Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Luar Negeri, Ahmad Basarah, menilai krisis geopolitik global yang terjadi saat ini membuktikan ketepatan analisis Presiden pertama RI Soekarno mengenai neo-kolonialisme. Menurut Basarah, berbagai konflik dan ketimpangan yang muncul di tingkat internasional menunjukkan bahwa kolonialisme tidak benar-benar hilang, melainkan berubah wujud menjadi bentuk baru yang lebih kompleks.
Pernyataan tersebut disampaikan Basarah dalam peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 yang digelar di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026). Ia menyebut situasi dunia saat ini masih jauh dari cita-cita keadilan yang dahulu diperjuangkan melalui semangat Bandung.
“Krisis geopolitik global yang kita saksikan saat ini menunjukkan bahwa dunia masih jauh dari cita-cita keadilan yang diperjuangkan dalam semangat Bandung,” kata Basarah.
Basarah merinci dinamika global seperti rivalitas kekuatan besar, konflik bersenjata, dan ketimpangan ekonomi dunia sebagai manifestasi neo-imperialisme yang telah lama diperingatkan Soekarno. Ia menambahkan, sejak awal abad ke-20 Soekarno telah memprediksi kapitalisme dan imperialisme akan melahirkan ketidakstabilan global, sebagaimana tertuang dalam karya Di Bawah Bendera Revolusi.
“Bung Karno dengan konsisten menyatakan bahwa kapitalisme pada dasarnya mengandung benih kehancuran sendiri,” ujarnya.
Dalam pandangan Basarah, imperialisme modern tidak lagi hadir sebagai penjajahan fisik, melainkan melalui dominasi ekonomi, ketergantungan teknologi, dan hegemoni informasi. Ia menekankan, berakhirnya kolonialisme lama tidak otomatis mengakhiri imperialisme, karena praktik tersebut dapat muncul kembali dalam bentuk neo-imperialisme dan neo-kolonialisme.
“Runtuhnya kolonialisme lama tidak berarti berakhirnya imperialisme. Ia berganti wajah menjadi neo-imperialisme dan neo-kolonialisme,” ucap Basarah.
Basarah menilai penggunaan sanksi ekonomi, dominasi lembaga keuangan internasional, serta perebutan sumber daya strategis menjadi contoh praktik neo-kolonialisme di era modern. Karena itu, ia mendorong agar semangat Dasasila Bandung kembali dihidupkan sebagai fondasi hubungan internasional yang adil dan setara.
Selain itu, Basarah menyebut konsep Trisakti tetap relevan sebagai strategi menghadapi tekanan global. “Trisakti adalah antitesis dari kolonialisme dan imperialisme berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan,” kata dia.
Dalam kesempatan itu, Basarah juga menyampaikan bahwa pemikiran Soekarno telah menginspirasi berbagai negara dalam menghadapi tekanan global, termasuk dalam upaya membangun kemandirian ekonomi. Ia menegaskan, PDI Perjuangan memandang politik luar negeri sebagai instrumen perjuangan ideologis untuk menegakkan kedaulatan dan memperjuangkan keadilan global, sejalan dengan amanat konstitusi dan semangat Dasasila Bandung.
“Politik luar negeri harus menjadi instrumen perjuangan ideologis untuk menegakkan kedaulatan dan memperjuangkan keadilan global,” ujar Basarah.