. Dari sisi permintaan, konsumsi domestik dan ekspor disebut menjadi penopang.
Airlangga juga menekankan perlunya reformasi pasar keuangan agar lebih dalam dan likuid, serta pembukaan akses ekspor melalui perjanjian perdagangan. Ia mencontohkan akses pasar tekstil yang lebih luas dinilai berpotensi meningkatkan ekspor hingga 10 kali lipat dalam 10 tahun.
Di tengah proyeksi pertumbuhan global 2,9 hingga 3,1 persen pada 2026, pemerintah menilai ekonomi domestik masih memiliki ruang ekspansi dan menyiapkan arah kebijakan jangka menengah untuk mengejar target pertumbuhan 8 persen.

