BERITA TERKINI
Utang Publik AS Lampaui PDB, Tembus 100% untuk Pertama Kali Sejak Perang Dunia II

Utang Publik AS Lampaui PDB, Tembus 100% untuk Pertama Kali Sejak Perang Dunia II

Beban fiskal Amerika Serikat memasuki fase baru setelah nilai utang publiknya resmi melampaui ukuran ekonomi nasional untuk pertama kalinya sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Berdasarkan data per 31 Maret 2026, total utang publik AS tercatat mencapai US$31,27 triliun atau setara Rp542.045 triliun dengan asumsi kurs Rp17.334,35 per dolar AS. Angka itu sedikit lebih tinggi dibanding produk domestik bruto (PDB) AS yang berada di level US$31,22 triliun atau sekitar Rp541.176 triliun.

Dengan perkembangan tersebut, rasio utang terhadap PDB AS menembus 100% atau tepatnya 100,16%. Artinya, jumlah utang pemerintah kini lebih besar daripada total nilai barang dan jasa yang dihasilkan ekonomi domestik dalam setahun.

Presiden Committee for a Responsible Federal Budget (CRFB), Maya MacGuineas, menilai kondisi ini sebagai sinyal serius bagi perekonomian terbesar di dunia. Ia memperingatkan, rekor historis pasca-Perang Dunia II berpotensi terlampaui dalam waktu dekat. “Sekarang hanya masalah waktu sampai kita melampaui rekor 106% yang tercapai setelah Perang Dunia II. Lonjakan utang kali ini bukan disebabkan konflik global besar, melainkan kegagalan politik bipartisan dalam pengambilan keputusan fiskal,” ujar MacGuineas, sebagaimana dilansir Fox Business, Sabtu (2/5/2026).

Proyeksi juga menunjukkan tekanan fiskal berpeluang berlanjut. Lembaga nonpartisan Congressional Budget Office (CBO) memperkirakan rasio utang publik AS akan naik menjadi 108% pada 2030, melampaui rekor tahun 1946. Dalam proyeksi 10 tahun ke depan, rasio tersebut diperkirakan meningkat hingga 120%.

CBO memperingatkan, laju kenaikan utang yang lebih cepat dibanding pertumbuhan ekonomi dapat memicu masalah sistemik. Risiko yang disebut antara lain penekanan investasi swasta serta membengkaknya biaya bunga utang yang harus ditanggung pemerintah.

Rasio utang di atas 100% PDB juga dinilai berpotensi menekan pertumbuhan pendapatan masyarakat. Selain itu, beban fiskal yang besar diperkirakan dapat mendorong kenaikan suku bunga lebih lanjut dan memicu volatilitas inflasi.

Sejumlah ekonom memandang rasio utang terhadap PDB sebagai indikator penting untuk mengukur kemampuan sebuah negara dalam memenuhi kewajibannya. Dengan posisi utang AS saat ini, ruang fiskal pemerintah di Washington dinilai semakin sempit untuk merespons potensi guncangan ekonomi pada masa mendatang.

Statistik Utang Nasional AS (per 31 Maret 2026):
Total utang publik: US$31,27 triliun (Rp542.045 triliun)
Total PDB: US$31,22 triliun (Rp541.176 triliun)
Rasio utang vs PDB: 100,16%
Proyeksi rasio 2030: 108%
Rekor historis (1946): 106%