Wacana pelarangan kecerdasan buatan (AI) kembali menguat, dengan alasan bahaya dan risiko sosial yang ditimbulkannya. Namun, menjadikan AI sebagai sasaran utama dinilai sebagai langkah yang keliru.
Dalam pandangan tersebut, AI disebut hanya sebagai sub-alat. Persoalan utama justru dinilai berada pada pengguna sebagai perangkat utama, serta pada kesiapan manusia dalam mengelola dan memanfaatkan teknologi itu.
Karena itu, perdebatan mengenai dampak AI dinilai perlu lebih menekankan pada faktor manusia, termasuk bagaimana teknologi digunakan dan sejauh mana kesiapan dalam mengaturnya, ketimbang semata-mata menempatkan AI sebagai sumber masalah.

