BERITA TERKINI
ADB Proyeksikan Ekonomi Vietnam Tetap Tumbuh Tinggi pada 2026–2027, Namun Risiko Global Membayangi

ADB Proyeksikan Ekonomi Vietnam Tetap Tumbuh Tinggi pada 2026–2027, Namun Risiko Global Membayangi

Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan ekonomi Vietnam akan tetap mencatat pertumbuhan kuat pada 2026 dan 2027. Dalam proyeksi terbaru, ADB memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Vietnam tumbuh 7,2% pada 2026 dan 7,0% pada 2027. Angka tersebut sedikit disesuaikan dari perkiraan 8,0% untuk 2025, namun tetap menempatkan Vietnam sebagai salah satu ekonomi dengan laju pertumbuhan paling menonjol di kawasan Asia-Pasifik.

Di sisi harga, inflasi Vietnam diperkirakan meningkat menjadi 4,0% pada 2026 sebelum turun menjadi 3,8% pada 2027. Proyeksi ini disusun dengan asumsi konflik di Timur Tengah segera stabil, meski ADB menekankan perkiraan dapat berubah secara signifikan mengikuti perkembangan di lapangan.

ADB menilai pendorong pertumbuhan pada 2026 akan berasal dari peningkatan investasi publik dan penerapan kebijakan moneter yang longgar. Momentum tersebut juga ditopang oleh ekspor yang kuat serta arus investasi yang stabil.

Dalam konteks gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah, ADB mencatat respons pemerintah Vietnam yang dinilai cepat dan fleksibel. Direktur Negara ADB untuk Vietnam, Shantanu Chakraborty, menyampaikan bahwa langkah fiskal seperti pemotongan pajak dan penggunaan dana stabilisasi, yang dikombinasikan dengan manajemen harga yang fleksibel serta koordinasi yang lebih kuat untuk memastikan pasokan, telah berkontribusi menekan inflasi sekaligus mendukung pertumbuhan.

Meski prospeknya positif, ADB memperingatkan adanya risiko besar terhadap pertumbuhan Vietnam. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan Ukraina dinilai menekan rantai pasokan global, memicu volatilitas harga, serta meningkatkan biaya transportasi. Selain itu, ketidakpastian terkait kebijakan tarif Amerika Serikat dan perlambatan ekonomi di mitra dagang utama berpotensi mempersempit surplus perdagangan dan memperlambat laju pertumbuhan.

Untuk menjaga posisi Vietnam dan mengurangi kerentanan terhadap guncangan di masa depan, ADB menyoroti dua langkah prioritas. Pertama, mempercepat transisi ke energi bersih dan meningkatkan efisiensi energi sebagai bagian penting dari upaya memperkuat keamanan energi jangka panjang. Kedua, memperkuat pasar obligasi korporasi. ADB menilai pasar yang transparan dengan kerangka hukum yang konsisten dapat membantu memobilisasi pembiayaan jangka panjang yang stabil, mengurangi ketergantungan berlebihan pada kredit perbankan, serta mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif.

Dengan reformasi yang sedang berjalan, ADB menyatakan Vietnam memiliki alasan kuat untuk tetap percaya diri terhadap arah ekonomi yang berkelanjutan dan mempertahankan perannya sebagai salah satu mesin pertumbuhan di kawasan.

Dalam laporan Asian Development Outlook terbarunya, ADB juga mengingatkan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota di Asia-Pasifik diperkirakan melambat tahun ini akibat konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasar energi dan perdagangan global. Dalam skenario dasar—dengan asumsi harga minyak stabil dan kembali ke tingkat sebelum konflik pada akhir tahun—pertumbuhan regional diproyeksikan melambat dari 5,4% pada 2025 menjadi 5,1% pada 2026. Namun, jika aksi militer berlanjut hingga akhir kuartal ketiga 2026, pertumbuhan kawasan dapat turun menjadi 4,7%.

Presiden ADB Masato Kanda menyatakan krisis tersebut menjadi “ujian berat” bagi kemajuan ekonomi kawasan, karena konflik menciptakan ketidakpastian baru di tengah lanskap global yang dinilai sudah rapuh.