Universitas Hasanuddin (Unhas) menegaskan komitmennya memperkuat posisi di kancah global melalui program pengembangan kapasitas kepemimpinan berbasis literasi internasional. Salah satu langkah yang diambil adalah penyelenggaraan kelas perdana Bahasa Arab yang digelar di Kampus Tamalanrea pada Jumat, 12 Maret 2026.
Kelas perdana ini diikuti jajaran pimpinan tertinggi Unhas, mulai dari Rektor, Ketua Senat Akademik, para Wakil Rektor, hingga para Dekan. Kehadiran seluruh unsur pimpinan tersebut dinilai mencerminkan kohesi institusional dalam mendukung agenda internasionalisasi yang lebih substantif.
Program pembelajaran dipandu Prof. Dr. Yusring Sanusi Baso, M.App. Ling., pakar linguistik terapan Unhas. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa kelas ini tidak hanya berfokus pada pengenalan tata bahasa secara konvensional, melainkan juga membahas keterkaitan aspek kebahasaan dengan konteks sosiokultural serta protokol profesional di kawasan Timur Tengah.
“Pendekatan ini bertujuan membekali para pimpinan dengan cultural capital (modal budaya) yang krusial dalam menavigasi kolaborasi riset dan pendidikan di level transnasional,” kata Prof. Yusring.
Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menyatakan inisiatif tersebut melampaui kegiatan seremonial. Menurutnya, program ini menjadi instrumen strategis untuk memecah hambatan komunikasi dalam membangun kemitraan global, khususnya dengan kawasan Timur Tengah.
“Inisiasi ini merupakan bentuk intellectual refreshing sekaligus jembatan strategis bagi jajaran pimpinan untuk membangun kemitraan yang lebih inklusif di Timur Tengah. Dengan menguasai instrumen bahasa dan memahami dinamika budaya secara komprehensif, kita sedang meletakkan fondasi bagi diplomasi akademik yang lebih setara dan berkelanjutan di masa depan,” ujarnya.
Unhas juga menekankan pentingnya keberlanjutan program agar menjadi agenda rutin institusional. Secara umum, penguasaan bahasa dan pemahaman budaya asing dipandang berperan dalam diplomasi sains di perguruan tinggi, karena dapat memfasilitasi komunikasi ilmiah lintas negara, memperluas jejaring riset, serta memperkuat kepercayaan antarmitra akademik.
Selain membuka akses terhadap literatur global dan mendukung partisipasi dalam forum ilmiah internasional, pemahaman budaya dinilai membantu akademisi membaca norma, etika kolaborasi, dan sensitivitas sosial dalam kerja sama riset. Kombinasi kompetensi linguistik dan kultural itu disebut menjadi modal strategis universitas dalam membangun kolaborasi internasional yang lebih setara dan berkelanjutan.

