Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Presiden China Xi Jinping akan melakukan kunjungan resmi ke Amerika Serikat menjelang akhir tahun ini. Trump menyebut kunjungan tersebut sebagai bagian dari upaya kedua negara memperbaiki hubungan bilateral yang sempat memburuk akibat perang dagang berkepanjangan.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan NBC News yang direkam pada Rabu, 4 Februari. Pada hari yang sama, Trump dan Xi juga melakukan pembicaraan langsung yang membahas sejumlah isu strategis, termasuk perdagangan, Taiwan, perang Rusia-Ukraina, serta situasi geopolitik di Iran.
“Dia akan datang ke Gedung Putih menjelang akhir tahun,” kata Trump dalam wawancara tersebut, yang sebagian cuplikannya ditayangkan pada Minggu (8/2/2026). Trump menekankan pentingnya hubungan Washington dan Beijing sebagai dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. “Ini adalah dua negara paling kuat di dunia dan kita memiliki hubungan yang sangat baik,” ujarnya.
Sebelum kunjungan Xi ke Washington, Trump juga dikabarkan berencana melakukan lawatan ke China pada April mendatang. Rangkaian kunjungan ini dipandang sebagai sinyal diplomatik untuk menurunkan tensi yang sempat meningkat, menyusul kebijakan tarif agresif AS terhadap sejumlah produk China.
Sejak kembali menjabat setahun lalu, Trump dikenal mendukung kebijakan tarif. Pemerintahannya memberlakukan bea masuk khusus sektor pada baja, mobil, dan berbagai komoditas lain, sekaligus memperluas kebijakan tarif untuk mencapai tujuan ekonomi dan politik tertentu.
Meski sempat terjadi eskalasi besar pada musim semi lalu, Gedung Putih dan Beijing kemudian mencapai kesepakatan gencatan senjata dagang. Namun, upaya AS untuk mengurangi ketergantungan pada manufaktur China tetap berjalan, sementara kedua negara masih terikat kuat secara ekonomi.
Dari pihak China, Xi Jinping—yang terakhir kali mengunjungi AS pada 2023—memperingatkan Trump agar bertindak “dengan hati-hati” terkait penjualan senjata ke Taiwan, wilayah yang berpemerintahan sendiri namun diklaim China sebagai bagian dari teritorinya. Xi juga menyatakan harapannya agar persoalan bilateral, terutama perdagangan, dapat diselesaikan secara damai.
“Dengan menangani masalah satu per satu dan terus membangun kepercayaan bersama, kita dapat menciptakan jalan yang tepat bagi kedua negara untuk bergaul,” ujar Xi, seperti dikutip dari stasiun televisi pemerintah China, CCTV, Senin (9/2/2026).
Trump menilai pembicaraannya dengan Xi berlangsung positif. “Percakapannya sangat baik, dan kita berdua menyadari betapa pentingnya untuk menjaga agar tetap seperti itu,” kata Trump.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga mendorong pembicaraan trilateral dengan Rusia dan China terkait penetapan batasan baru senjata nuklir. Hingga kini, Beijing masih menolak bergabung dalam negosiasi perlucutan senjata tersebut.

