BERITA TERKINI
AAJI Gelar CRO Forum 2026, Soroti Risiko Geopolitik hingga Siber yang Mengarah ke Potensi ‘Perfect Storm’

AAJI Gelar CRO Forum 2026, Soroti Risiko Geopolitik hingga Siber yang Mengarah ke Potensi ‘Perfect Storm’

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyelenggarakan Chief Risk Officer (CRO) Forum AAJI 2026 sebagai pertemuan strategis untuk memperkuat ketahanan risiko industri asuransi jiwa di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Mengusung tema “Navigating Geopolitical Uncertainty: Strengthening Risk Resilience for Indonesia’s Life Insurance Industry”, forum ini menghadirkan narasumber dari regulator, ekonom, praktisi, serta pelaku industri untuk menjembatani perspektif makroekonomi dengan implementasi pengelolaan risiko di tingkat perusahaan.

Ketua Bidang Hukum dan Kepatuhan AAJI Robbi Yanuar Walid mengatakan, kompleksitas risiko di industri asuransi jiwa meningkat seiring percepatan transformasi digital, tantangan pengelolaan data, dan ancaman siber. Menurutnya, penguatan ketahanan siber kini menjadi kebutuhan yang harus diantisipasi secara terstruktur. AAJI, kata Robbi, mendorong penguatan tersebut melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk inisiatif cyber help desk sebagai dukungan awal bagi industri.

AAJI menilai dalam beberapa tahun terakhir dinamika global menunjukkan peningkatan ketidakpastian yang dipicu eskalasi tensi geopolitik, fragmentasi ekonomi global, serta perubahan arah kebijakan moneter berbagai negara. Tekanan inflasi yang berkelanjutan, kenaikan suku bunga dalam periode singkat, dan volatilitas nilai tukar disebut menciptakan tekanan berlapis pada stabilitas pasar global.

Kondisi tersebut turut memengaruhi pergerakan yield instrumen keuangan dan valuasi aset. Bagi industri asuransi jiwa, dampaknya tidak hanya dirasakan pada sisi aset melalui penurunan valuasi dan fluktuasi hasil investasi, tetapi juga pada sisi liabilitas akibat perubahan asumsi aktuaria dan perilaku nasabah.

AAJI juga menyoroti bahwa kenaikan suku bunga berpotensi memengaruhi nilai kewajiban jangka panjang. Di saat yang sama, tekanan ekonomi dapat mendorong peningkatan lapse dan surrender. Selain itu, tren kenaikan biaya medis serta perubahan pola morbiditas dinilai meningkatkan eksposur risiko asuransi.

Di ranah operasional, percepatan digitalisasi dan perubahan perilaku nasabah disebut menambah kompleksitas risiko, termasuk tekanan pada kapasitas sistem. Dalam konteks yang lebih luas, meningkatnya ketegangan geopolitik turut memengaruhi lanskap keamanan siber, di mana ancaman semakin kompleks dan berpotensi menjadi bagian dari dinamika konflik global. Situasi ini menempatkan risiko siber sebagai salah satu fokus utama dalam menjaga ketahanan operasional dan perlindungan data di industri jasa keuangan.

Kombinasi berbagai faktor tersebut dinilai mengarah pada potensi “perfect storm”, ketika risiko pasar, likuiditas, asuransi, operasional, dan siber terjadi secara simultan dan saling memperkuat. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan asuransi jiwa dituntut tidak hanya memahami risiko secara makro, tetapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam strategi pengelolaan risiko yang forward-looking, terintegrasi, dan adaptif.

Forum CRO AAJI 2026 dirancang dengan pendekatan yang saling melengkapi. Sesi pembuka diisi oleh Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede yang memaparkan topik “Global Risk Landscape” untuk menjelaskan lanskap risiko global dan dinamika makroekonomi sebagai konteks eksternal yang memengaruhi industri asuransi.

Sesi berikutnya disampaikan oleh Bernadeth Sao dari Ernst & Young Indonesia dan Adrianus Darmawan selaku CRO PT Asuransi Allianz Life Indonesia dengan topik “From Global Risks to Local Action: How Life Insurance CROs are Navigating Uncertainty”. Keduanya menekankan strategi para CRO di industri asuransi jiwa dalam merespons berbagai risiko global.

Dari sisi regulator, Deputi Komisioner Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Iwan Pasila menyampaikan bahwa industri asuransi menghadapi spektrum risiko yang semakin luas, mulai dari bencana alam, mortalitas, ancaman siber, tantangan kesehatan, hingga kesiapan dana pensiun. Ia menekankan bahwa praktik terbaik bagi CRO tidak berhenti pada konsep, tetapi mencakup memastikan kecukupan modal untuk menyerap risiko, membangun disiplin dalam mengenali dan mengelola risiko secara terukur, serta memperkuat tata kelola melalui komite yang berjalan efektif. OJK, lanjutnya, memandang regulasi bukan sekadar aturan, melainkan pedoman yang mendorong perusahaan asuransi menjadi lebih baik dan berdaya saing.

AAJI berharap penyelenggaraan forum ini dapat membuat industri asuransi jiwa Indonesia semakin siap menghadapi risiko yang berkembang, sekaligus menjaga keberlanjutan dan kepercayaan masyarakat di tengah dinamika global yang terus berubah.

Peserta kegiatan merupakan perwakilan fungsi manajemen risiko perusahaan asuransi jiwa anggota AAJI, yang terdiri dari CRO dan tim manajemen risiko. Kegiatan ini juga dihadiri Dewan Pengurus AAJI serta perwakilan Working Group CRO AAJI.

Dewan Pengawas AAJI Firdaus Djaelani menegaskan peran CRO kian krusial, tidak hanya sebagai pengawas risiko, tetapi juga mitra strategis dalam pengambilan keputusan berkelanjutan. Ia menekankan perlunya pendekatan manajemen risiko yang proaktif, berbasis data, dan kolaboratif untuk memastikan ketahanan industri ke depan. Firdaus berharap hasil forum tidak berhenti pada diskusi, melainkan diwujudkan dalam langkah konkret yang berdampak nyata.