BERITA TERKINI
ADB Nilai Vietnam Jadi Penghubung Kunci dalam Inisiatif Jaringan Asia-Pasifik

ADB Nilai Vietnam Jadi Penghubung Kunci dalam Inisiatif Jaringan Asia-Pasifik

Bank Pembangunan Asia (ADB) menempatkan Vietnam sebagai mata rantai strategis dalam Inisiatif Jaringan Asia-Pasifik (Pacific Asia Grid Initiative/PAGI), sebuah rencana infrastruktur senilai US$70 miliar yang ditujukan untuk membentuk kembali masa depan energi dan digital di kawasan Asia-Pasifik. Sejumlah pejabat ADB menilai Vietnam berpeluang memainkan peran penghubung utama untuk mendorong terbentuknya pasar energi yang saling terhubung di Asia Tenggara.

Inisiatif ini diumumkan oleh Presiden ADB Masato Kanda pada konferensi tahun ini, di tengah situasi geopolitik global yang bergejolak. Kanda menyebut kondisi tersebut sebagai “ujian berat” bagi tatanan global, yang menunjukkan kerentanan ketika negara-negara terlalu bergantung pada beberapa koridor strategis, terutama dalam konteks ketidakstabilan di Timur Tengah.

Di sisi lain, kawasan Asia-Pasifik juga menghadapi tantangan energi yang mendesak. Hingga 2023, batu bara dan minyak masih menyumbang sekitar 72% dari total pasokan energi. Dampaknya, emisi CO2 dari pembakaran bahan bakar meningkat 147% sepanjang 2000–2022, yang dinilai mengancam komitmen iklim negara-negara di kawasan.

Dalam konferensi pers pada 5 Mei terkait Inisiatif Jaringan Trans-Asia, Direktur Energi ADB untuk Asia Tenggara dan Pasifik Keiju Mitsuhashi menegaskan ketergantungan pada batu bara tidak dapat dipertahankan. Menurutnya, kawasan tidak cukup hanya mengandalkan langkah parsial, melainkan membutuhkan solusi sistemik jangka panjang untuk beralih menuju ekosistem energi bersih.

ADB juga menyoroti paradoks lain: meski ekonomi tumbuh cepat, lebih dari 150 juta orang di Asia-Pasifik masih kekurangan akses listrik yang andal. Pada saat yang sama, permintaan listrik diproyeksikan meningkat tajam dalam beberapa dekade mendatang, sehingga menambah tekanan pada sistem ketenagalistrikan nasional.

Ketersediaan sumber energi bersih pun tidak merata. Bhutan dan Nepal memiliki keunggulan tenaga air, sementara India dan Vietnam dinilai memiliki potensi besar untuk tenaga angin dan surya. Direktur Senior Kantor Sektor Energi ADB Priyantha DC Wijayatunga merangkum tantangan ini dengan pernyataan: “Tanpa transmisi, tidak ada transisi.” Ia menekankan, energi terbarukan memerlukan sistem transmisi yang mampu menghubungkan wilayah dan subwilayah agar penerapannya berkelanjutan.

Melalui PAGI, ADB menargetkan mobilisasi pendanaan total US$50 miliar hingga 2035. Dari jumlah itu, ADB berkomitmen membiayai US$25 miliar dan memobilisasi sisanya dari mitra serta sektor swasta. Skema ini menandai pergeseran dari keterkaitan energi yang bersifat terbatas antarnegara menuju pendekatan regional yang lebih menyeluruh untuk perdagangan listrik.

ADB menetapkan sasaran terukur untuk 2035, termasuk penyambungan 22.000 kilometer jalur transmisi sebagai “tulang punggung” integrasi sekitar 20 gigawatt (GW) energi terbarukan lintas batas. Selain itu, inisiatif ini menargetkan peningkatan akses listrik bagi 200 juta orang, penciptaan sekitar 840.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung, serta pengurangan emisi listrik regional sebesar 15%.

Dari sisi pelaksanaan, ADB mengusung pendekatan “dari bawah ke atas” dalam empat fase. Tahap awal dimulai dari penguatan jaringan listrik dan sistem penyimpanan di tingkat nasional. Selanjutnya, fase sub-regional menghubungkan jaringan negara-negara bertetangga—misalnya melalui ASEAN atau subwilayah Mekong—untuk berbagi sumber daya. Dari sana, konektivitas diperluas ke tingkat regional lintas benua, dan pada tahap akhir dapat berkembang menjadi skala antar-regional yang menghubungkan Asia dengan pasar energi di Timur Tengah, Afrika, dan Eropa bila kondisi memungkinkan.

Dalam kerangka PAGI, ADB menilai Vietnam bukan sekadar peserta, melainkan faktor kunci di Asia Tenggara. Dalam wawancara dengan Kantor Berita Vietnam (VNA), Mitsuhashi menyebut Vietnam sebagai bagian yang “benar-benar penting” dari jaringan Asia-Pasifik. Ia menilai Vietnam memiliki peluang besar untuk tidak hanya menghubungkan infrastruktur teknis, tetapi juga memimpin pembangunan pasar energi terintegrasi dari skala nasional menuju regional.

Menurut Mitsuhashi, peran Vietnam terlihat dari kemampuannya mendorong koneksi multilateral. Vietnam tercatat sebagai anggota aktif ASEAN Power Grid dan Program Kerja Sama Ekonomi Subwilayah Mekong Raya (GMS). Salah satu contoh yang disorot adalah nota kesepahaman yang ditandatangani tahun lalu antara Vietnam, Malaysia, dan Singapura terkait ekspor listrik bersih dari Vietnam ke Malaysia dan Singapura melalui kabel bawah laut yang terhubung ke jaringan listrik nasional Semenanjung Malaysia.

ADB juga menilai pengalaman operasional Vietnam memperkuat posisinya. Mitsuhashi menyebut Vietnam telah menunjukkan kemampuan teknis melalui koneksi jaringan yang stabil dengan Kamboja, Laos, dan Tiongkok. Selain itu, penyesuaian terbaru dalam Rencana Pengembangan Energi VIII—yang menekankan peningkatan impor dan pertukaran energi terbarukan dari negara tetangga—dinilai sejalan dengan pendekatan bertahap yang didorong ADB.

Di luar aspek infrastruktur, ADB mengapresiasi upaya Vietnam dalam memperkuat kerangka hukum dan mengembangkan pasar listrik domestik. Menurut ADB, persiapan pada sisi mekanisme pasar menjadi fondasi penting bagi Vietnam untuk berperan lebih besar dalam integrasi ekosistem energi kawasan.

Secara keseluruhan, ADB berharap implementasi PAGI dapat membantu Asia-Pasifik bertransformasi dari kawasan yang bergantung pada batu bara menjadi pusat energi bersih global, dengan negara-negara saling berbagi sumber daya dan manfaat. Dalam kerangka tersebut, Vietnam dinilai memiliki peluang untuk mengambil manfaat sekaligus berkontribusi dalam membentuk arah baru infrastruktur energi di Asia.