BERITA TERKINI
ADB: Konflik Timur Tengah Tambah Ketidakpastian, Ekonomi Asia-Pasifik Diproyeksi Melambat ke 5,1 Persen

ADB: Konflik Timur Tengah Tambah Ketidakpastian, Ekonomi Asia-Pasifik Diproyeksi Melambat ke 5,1 Persen

Prospek pertumbuhan ekonomi kawasan Asia dan Pasifik diperkirakan melambat dalam dua tahun ke depan seiring meningkatnya ketidakpastian global. Dalam laporan Asian Development Outlook (ADO) April 2026, Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kawasan berkembang Asia dan Pasifik berada di level 5,1 persen pada 2026 dan 2027.

Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 5,4 persen. ADB menilai perlambatan terjadi di tengah tekanan eksternal yang kian kompleks, terutama dampak konflik di Timur Tengah yang memengaruhi perdagangan serta harga energi global.

Dalam laporan yang dikutip Senin (13/4/2026), ADB menyebut konflik tersebut telah “menyuntikkan ketidakpastian baru ke dalam lanskap global yang sudah rapuh”, sekaligus mengganggu rantai pasok dan stabilitas pasar energi. Presiden ADB Masato Kanda menilai kondisi ini menjadi ujian besar bagi keberlanjutan pertumbuhan kawasan. “Kebangkitan ekonomi negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik menghadapi ujian yang berat,” ujarnya.

Menurut Kanda, meski paparan langsung kawasan terhadap konflik relatif terbatas, dampak tidak langsung melalui kenaikan harga energi dan komoditas dinilai menjadi faktor utama yang menekan inflasi serta memperketat kondisi keuangan.

ADB menyoroti konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global, termasuk pasokan minyak dan gas yang dibutuhkan banyak negara di Asia. Sebagai kawasan yang dikenal sebagai net importir energi, Asia dan Pasifik dinilai sensitif terhadap lonjakan harga komoditas.

Jika konflik berlangsung lebih lama, dampaknya terhadap pertumbuhan diperkirakan kian signifikan. Dalam skenario terburuk, ADB memperkirakan kawasan dapat kehilangan hingga 1,3 poin persentase pertumbuhan pada periode 2026–2027.

Selain pertumbuhan, inflasi juga diproyeksikan meningkat seiring tekanan harga energi dan gangguan logistik. Kenaikan inflasi ini berpotensi mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat di berbagai negara, yang pada akhirnya dapat menahan konsumsi dan investasi.

ADB juga mencatat ketidakpastian global akibat konflik memperburuk kondisi yang sebelumnya telah tertekan oleh faktor lain, termasuk perlambatan ekonomi global dan ketegangan geopolitik.

Meski menghadapi tekanan eksternal, ADB menilai kawasan Asia dan Pasifik masih memiliki ketahanan ekonomi yang relatif kuat. Ketahanan ini ditopang oleh permintaan domestik yang stabil di sejumlah negara serta kinerja ekspor pada sektor tertentu.

Namun, ADB menegaskan ketahanan tersebut tidak sepenuhnya kebal terhadap guncangan eksternal. Ketergantungan pada impor energi dan keterkaitan erat dengan perdagangan global membuat kawasan tetap rentan terhadap dinamika global. Dampak konflik, menurut ADB, tidak hanya terbatas pada sektor energi, tetapi juga merambat ke sektor lain seperti manufaktur, transportasi, hingga pariwisata.

Gangguan pada rantai pasok global dapat memperlambat aktivitas produksi, sementara kenaikan biaya logistik berpotensi menekan margin perusahaan dan daya beli masyarakat.

ADB juga merinci proyeksi pertumbuhan sejumlah ekonomi utama di kawasan. China diperkirakan mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi sekitar 4,6 persen pada 2026, turun dari 5 persen pada tahun sebelumnya. Perlambatan tersebut dikaitkan dengan lemahnya konsumsi domestik serta tantangan sektor properti yang masih membayangi pemulihan ekonomi.

ADB mencatat negara-negara dengan ketergantungan tinggi terhadap impor energi dan perdagangan global cenderung lebih rentan terhadap dampak konflik, meski tekanan yang dihadapi bervariasi sesuai struktur ekonomi masing-masing.

Di sisi lain, ADB menilai kenaikan harga energi dan komoditas berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga. Dalam situasi ini, bank sentral di berbagai negara diperkirakan menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Tekanan inflasi yang berkepanjangan juga dinilai dapat memperketat kondisi keuangan, terutama di negara berkembang yang ruang kebijakannya terbatas.

Konflik di Timur Tengah juga dipandang berdampak pada perdagangan global, salah satu pilar pertumbuhan Asia dan Pasifik. Gangguan jalur perdagangan dan peningkatan biaya logistik dapat menurunkan volume perdagangan internasional. ADB menambahkan, ketidakpastian global dapat menahan investasi, baik domestik maupun asing, karena pelaku usaha cenderung menunda ekspansi di tengah kondisi yang tidak pasti.

Selain itu, fluktuasi nilai tukar akibat volatilitas pasar keuangan dapat menambah tekanan bagi negara-negara yang memiliki ketergantungan tinggi pada pembiayaan eksternal.

Dalam jangka menengah, ADB mengidentifikasi sejumlah risiko lain yang dapat memengaruhi prospek ekonomi kawasan, termasuk ketegangan perdagangan, perubahan kebijakan global, serta dinamika pasar keuangan internasional. ADB menilai ketahanan kawasan akan sangat bergantung pada kemampuan negara-negara mengelola risiko tersebut melalui kebijakan fiskal dan moneter yang tepat.

ADB juga mencatat perkembangan teknologi dan transformasi ekonomi dapat menjadi faktor penopang pertumbuhan di tengah tekanan global, meski manfaatnya tidak akan merata dan bergantung pada kesiapan masing-masing negara dalam mengadopsi teknologi serta meningkatkan produktivitas.

Secara keseluruhan, ADB menggambarkan prospek ekonomi Asia dan Pasifik sebagai semakin menantang. Arah pertumbuhan kawasan dinilai sangat dipengaruhi perkembangan konflik, terutama durasi dan intensitasnya. Jika konflik mereda dalam waktu relatif singkat, dampaknya diperkirakan terbatas. Namun, jika berlarut-larut, tekanan terhadap pertumbuhan dan stabilitas ekonomi diproyeksikan semakin besar.