BERITA TERKINI
Airlangga Paparkan Skenario Dampak Harga Minyak dan Kurs ke Defisit APBN 2026

Airlangga Paparkan Skenario Dampak Harga Minyak dan Kurs ke Defisit APBN 2026

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan sejumlah skenario untuk menghadapi potensi kenaikan harga minyak mentah dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.

Airlangga menyebut, dalam skenario terburuk defisit APBN berpotensi menembus lebih dari 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Padahal, dalam asumsi makro APBN 2026 pemerintah menetapkan harga minyak mentah dunia (Indonesia Crude Price/ICP) sebesar 70 dolar AS per barel dan nilai tukar rupiah Rp16.500 per dolar AS.

Ia menjelaskan, selisih harga minyak Brent dengan ICP biasanya sekitar 3 dolar AS per barel. Pemerintah, kata Airlangga, menyiapkan tiga skenario berdasarkan durasi konflik di Timur Tengah, yakni selama 5 bulan, 6 bulan, dan 10 bulan.

Dalam skenario konflik berlangsung enam bulan, harga minyak diperkirakan dapat naik hingga sekitar 107 dolar AS per barel sebelum kembali menurun. Sementara jika konflik berlangsung hingga 10 bulan, harga minyak diproyeksikan meningkat hingga 130 dolar AS per barel dan berada di sekitar 125 dolar AS per barel pada akhir Desember 2025.

Airlangga juga menyampaikan realisasi harga pembelian pada awal tahun. “Pembelian kami di bulan Januari-Februari itu angkanya 64,41 dolar AS per barel dan 68,79 dolar AS per barel. Ini realisasi Pak, jadi realisasi di bawah APBN yang 70 dolar AS per barel,” kata Airlangga dalam Sidang Kabinet Paripurna, Jumat, 13 Maret 2026.

Lebih lanjut, ia merinci potensi pelebaran defisit berdasarkan kombinasi kenaikan ICP dan pelemahan kurs. Pada skenario pertama, apabila ICP mencapai sekitar 86 dolar AS per barel dan rupiah melemah ke Rp17.000 per dolar AS, defisit APBN diperkirakan dapat mencapai 3,18 persen dari PDB.

Pada skenario kedua atau moderat, jika ICP menembus 97 dolar AS per barel dan nilai tukar rupiah mencapai Rp17.300 per dolar AS, dengan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 7,2 persen, defisit diproyeksikan meningkat menjadi 3,53 persen.

Sedangkan pada skenario ketiga atau terburuk, ketika ICP mencapai 115 dolar AS per barel dan kurs rupiah melemah hingga Rp17.500 per dolar AS, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2 persen dan imbal hasil SBN 7,2 persen, defisit APBN diperkirakan melebar hingga 4,06 persen.

Airlangga menilai, menjaga defisit APBN di bawah 3 persen akan menjadi tantangan jika kondisi-kondisi tersebut benar-benar terjadi. “Jadi, artinya dengan berbagai skenario ini defisit yang 3 persen itu sulit kami pertahankan. Kecuali kami mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan Pak Presiden. Nah, ini beberapa skenario yang mungkin perlu kami rapatkan secara terbatas,” ujarnya.