Sejumlah lembaga internasional memperingatkan potensi tekanan ekonomi global seiring memanasnya perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Asian Development Bank (ADB) dan Dana Moneter Internasional (IMF) menilai konflik tersebut dapat memicu gangguan pasokan energi, kenaikan inflasi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi, terutama bila disrupsi berlangsung lama dan mengganggu jalur perdagangan utama seperti Selat Hormuz.
ADB memaparkan tiga skenario dampak konflik terhadap perekonomian negara-negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik. Dalam skenario terberat, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut dapat turun hingga 1,3 poin persentase selama periode 2026–2027, sementara inflasi berpotensi meningkat 3,2 poin persentase jika gangguan di pasar energi berlangsung lebih dari setahun.
Kepala Ekonom ADB Albert Park menyatakan bahwa disrupsi pasokan energi yang berkepanjangan dapat menempatkan perekonomian pada dilema antara pertumbuhan yang melambat dan inflasi yang meningkat. Menurut ADB, konflik dapat menekan ekonomi melalui kenaikan harga energi, gangguan rantai pasokan dan perdagangan, serta pengetatan kondisi keuangan. Sektor pariwisata dan pengiriman uang (remittances) juga dinilai berpotensi terdampak.
Dalam skenario pertama, ADB menghitung disrupsi berlangsung hingga akhir Juni 2026. Harga minyak diperkirakan naik menjadi rata-rata US$ 105 pada kuartal II-2026 sebelum kembali ke tingkat dasar pada kuartal III-2026, disertai kenaikan harga gas pada kuartal II-2026. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi tertekan 0,3 poin persentase dan inflasi naik 0,6 poin persentase.
Skenario kedua mengasumsikan disrupsi berlanjut hingga akhir September 2026. ADB memperkirakan harga minyak naik menjadi US$ 130 pada kuartal II-2026 dan US$ 120 pada kuartal III-2026 sebelum kembali ke tingkat dasar pada kuartal IV-2026, sementara harga gas meningkat lebih tajam sebanding dengan kenaikan minyak. Efeknya, tekanan terhadap pertumbuhan mencapai 0,7 poin persentase dan inflasi terdorong 1,2 poin persentase.
Skenario ketiga menggambarkan disrupsi berat hingga akhir Februari 2027. Harga minyak diproyeksikan melonjak lebih dari US$ 155 pada kuartal II-2026, lalu turun perlahan menjadi US$ 140 pada kuartal III-2026 hingga kuartal I-2027 sebelum kembali ke tingkat dasar. Kenaikan harga gas digambarkan tajam, mendekati tingkat setelah invasi Rusia ke Ukraina. Dalam skenario ini, dampak terhadap pertumbuhan mencapai minus 1,3 poin persentase dan inflasi naik 3,2 poin persentase.
ADB menilai dampak perlambatan pertumbuhan paling berat akan dirasakan oleh perekonomian Asia Tenggara dan Pasifik yang sedang berkembang, sedangkan lonjakan inflasi tertinggi diperkirakan terjadi di perekonomian Asia Selatan. ADB juga menekankan tingginya ketidakpastian terkait perkembangan konflik, termasuk kemungkinan disrupsi rantai pasokan yang lebih luas dan pengetatan kondisi keuangan global.
Merespons risiko tersebut, ADB mendorong pemerintah mengambil kebijakan untuk meredam ketegangan pasar dan melindungi kelompok rentan, sekaligus memperkuat ketahanan jangka panjang. ADB menyarankan empat langkah kebijakan utama: pertama, fokus pada stabilisasi dan tidak menekan sinyal harga melalui pengendalian harga luas atau subsidi umum yang dinilai berisiko mendistorsi insentif. Kedua, dukungan fiskal bila diperlukan harus terarah dan dibatasi waktu, dengan prioritas pada rumah tangga rentan dan sektor paling terdampak. Ketiga, bank sentral diminta membatasi volatilitas pasar berlebihan, memantau ekspektasi inflasi, dan menyediakan likuiditas terarah agar pasar tetap berfungsi, sambil menghindari pengetatan yang terlalu agresif. Keempat, pemerintah disarankan membatasi permintaan energi melalui langkah praktis seperti pengaturan suhu pendingin udara, penghematan listrik pada jam sibuk, hingga kebijakan kerja dari rumah atau jadwal bergiliran, serta insentif penggunaan transportasi umum.
IMF sebelumnya juga menyoroti bahwa dampak perang bersenjata tidak hanya mengguncang kehidupan masyarakat setempat, tetapi dapat meluas melalui berbagai jalur rambatan. Direktur Departemen Komunikasi IMF Julie Kozack menyebut telah terlihat gangguan yang signifikan, terutama karena Timur Tengah merupakan produsen utama migas dunia dan Selat Hormuz menjadi jalur penting pasokan minyak mentah dan gas global.
IMF mencatat bahwa jika Selat Hormuz tertutup akibat perang, akses terhadap sekitar 20% pasokan minyak dunia dan LNG yang diangkut melalui laut dapat terputus. Kozack juga menyatakan infrastruktur energi di kawasan Teluk dan Iran telah mengalami kerusakan yang mengganggu produksi minyak dan gas.
Menurut IMF, terdapat tiga jalur utama risiko rambatan konflik terhadap perekonomian dunia. Pertama, gejolak harga komoditas yang dipengaruhi oleh durasi penutupan Selat Hormuz dan tingkat kerusakan fasilitas produksi hidrokarbon. Kozack menyebut harga minyak dan gas meningkat lebih dari 50% dalam sebulan terakhir hingga melampaui US$ 100 per barel, sementara pengiriman pupuk turut terganggu. Gangguan transportasi ini dinilai meningkatkan risiko kenaikan harga pangan, dengan besaran yang bergantung pada durasi dan intensitas konflik.
Kedua, IMF menyoroti guncangan terhadap inflasi dan ekspektasi inflasi. Jika berlangsung lama, harga energi yang lebih tinggi dapat mendorong inflasi utama meningkat dan memunculkan efek lanjutan terhadap inflasi yang lebih luas. Secara historis, IMF menyebut kenaikan harga minyak sebesar 10% selama setahun dapat meningkatkan inflasi global sekitar 40 basis poin dan menurunkan output global sekitar 0,1 hingga 0,2%—sebagai aturan praktis untuk kenaikan harga minyak yang bersifat persisten.
Ketiga, IMF menilai konflik dapat memicu pengetatan kondisi keuangan. Kozack menyebut reaksi pasar global terlihat dari penurunan harga saham, kenaikan imbal hasil obligasi di berbagai negara, meningkatnya volatilitas, penguatan dolar AS, serta pelemahan mata uang sejumlah negara berkembang.
IMF menegaskan dampak keseluruhan konflik akan sangat bergantung pada durasi dan intensitasnya. Kozack mengatakan IMF akan menyampaikan penilaian terbaru dalam laporan World Economic Outlook pada April, yang akan memuat analisis komprehensif pada tingkat negara, global, dan regional.

