Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada 5 Maret menyatakan tidak ingin memperbaiki pipa minyak Druzhba yang rusak, jalur yang mengangkut minyak mentah Rusia ke Eropa Tengah. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Hungaria dan Slovakia, menyusul gangguan pasokan minyak ke kedua negara tersebut.
Pengiriman minyak Rusia ke Hungaria dan Slovakia dilaporkan terhenti sejak 27 Januari 2026. Penghentian itu terjadi setelah pipa Druzhba yang melintasi wilayah Ukraina mengalami kerusakan akibat serangan pesawat tak berawak, yang menurut pejabat Ukraina dilakukan oleh Rusia.
Dalam konferensi pers pada 5 Maret, Zelensky menegaskan sikapnya meski ada permintaan dari Hungaria dan Slovakia agar pipa tersebut segera dipulihkan. “Terus terang, saya tidak akan memulihkannya. Itulah pendirian saya,” kata Zelensky.
Pemimpin Hungaria dan Slovakia—dua negara yang masih mengimpor bahan bakar fosil Rusia, berbeda dengan sebagian besar negara Uni Eropa—menuduh Ukraina sengaja menunda pemulihan pasokan minyak. Sementara itu, Kyiv beralasan bahwa serangan Rusia yang berulang membahayakan teknisi selama proses perbaikan, dan menilai bahwa sekalipun diperbaiki, pipa Druzhba tetap rentan terhadap serangan lanjutan.
Pemerintah Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán merespons dengan langkah politik di tingkat Uni Eropa. Hungaria memblokir rencana pinjaman Uni Eropa senilai 90 miliar euro kepada Ukraina dan menyatakan akan memveto keputusan apa pun yang mendukung Ukraina sampai pasokan minyak dipulihkan.
Berbicara dalam sebuah forum ekonomi pada 5 Maret, Orbán menegaskan akan menggunakan instrumen politik dan keuangan untuk menekan Ukraina. “Kita akan menang, dan kita akan menang dengan kekuatan,” ujarnya, merujuk pada konfrontasi terkait pasokan minyak. Ia menambahkan, “Kita memiliki perangkat politik dan keuangan, dan dengan perangkat ini, kita akan memaksa mereka, tanpa syarat dan sesegera mungkin, untuk membuka kembali jalur pipa Druzhba. Saya tidak akan berkompromi, tidak akan ada konsesi.”

