BERITA TERKINI
Uni Eropa: Rusia Diuntungkan Jika Konflik Iran Memanas, Desak AS Perketat Tekanan Ekonomi

Uni Eropa: Rusia Diuntungkan Jika Konflik Iran Memanas, Desak AS Perketat Tekanan Ekonomi

Perwakilan Tinggi Uni Eropa Kaja Kallas memperingatkan keterkaitan antara konflik di Iran dan perang di Ukraina, seraya menilai Rusia berada di balik kedua konflik tersebut dan memperoleh keuntungan besar dari situasi yang berkembang.

Pernyataan itu disampaikan Kallas dalam pertemuan para menteri luar negeri G7 di Prancis pada Kamis (26/3/2026). Dalam forum tersebut, ia mendesak Amerika Serikat untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Kremlin.

Kallas menyoroti bahwa Moskwa diuntungkan oleh lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik di Timur Tengah. Menurutnya, kondisi ekonomi global saat ini justru berpihak pada Rusia karena kenaikan harga minyak yang dramatis membalikkan tren penurunan ekonomi Rusia sebelumnya.

Ia juga menyebut laporan bahwa Rusia memberikan bantuan intelijen dan pesawat nirawak (drone) kepada Teheran. Bantuan tersebut, kata Kallas, diduga digunakan untuk menyasar aset militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

“Kita melihat bahwa Rusia membantu Iran dengan intelijen untuk menargetkan warga Amerika, untuk membunuh warga Amerika. Rusia juga mendukung Iran dengan drone agar mereka dapat menyerang negara tetangga dan pangkalan militer AS,” ujar Kallas.

Kallas menegaskan bahwa Washington tidak bisa memisahkan konflik di Timur Tengah dari perang di Ukraina jika ingin mencapai perdamaian. Ia menilai tekanan terhadap Rusia diperlukan agar Moskwa tidak dapat membantu Iran.

“Perang-perang ini sangat berkaitan erat. Jadi, jika Amerika ingin perang di Timur Tengah berhenti dan Iran berhenti menyerang mereka, mereka juga harus memberikan tekanan pada Rusia agar mereka tidak dapat membantu Iran dalam hal ini,” tambahnya.

Di sisi lain, langkah Gedung Putih yang melonggarkan sanksi terhadap minyak Iran dan Rusia untuk menenangkan pasar energi dilaporkan memicu kekecewaan di kalangan negara-negara Eropa.

Kallas menekankan pentingnya solusi diplomatik atau “jalan keluar” agar konflik dapat segera diakhiri. Terkait pengamanan jalur perdagangan di Selat Hormuz, ia menyatakan Eropa hanya akan bergabung dalam koalisi keamanan setelah pertempuran berakhir.

“Kita butuh jalan keluar, bukan eskalasi. Harus ada solusi diplomatik agar kawasan ini keluar dengan lebih kuat dan damai,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kallas juga mengingatkan agar perhatian dunia tidak teralihkan sepenuhnya dari Ukraina. Ia menyebut meningkatnya intensitas konflik di Timur Tengah mulai mengganggu pasokan senjata dan sistem pertahanan udara yang sangat dibutuhkan Kyiv.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan kekhawatiran atas strategi pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Dalam wawancara dengan Reuters, Zelensky mengatakan jaminan keamanan dari AS kini dikaitkan dengan syarat agar Kyiv menyerahkan seluruh wilayah Donbas kepada Moskow.

“Presiden Trump, sayangnya, menurut hemat saya, masih memilih strategi untuk memberikan lebih banyak tekanan pada pihak Ukraina,” kata Zelensky.