BERITA TERKINI
Trump Dikabarkan Pertimbangkan Serangan Terbatas ke Iran di Tengah Negosiasi Nuklir

Trump Dikabarkan Pertimbangkan Serangan Terbatas ke Iran di Tengah Negosiasi Nuklir

JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas terhadap Iran, sembari membuka kemungkinan langkah yang lebih besar apabila jalur diplomasi tidak membuahkan hasil. Laporan menyebut Trump telah menyampaikan kepada para penasihatnya bahwa ia akan menimbang operasi militer skala luas dalam beberapa bulan ke depan jika perundingan maupun serangan terbatas tidak menghentikan program nuklir Teheran.

Putaran baru pembicaraan AS–Iran dijadwalkan berlangsung pada Kamis di Jenewa, dengan mediasi Oman. Pertemuan ini menyusul pertemuan sebelumnya di Muscat pada 6 Februari dan Jenewa pada 17 Februari. Negosiasi tersebut disebut sebagai upaya terakhir untuk mencegah konflik militer.

Dalam laporan yang dikutip Anadolu pada Selasa (24/2/2026), Trump disebut cenderung meluncurkan serangan terarah dalam beberapa hari ke depan untuk mengirim sinyal kepada Iran. Target potensial yang disebut mencakup markas Korps Garda Revolusi Islam, fasilitas nuklir, serta infrastruktur rudal balistik. Jika langkah itu tidak berhasil, Trump dikabarkan mempertimbangkan operasi militer yang lebih besar, dengan tujuan menggulingkan kepemimpinan Iran.

Meski demikian, sejumlah pejabat dilaporkan meragukan efektivitas serangan udara semata. Opsi operasi khusus terhadap fasilitas nuklir yang diperkuat disebut telah dikesampingkan karena dinilai berisiko tinggi. Gedung Putih menolak berkomentar mengenai laporan tersebut. Juru bicara Anna Kelly menyatakan hanya Trump yang mengetahui langkah apa yang akan diambil.

Di sisi lain, kedua pihak disebut membahas kemungkinan kompromi yang memungkinkan Iran mempertahankan pengayaan uranium terbatas untuk kepentingan riset dan medis. Namun, belum jelas apakah Washington atau Teheran akan menerima skema itu. Trump secara terbuka menegaskan setiap kesepakatan harus menghasilkan “nol pengayaan”, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menekankan hak Iran di bawah Traktat Nonproliferasi Nuklir.

Situasi ini berlangsung di tengah peningkatan kehadiran militer AS di kawasan. Data pelacakan menunjukkan dua kelompok kapal induk, jet tempur, pembom, dan pesawat pengisian bahan bakar telah dikerahkan dalam jangkauan Iran. Diskusi mengenai opsi serangan dilaporkan berlangsung di Ruang Situasi Gedung Putih pekan lalu, dengan kehadiran Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine, serta Direktur CIA John Ratcliffe.