Asian Development Bank (ADB) menyatakan komitmen pendanaan sebesar USD50 miliar hingga 2035 melalui Inisiatif Jaringan Listrik Pan-Asia (Pan-Asia Power Grid Initiative). Pendanaan ini ditujukan untuk membangun infrastruktur jaringan listrik lintas batas di kawasan Asia dan Pasifik, dengan tujuan menekan biaya, mengamankan pasokan, serta memperluas perdagangan energi bersih.
Komitmen tersebut disampaikan Presiden ADB Masato Kanda dalam sesi Governors’ Seminar pada Pertemuan Tahunan ADB ke-59. Menurut Masato, investasi itu akan disalurkan melalui platform Pan-Asia Power Grid Initiative yang baru diluncurkan pada akhir pekan lalu.
Platform regional ini dirancang untuk mempercepat perdagangan listrik antarnegara, mengintegrasikan pemanfaatan energi terbarukan dalam skala besar, serta menjaga keandalan pasokan dan keterjangkauan listrik di kawasan Asia dan Pasifik. “Inisiatif Jaringan Listrik Pan-Asia (Pan-Asia Power Grid Initiative) senilai USD50 miliar ini bertujuan membangun infrastruktur yang dibutuhkan demi Asia dan Pasifik yang lebih terhubung, tangguh, dan sejahtera,” ujar Masato, dikutip dari laman resmi ADB, Rabu, 6 Mei 2026.
Masato menambahkan, integrasi jaringan listrik antarnegara dinilai dapat memperkuat daya tawar ekonomi. Ia menekankan bahwa negara-negara yang tetap terhubung dinilai lebih mampu menarik investasi dan bertahan menghadapi guncangan dibanding yang menutup diri. “Konektivitas adalah jawaban kami atas fragmentasi,” katanya.
Kehadiran Pan-Asia Power Grid Initiative disebut menandai perubahan pendekatan ADB, dari pendanaan proyek individual menuju pembangunan sistem regional terpadu. Sistem tersebut diproyeksikan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan keamanan energi di Asia dan Pasifik.
ADB juga menetapkan target yang ingin dicapai pada 2035 melalui inisiatif ini. Target tersebut meliputi integrasi 20 gigawatt energi terbarukan, penyambungan 22 ribu kilometer sirkuit jalur transmisi kelistrikan, perluasan akses energi bagi 200 juta penduduk, serta penciptaan 840 ribu lapangan kerja baru.
Dalam pelaksanaannya, ADB menyatakan akan memanfaatkan perannya untuk mempertemukan pemerintah, otoritas regulasi, perusahaan utilitas, sektor swasta, dan mitra terkait. Kolaborasi ini diarahkan untuk mengatasi hambatan regulasi yang selama ini kerap menghambat pembangunan infrastruktur regional.
ADB juga menyinggung penggunaan blended finance yang sebelumnya disebut berhasil memobilisasi modal swasta untuk proyek lintas batas yang kompleks dan inovatif, termasuk interkoneksi jaringan kelistrikan Bangladesh–India serta Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Angin Musim Hujan di Laos.
Untuk mempercepat interkoneksi listrik di Asia Tenggara, ADB meluncurkan Dana Konektivitas Regional. Instrumen keuangan ini didukung oleh Australia, Kanada, Jerman, Inggris, dan Uni Eropa, serta difokuskan untuk memitigasi risiko proyek pada tahap awal, membiayai tahap persiapan, dan menarik aliran modal lebih besar dari sektor publik maupun swasta.