Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan perubahan nada terkait perang Rusia-Ukraina. Jika sebelumnya ia kerap dinilai lebih lunak terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, kini Trump menyatakan dukungan yang lebih tegas bagi Ukraina untuk menghadapi invasi Rusia. Di Kyiv, pergeseran sikap tersebut disambut dengan optimisme, meski disertai kehati-hatian.
Perubahan itu terlihat dari unggahan Trump di platform Truth Social, setelah ia berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa di New York dan bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Dalam unggahannya, Trump menilai Ukraina dapat merebut kembali seluruh wilayahnya “dan mungkin lebih dari itu.”
Trump juga menulis bahwa ia memahami situasi militer dan ekonomi Ukraina serta Rusia. Ia menyebut Ukraina, dengan dukungan Uni Eropa, berpeluang merebut kembali wilayah dalam bentuk aslinya, asalkan memiliki waktu, kesabaran, serta bantuan finansial dari Eropa—terutama melalui NATO. Ia menambahkan, Rusia telah berperang selama sekitar tiga setengah tahun tanpa arah yang jelas, dan menyebut perang semestinya bisa dimenangkan kekuatan militer yang “sejati” dalam waktu singkat.
Pandangan itu kembali disampaikan Trump dalam pertemuan lanjutan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Ia memperingatkan Rusia berisiko menjadi “macan kertas” karena capaian militernya terbatas meski korban jiwa besar. Namun, Trump juga mengakui perang kemungkinan masih akan berlangsung lama.
Zelensky menanggapi pernyataan Trump dengan optimisme terbatas. Dalam wawancara dengan Fox News, ia menyebut unggahan Trump sebagai kejutan kecil yang menggembirakan dan melihat “sinyal yang sangat positif” bahwa Trump dan Amerika Serikat akan berdiri di pihak Ukraina hingga perang berakhir. Ia menambahkan, pertemuan terbarunya dengan Trump berlangsung baik dan menjadi pembahasan paling menyeluruh dibanding sebelumnya, serta mengklaim hubungan keduanya kini lebih baik.
Pertemuan Zelensky dan Trump pada Februari lalu di Oval Office sempat berakhir ricuh di depan kamera. Saat itu, Zelensky berupaya menjelaskan posisi Ukraina dalam mempertahankan diri dari agresi Rusia, namun kemudian diminta meninggalkan Gedung Putih.
Kini, Trump justru menyampaikan pujian terhadap Zelensky. Dalam pernyataan resmi Gedung Putih yang dikutip dari akun X milik presiden AS, Trump menyebut Zelensky sebagai pria pemberani yang bertempur dalam perang sengit.
Di Ukraina, respons atas retorika baru Trump beragam. Penasihat Kantor Kepresidenan Ukraina, Mykhailo Podolyak, menduga perubahan sikap itu terjadi karena Trump menyadari Putin telah merusak reputasinya sendiri. Podolyak menilai Trump sebelumnya berharap kedekatan dengan Putin dapat membantunya menemukan solusi konflik besar di Eropa dan memperkuat citra kepemimpinannya, namun kemudian menyadari harapan itu ilusi.
Podolyak menekankan hal terpenting dari perubahan retorika ini adalah kesiapan Amerika Serikat untuk menjual lebih banyak senjata ke negara-negara Eropa melalui NATO, yang menurutnya harus benar-benar sampai ke medan tempur. Ia juga menyambut tekanan AS kepada Eropa agar menghentikan sanksi yang dinilai setengah hati—yang disebut telah mencapai 18 paket—dan beralih ke larangan yang lebih nyata, termasuk sanksi sekunder terhadap negara-negara yang masih membeli energi dari Rusia. Menurut Podolyak, tekanan ekonomi merupakan cara paling efektif untuk mendorong Kremlin menghentikan perang.
Namun, sejumlah tokoh oposisi menilai pernyataan Trump dapat menimbulkan harapan palsu. Oleksiy Honcharenko dari partai oposisi Solidaritas Eropa mengatakan pernyataan itu bukan bantuan nyata dan menilai Trump ingin melepaskan diri dari konflik. Ia menilai Trump tidak berbicara tentang kemenangan Ukraina, melainkan seolah menyerahkan urusan kepada Uni Eropa.
Rekan satu fraksinya, Volodymyr Ariev, juga mengingatkan agar masyarakat Ukraina tidak memupuk ilusi. Menurutnya, posisi Trump pada dasarnya tidak berubah: Ukraina bisa menang jika memiliki cukup senjata, sementara perang akan terus berlangsung. Ia menambahkan, perubahan kondisi perang baru bisa dibicarakan apabila Trump dan Eropa benar-benar mengirim lebih banyak senjata dan menjatuhkan sanksi berat. Untuk saat ini, ia menilai Ukraina harus bertahan dan mengandalkan kekuatan pertahanan sendiri.
Jaroslav Zhelezniak dari oposisi Partai Holos menyatakan lebih singkat bahwa ia tidak melihat hal baru dari pernyataan Trump maupun dampak yang bisa diharapkan.
Dari kubu pemerintah, Danylo Hetmantsev dari Partai Diener des Volkes menilai Trump pada akhirnya menyadari Rusia tidak menginginkan perdamaian. Namun ia menyebut pernyataan Trump bahwa perang akan berlangsung lama sebagai skenario buruk, karena berarti Trump yang sebelumnya yakin dapat cepat mengakhiri perang kini tidak lagi yakin bisa melakukannya.
Soal alasan perubahan sikap Trump, Direktur Pusat Riset Sosial Ukrainian Meridian, Dmytro Lewus, menilai hal itu merupakan hasil kerja diplomatik Ukraina bersama mitra-mitra Eropanya. Ia menyebut kunjungan Zelensky ke Washington bersama para pemimpin Uni Eropa dan NATO sebagai keberhasilan. Lewus juga menilai Rusia turut memengaruhi Trump: meski telah menerima berbagai bentuk konsesi, Moskow tetap bersikukuh pada posisinya dan bahkan menuntut Kyiv menyerah, yang disebut dapat membuat Trump kecewa.
Namun Oleksandr Kraiev, pakar Amerika Utara dari Ukrainian Prism, bersikap skeptis. Ia menyebut retorika Trump sebagai “diplomasi burung beo” yang hanya mengulang apa yang baru didengarnya setelah bertemu delegasi Eropa dan Ukraina. Kraiev juga mengatakan Trump menuntut Eropa memberlakukan sanksi terhadap Cina, India, dan negara lain yang berpihak pada Rusia, sementara dirinya ingin tampil sebagai mediator. Ia menilai langkah itu positif, tetapi tetap didorong kepentingan Trump sendiri.
Pandangan serupa disampaikan Taras Beresovets, mantan jurnalis yang kini menjadi perencana strategi politik dan personel militer. Ia menduga retorika baru Trump lebih terkait dengan perubahan taktik Amerika Serikat terhadap Cina. Menurutnya, pernyataan itu lebih merupakan upaya menaikkan taruhan bukan terhadap Moskow, melainkan terhadap Beijing. Ia juga mengingatkan sikap Trump bisa berubah lagi sewaktu-waktu, sehingga Ukraina tidak perlu bereuforia namun juga tidak perlu putus asa.

