BERITA TERKINI
ADB Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2% pada 2026, Ditopang Konsumsi dan Investasi

ADB Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2% pada 2026, Ditopang Konsumsi dan Investasi

Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2% pada 2026, ditopang konsumsi domestik yang dinilai tetap kuat serta peningkatan investasi. Proyeksi tersebut dimuat dalam laporan Asian Development Outlook (ADO) yang dirilis pada April 2026.

ADB juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berada di level yang sama, yakni 5,2%. Sebagai perbandingan, sebelumnya World Bank memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh 4,7% pada 2026, dengan alasan tingginya harga minyak global dan sentimen kehati-hatian investor.

Memasuki 2026, ADB menilai momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terjaga. Konsumsi domestik diperkirakan tetap solid seiring pertumbuhan pendapatan yang stabil dan dukungan kebijakan pemerintah. ADB mencatat adanya faktor musiman terkait perayaan Ramadan dan Idul Fitri pada Maret, yang mendorong konsumsi rumah tangga, terutama pada sektor makanan, ritel, transportasi, dan perhotelan.

Menurut ADB, dukungan pemerintah difokuskan pada langkah-langkah yang ditargetkan kepada rumah tangga, stimulus fiskal, dan insentif. Laporan itu menyebut perluasan bertahap program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta dukungan magang bagi pekerja muda berperan membantu menjaga ketahanan rumah tangga dan pendapatan upah, sehingga memperkuat konsumsi.

Dari sisi investasi, ADB memproyeksikan peningkatan bertahap yang didorong pengembangan hilirisasi, sektor manufaktur, dan partisipasi swasta yang lebih besar. Kemajuan pada pengolahan mineral, manufaktur, dan rantai pasok diperkirakan terus menarik investasi domestik maupun asing, sekaligus mendukung penciptaan lapangan kerja formal.

ADB juga menilai reformasi struktural untuk memperkuat iklim bisnis, bersama kondisi pembiayaan yang mendukung, berpotensi mendorong pembentukan modal. Infrastruktur publik dan proyek-proyek strategis disebut tetap menjadi pelengkap penting bagi investasi swasta.

Dari sisi harga, ADB memperkirakan inflasi Indonesia tetap terkendali di kisaran 2,5% pada 2026, masih dalam target otoritas moneter. Namun, ADB mengingatkan adanya risiko terhadap prospek pertumbuhan, terutama jika konflik geopolitik global—termasuk di Timur Tengah—berlangsung lebih lama dan memicu tekanan pada harga energi serta rantai pasok global.

Di tingkat kawasan, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang Asia-Pasifik melambat menjadi 5,1% pada 2026 dan 2027, dari 5,4% pada tahun sebelumnya. Perlambatan tersebut dikaitkan dengan konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan yang berkelanjutan.

Inflasi regional diproyeksikan meningkat menjadi 3,6% pada 2026 dan 3,4% pada 2027, dari 3,0% pada tahun lalu. ADB menyatakan perkiraan ini dibuat dengan asumsi ketidakpastian yang sangat tinggi, termasuk skenario stabilisasi awal konflik di Timur Tengah, meski lembaga itu juga menilai gangguan yang lebih berkepanjangan tetap mungkin terjadi.

Kepala Ekonom ADB Albert Park menilai konflik berkepanjangan di Timur Tengah menjadi risiko terbesar bagi prospek kawasan karena dapat membuat harga energi dan pangan bertahan tinggi serta memperketat kondisi keuangan. Ia juga menekankan pentingnya kebijakan makroekonomi yang tepat untuk menjaga pertumbuhan dan mengendalikan inflasi, disertai dukungan yang tepat sasaran untuk melindungi rumah tangga rentan di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan.