Token—unit dasar yang diproses model kecerdasan buatan (AI) saat menerima dan menghasilkan teks—kian diperlakukan sebagai komoditas ekonomi baru. Dalam praktik layanan AI berbasis API, token juga menjadi satuan penagihan: pengguna membayar sesuai jumlah token input dan output yang diproses. Perubahan ini membuat persaingan AI tidak lagi semata soal kualitas model, melainkan juga soal siapa yang menguasai infrastruktur komputasi yang memproduksi dan mendistribusikan token.
Selama ini, pasar layanan token secara implisit didominasi perusahaan Amerika Serikat seperti OpenAI, Anthropic, dan Google, yang menetapkan harga, arsitektur, serta mengandalkan infrastruktur pusat data dan chip yang terkonsentrasi di ekosistem AS. Namun, kemunculan model-model dari China—terutama DeepSeek dan keluarga Qwen milik Alibaba—mulai menggeser struktur tersebut, terutama karena faktor harga yang jauh lebih murah.
Menurut analisis Bernstein, harga token dari model-model China dapat 20 hingga 40 kali lebih rendah dibanding pesaing dari AS. Disebutkan, model Reasoner dari DeepSeek diperkirakan sekitar US$0,55 per satu juta token input. Dalam perbandingan yang disampaikan dalam data referensi, biaya yang bisa mencapai sekitar US$50 per satu juta token pada infrastruktur OpenAI tersedia di DeepSeek pada kisaran US$1 hingga US$2. Bagi perusahaan rintisan dan bisnis yang sensitif terhadap biaya komputasi, perbedaan ini membuat pemilihan penyedia AI menjadi keputusan ekonomi yang sulit diabaikan.
Efisiensi biaya itu dikaitkan dengan beberapa faktor, antara lain pendekatan arsitektur campuran pakar (mixture of experts) yang tidak mengaktifkan seluruh parameter model untuk setiap kueri, biaya pelatihan yang disebut jauh lebih rendah (DeepSeek melatih reasoner R1 dengan US$294.000), subsidi pemerintah untuk infrastruktur AI, gaji teknik yang lebih rendah dibanding Silicon Valley, serta insentif pajak untuk riset dan pengembangan.
Di tengah perubahan ini, Alibaba mengambil langkah organisasi yang menegaskan fokus pada ekonomi token. Pada 16 Maret 2026, CEO Alibaba Eddie Wu mengumumkan pembentukan unit bisnis baru bernama Alibaba Token Hub melalui memo internal. Unit ini menggabungkan lima entitas: Laboratorium Tongyi (riset dasar), platform MaaS (Model-as-a-Service) sebagai infrastruktur distribusi, lini produk Qwen untuk konsumen, penawaran AI perusahaan Wukong, dan unit inovasi AI. Wu merumuskan misi unit tersebut sebagai “menciptakan token, mendistribusikan token, dan menggunakan token”.
Wu juga menggambarkan arsitektur ini dengan analogi jaringan listrik: Tongyi Lab sebagai pembangkit, MaaS sebagai jaringan transmisi, dan produk akhir sebagai perangkat konsumen. Di saat yang sama, Alibaba mengumumkan investasi sekitar US$53 miliar selama tiga tahun untuk infrastruktur AI dan cloud—jumlah yang, menurut perusahaan, melampaui total belanja modal grup dalam satu dekade terakhir. Wu mengindikasikan angka itu dapat ditingkatkan untuk mengejar permintaan yang disebut melonjak.
Skala konsumsi token di China juga ditampilkan sebagai indikator percepatan adopsi AI. Rata-rata konsumsi token harian disebut naik dari 100 miliar pada awal 2024 menjadi 100 triliun pada akhir 2025. Pada Maret 2026, Biro Statistik Nasional China melaporkan angka lebih dari 140 triliun token per hari. Wakil Direktur Biro Statistik Mao Shengyong menafsirkan lonjakan itu sebagai bukti terobosan bertahap dalam adopsi luas aplikasi AI di industri.
