Uni Emirat Arab (UEA) menolak keras langkah Iran yang disebut hampir menutup Selat Hormuz. Pemerintah UEA menegaskan jalur pelayaran tersebut “tidak pernah menjadi milik Iran untuk ditutup atau dibatasi”.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Industri UEA sekaligus pimpinan perusahaan minyak negara Abu Dhabi, Sultan Ahmed Al Jaber, melalui media sosial. Ia menyebut setiap upaya mengganggu Selat Hormuz bukan hanya persoalan kawasan, melainkan ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi global.
Menurut Al Jaber, Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi, pangan, dan kebutuhan dasar dunia. Karena itu, gangguan terhadap jalur tersebut dinilai akan berdampak luas bagi semua negara.
Sejak operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, Teheran disebut telah mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. Ancaman ini dilaporkan membuat arus pengiriman energi global nyaris terhenti serta mendorong lonjakan harga minyak dan gas.
Al Jaber menegaskan tindakan semacam itu merupakan preseden yang ilegal, berbahaya, dan tidak dapat diterima. Ia juga menyatakan dunia tidak mampu menanggung dampaknya dan tidak boleh membiarkan hal tersebut terjadi.