Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan tiga skenario pertumbuhan ekonomi bagi kawasan Asia-Pasifik dengan mempertimbangkan durasi gangguan pasokan energi. ADB menilai, jika gangguan di pasar energi berlangsung lebih dari satu tahun, pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan ini berpotensi turun hingga 1,3 poin persentase pada 2026–2027, sementara inflasi dapat meningkat tambahan 3,2 poin persentase.
Menurut ADB, konflik berdampak pada kawasan melalui sejumlah saluran, mulai dari kenaikan harga energi, gangguan rantai pasokan dan perdagangan, hingga pengetatan kondisi keuangan global. Dampak lanjutan juga dapat dirasakan sektor-sektor seperti pariwisata dan pengiriman uang.
Untuk mengukur tingkat risiko, ADB menyusun tiga skenario berdasarkan lama gangguan pasokan energi. Pada skenario pertama, jika konflik hanya berlangsung hingga akhir Juni 2026, harga minyak diperkirakan naik hingga rata-rata US$105 per barel pada kuartal II sebelum kembali ke tingkat sebelum konflik pada kuartal III 2026. Dalam skenario ini, produk domestik bruto (PDB) Asia-Pasifik diperkirakan turun 0,3 poin persentase, sementara inflasi naik 0,6 poin persentase.
Skenario kedua mengasumsikan gangguan berlanjut hingga akhir September 2026. ADB memperkirakan harga minyak dapat naik hingga US$130 per barel pada kuartal II 2026 dan bertahan di sekitar US$120 per barel pada kuartal III 2026, sebelum mereda pada kuartal IV 2026. Dampaknya lebih besar, dengan penurunan pertumbuhan PDB Asia-Pasifik sebesar 0,7 poin persentase dan kenaikan inflasi sebesar 1,2 poin persentase.
Dalam skenario terburuk, jika gangguan parah berlanjut hingga akhir Februari 2027, harga minyak diperkirakan melampaui US$155 per barel pada kuartal II 2026, lalu turun perlahan menjadi sekitar US$140 per barel pada periode kuartal III 2026 hingga kuartal I 2027. Pada kondisi ini, pertumbuhan PDB kawasan dapat turun hingga 1,3 poin persentase, sementara inflasi berpotensi meningkat hingga 3,2 poin persentase.
Laporan tersebut juga menyoroti perbedaan dampak antarwilayah. ADB memperkirakan Asia Tenggara dan Pasifik akan mengalami tekanan negatif terbesar terhadap pertumbuhan, sedangkan Asia Selatan menghadapi tekanan inflasi yang lebih tinggi. Perbedaan ini mencerminkan variasi ketergantungan pada impor energi serta struktur ekonomi di masing-masing wilayah.
Ekonom ADB Albert Park menyatakan negara-negara berkembang dapat menghadapi dilema antara perlambatan pertumbuhan dan kenaikan inflasi apabila gangguan energi berlanjut. Karena itu, pemerintah dinilai perlu memprioritaskan stabilitas pasar, melindungi kelompok rentan, serta memperkuat ketahanan jangka panjang.
ADB merekomendasikan agar kebijakan regulasi memungkinkan harga energi sebagian mencerminkan sinyal pasar guna mendorong penghematan dan transisi energi, alih-alih menerapkan kontrol harga secara luas. Pada saat yang sama, dukungan fiskal disarankan bersifat terarah dan memiliki batas waktu yang jelas, dengan fokus pada kelompok yang paling terdampak.
Bagi bank sentral, ADB menyarankan pemantauan ketat terhadap ekspektasi inflasi dan menjaga stabilitas pasar keuangan, sembari menghindari pengetatan kebijakan yang berlebihan yang dapat menambah tekanan pada pertumbuhan. ADB juga menekankan langkah pengelolaan permintaan energi, seperti penghematan listrik, mendorong penggunaan transportasi umum, dan penyesuaian perilaku konsumsi.
Di tengah meningkatnya ketidakstabilan geopolitik, ADB menilai risiko terhadap perekonomian Asia-Pasifik tidak hanya berasal dari konflik secara langsung, tetapi juga dari guncangan tidak langsung melalui pasar energi dan sistem keuangan global. Kondisi ini, menurut laporan tersebut, menegaskan kebutuhan untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan mendiversifikasi sumber energi di kawasan.