Di tingkat global, pergeseran terlihat dari data OpenRouter—platform agregasi API model AI. Pada pekan 15 Maret 2026, model-model China mencatat volume token mingguan 7,36 triliun dan melampaui model-model AS untuk minggu ketiga berturut-turut. Empat dari lima model paling banyak digunakan berdasarkan volume token disebut berasal dari China. Volume token mingguan global di OpenRouter pada periode itu mencapai 20,4 triliun token, dengan laju pertumbuhan lebih dari 20% per minggu.
JPMorgan, dalam proyeksi jangka panjang yang dikutip, memperkirakan konsumsi token inferensi AI di China meningkat dari sekitar 10 kuadriliun pada 2025 menjadi sekitar 3.900 kuadriliun pada 2030—kenaikan 370 kali lipat dalam lima tahun. Angka-angka ini dipakai untuk menegaskan bahwa ekonomi token dipandang sebagai pasar yang tumbuh secara struktural, bukan tren sesaat.
Di balik persaingan harga, strategi ekspor token China digambarkan memiliki dimensi geopolitik. Skema dasarnya: pengguna di luar negeri memanggil model AI China, permintaan diproses di pusat data China dengan chip dan listrik yang tersedia di sana, lalu hasilnya dikirim kembali sebagai token dan ditagihkan. Mekanisme ini tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga berpotensi membentuk ketergantungan teknis dan ekonomi terhadap infrastruktur China.
Strategi ini juga dikaitkan dengan konsep Jalur Sutra Digital yang telah digulirkan China selama bertahun-tahun, termasuk upaya membangun kemitraan melalui investasi infrastruktur digital, inisiatif pendidikan, dan solusi tata kelola cerdas. Disebut pula pembentukan Organisasi Data Dunia pada 2026 dengan 200 anggota dari lebih 40 negara, yang diarahkan untuk menetapkan standar internasional terkait data.
Peran pendekatan sumber terbuka menjadi salah satu pengungkit utama. Dengan membuat model dapat diakses lebih luas, hambatan adopsi turun drastis. Dalam data referensi, pangsa pasar DeepSeek di pasar chatbot global disebut 4%. Keluarga model Qwen disebut telah diunduh lebih dari 700 juta kali pada Januari 2026. Model AI China secara total disebut mencapai pangsa pasar global sekitar 15% pada November 2025, naik dari hampir nol setahun sebelumnya. Di beberapa negara, angkanya disebut lebih tinggi: DeepSeek 89% di China, 56% di Belarus, 49% di Kuba, dan sekitar 43% di Rusia.
Namun, strategi ini juga menghadapi keterbatasan utama pada sisi semikonduktor. Sejak Oktober 2022, kontrol ekspor AS melarang penjualan chip AI berkinerja setara Nvidia A100 ke China dan kemudian diperluas. Pada Mei 2025, Departemen Perdagangan AS memperingatkan bahwa penggunaan chip Ascend Huawei bisa melanggar aturan kontrol ekspor karena pengembangan dan produksinya disebut berbasis proses dan peralatan AS.
Huawei menyatakan rencana memproduksi sekitar 600.000 unit Ascend 910C pada 2026. Alibaba, ByteDance, dan Tencent disebut telah memesan dalam jumlah besar, sementara DeepSeek dilaporkan mengembangkan model V4 sepenuhnya menggunakan perangkat keras Huawei. Meski begitu, Council on Foreign Relations memperkirakan bahwa bahkan dengan proyeksi optimistis untuk 2027, Huawei hanya menghasilkan sekitar 4% dari total daya komputasi AI yang dihasilkan Nvidia.
