Brussels — Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan Uni Eropa (UE) akan mempercepat langkah untuk menghentikan seluruh impor minyak dan gas dari Rusia. Ia menilai pendapatan Moskow dari penjualan energi fosil menjadi penopang utama ekonomi perang Rusia.
Von der Leyen juga menyampaikan bahwa ia telah berbicara dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dalam pembicaraan itu, Trump mengaitkan sanksi tambahan AS terhadap Rusia dengan syarat Eropa menghentikan pembelian minyak Rusia serta menaikkan tarif impor dari Cina.
Saat ini, rencana UE menargetkan penghentian penuh impor minyak Rusia pada 2027 dan gas pada 2028. Namun, von der Leyen menyatakan Komisi Eropa akan segera mengajukan paket sanksi ke-19 yang mencakup sektor kripto, perbankan, dan energi.
Di tengah perkembangan tersebut, ribuan warga Slovakia turun ke jalan memprotes kebijakan ekonomi dan sikap pro-Rusia Perdana Menteri Robert Fico. Aksi itu berlangsung ketika Fico melakukan perjalanan ke Cina untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, yang disebut sebagai pertemuan ketiganya sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina dimulai.
Para pengkritik menilai Fico mengikuti jejak Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban, yang dikenal kerap menghambat upaya sanksi Uni Eropa terhadap Moskow.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan ia tidak terlalu optimistis mengenai kemajuan upaya perdamaian Ukraina dalam waktu dekat. Dalam konferensi pers di New York, Guterres mengatakan perang antara Rusia dan Ukraina kemungkinan akan berlangsung “setidaknya untuk beberapa waktu”, mengindikasikan konflik belum menunjukkan tanda akan segera berakhir meski ada berbagai upaya diplomasi.
Pernyataan itu muncul di tengah harapan yang sempat menguat setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Agustus 2025, yang dinilai bisa membuka jalan bagi negosiasi perdamaian, namun hingga kini belum membuahkan hasil konkret.