Sejumlah analisis juga menyebut kontrol ekspor AS tidak sepenuhnya menahan laju penguatan industri chip domestik China. CSIS menyimpulkan pembatasan itu justru mengoordinasikan permintaan chip domestik dengan produsen lokal. Produsen semikonduktor China disebut menguasai 41% pasar domestik. Dalam kerangka ini, kontrol ekspor dinilai memengaruhi sisi akses perangkat keras tertentu, tetapi tidak memutus basis manufaktur fisik China yang menghasilkan data dunia nyata dari aplikasi industri.
Target utama ekspor token China digambarkan banyak mengarah ke negara berkembang dan kawasan Global South, yang lebih sensitif terhadap harga dan memiliki infrastruktur digital yang lebih lemah. Asia Tenggara disebut menjadi contoh penting: pada 2026, Malaysia disebut sebagai negara pertama di luar China yang mengaktifkan ekosistem AI “sepenuhnya berdaulat” berbasis chip Huawei Ascend. Afrika juga disebut sebagai kawasan kunci, meski pangsa pasar DeepSeek masih satu digit di sejumlah negara; angka 11–14% disebut untuk Ethiopia dan Uganda.
Di sisi lain, ada isu kedaulatan data bagi pengguna luar negeri. Permintaan yang diproses di pusat data China berarti data berada dalam yurisdiksi hukum China dan berpotensi dapat diakses negara. Dilema ini mendorong sebagian pihak mempertimbangkan pembangunan infrastruktur AI yang lebih berdaulat, meski langkah tersebut dinilai mahal dan menuntut secara teknis.
Selain pendapatan dari token, data penggunaan dipandang sebagai nilai strategis yang tidak langsung. Setiap permintaan menghasilkan pola interaksi dan sampel bahasa yang dapat menjadi bahan pelatihan model berikutnya. USCC menggambarkan dua lingkaran umpan balik: lingkaran digital, ketika model terbuka mendorong adopsi global dan pengembangan; serta lingkaran fisik, ketika aplikasi industri di basis manufaktur China menghasilkan data dunia nyata yang sulit direplikasi pesaing.
Respons Barat terhadap dinamika ini digambarkan belum padu. AS memperketat kontrol ekspor chip, tetapi pada Desember 2025 pemerintahan Trump disebut menyetujui penjualan chip Nvidia H200 ke China. Di saat yang sama, Kongres AS menggarap Undang-Undang MATCH untuk membatasi penjualan peralatan litografi imersi ASML yang lebih lama ke China. Eropa, dalam gambaran yang sama, disebut lebih banyak berfokus pada regulasi perlindungan data dan standar keamanan AI, sementara posisi infrastrukturnya di pasar token dinilai minim.
Dalam konteks ini, keputusan perusahaan—termasuk perusahaan menengah—untuk memilih API AI tertentu tidak lagi sekadar perkara teknis, melainkan memiliki konsekuensi ekonomi dan geopolitik. Memilih penyedia seperti DeepSeek atau Qwen berarti memilih pusat data dan infrastruktur komputasi yang berada di China, beserta implikasi yurisdiksi data yang menyertainya.
Meski strategi token China digambarkan koheren, sejumlah risiko tetap disebut: ketergantungan pada teknologi semikonduktor yang masih terkait rantai pasok Barat, kekhawatiran kedaulatan data dari pengguna asing, serta pertanyaan mengenai profitabilitas jangka panjang mengingat harga yang sangat rendah dan kompetisi domestik yang menekan margin. Namun, dengan proyeksi pertumbuhan konsumsi token yang besar, pasar ini dipandang cukup luas untuk menguji apakah investasi infrastruktur raksasa dapat terbayar.
Perbandingan token dengan minyak muncul karena token diperlakukan sebagai komoditas yang nilainya bertumpu pada infrastruktur yang memproduksi dan menyalurkannya—pusat data, chip, model, dan platform distribusi. Bedanya, token dapat direproduksi tanpa batas dan nilainya meningkat seiring kualitas model serta umpan balik data. Dalam kerangka itu, persaingan global AI bergeser dari sekadar “siapa model terbaik” menjadi “siapa yang menguasai produksi dan distribusi token” yang menopang layanan AI dunia.