BERITA TERKINI
The Fed Pangkas Suku Bunga 25 bps, AS dan China Sepakati Penurunan Tarif serta Komitmen Perdagangan

The Fed Pangkas Suku Bunga 25 bps, AS dan China Sepakati Penurunan Tarif serta Komitmen Perdagangan

Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), memutuskan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75–4% pada Rabu (29/10) waktu setempat. Keputusan ini sesuai ekspektasi konsensus dan menjadi pemangkasan suku bunga kedua secara beruntun di tengah kekhawatiran melemahnya pasar tenaga kerja AS.

Meski telah memangkas suku bunga, Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan pihaknya tidak menjamin akan melanjutkan pemangkasan pada pertemuan berikutnya pada Desember 2025. Powell menyoroti terhambatnya rilis data ekonomi terbaru akibat government shutdown yang berlangsung sejak awal Oktober 2025, serta inflasi AS yang masih tinggi. Sebagai konteks, pada pertemuan bulan sebelumnya The Fed memproyeksikan dua kali pemangkasan tambahan hingga akhir 2025, yang dapat membawa suku bunga ke kisaran 3,5–3,75%.

Selain kebijakan suku bunga, The Fed juga mengumumkan akan menghentikan penyusutan portofolio asetnya (quantitative tightening) mulai 1 Desember 2025. Langkah ini mengakhiri proses yang dimulai sejak 2022, seiring pengetatan likuiditas di pasar uang dan menurunnya cadangan perbankan.

Dari sisi geopolitik dan perdagangan, Presiden AS Donald Trump pada Kamis (30/10) menyatakan akan menurunkan tarif untuk produk impor asal China sebesar 10 percentage point, sehingga total tarif turun dari 57% menjadi 47%. Pernyataan itu disampaikan setelah Trump bertemu Presiden China Xi Jinping dalam acara Asia–Pacific Economic Cooperation (APEC) di Korea Selatan.

Trump juga menyebut AS dan China mencapai kesepakatan yang berlaku selama satu tahun dan diharapkan dapat diperbarui setiap tahun. Dalam kesepakatan tersebut, China disebut tidak akan memberlakukan pembatasan drastis atas ekspor rare earth minerals ke AS, melanjutkan impor kedelai dari AS, serta menindak perdagangan ilegal senyawa prekursor fentanil ke AS. Kedua pihak juga membahas akses chip buatan AS ke China—termasuk chip AI dari Nvidia—di tengah langkah otoritas China yang sebelumnya memperketat impor chip dan mendorong perusahaan teknologi domestik beralih ke produk lokal.

Kesepakatan AS–China, termasuk penurunan tarif, dinilai berpotensi menjadi perkembangan positif bagi prospek inflasi AS, mengingat inflasi merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan The Fed dalam menentukan arah suku bunga. Namun, ketidakpastian terkait kapan government shutdown berakhir tetap menjadi faktor yang perlu dipantau pelaku pasar.

Pergerakan pasar global pada Kamis (30/10) sore menunjukkan reaksi yang relatif terbatas, seiring pasar dinilai telah memperhitungkan ekspektasi perkembangan positif dari pertemuan Trump dan Xi. Sejumlah indeks tercatat melemah tipis, antara lain Shanghai Composite turun 0,73%, Stoxx 50 turun 0,50%, dan S&P Futures turun 0,04%.

Di pasar domestik, data kinerja harian menunjukkan IHSG berada di level 8.184 atau naik 0,22% dengan arus dana asing tercatat masuk sebesar Rp785 miliar. Kurs USD/IDR tercatat 16.640 atau menguat 0,13%. Harga emas berada di 4.016 atau naik 0,39%. Sementara itu, minyak turun 0,60% ke 64,5; batu bara naik 0,59% ke 111,6; CPO naik 0,17% ke 4.235; dan nikel naik 0,46% ke 15.366.

Dari sisi emiten, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) membukukan laba bersih Rp14,5 triliun pada 3Q25 (turun 6% secara tahunan, naik 15% secara kuartalan). Secara kumulatif, laba bersih 9M25 mencapai Rp40,8 triliun atau turun 10% secara tahunan dan disebut sedikit di bawah ekspektasi.

Cisarua Mountain Dairy (CMRY) mencatat laba bersih Rp607 miliar pada 3Q25 (naik 72% secara tahunan, naik 18% secara kuartalan) dengan laba bersih 9M25 sebesar Rp1,6 triliun (naik 39% secara tahunan), melampaui ekspektasi.

Hanjaya Mandala Sampoerna (HMSP) membukukan laba bersih Rp2,4 triliun pada 3Q25, pulih dibanding 2Q25 yang tertekan beban pajak one-off. Namun, laba bersih 9M25 mencapai Rp4,5 triliun atau turun 14% secara tahunan dan berada di bawah ekspektasi.

Wismilak Inti Makmur (WIIM) mencatat laba bersih Rp137 miliar pada 3Q25 (naik 127% secara tahunan, naik 82% secara kuartalan), sehingga laba bersih 9M25 menjadi Rp285 miliar (naik 37% secara tahunan).

Bank Syariah Indonesia (BRIS) membukukan laba bersih Rp1,8 triliun pada 3Q25 (naik 7% secara tahunan, turun 2% secara kuartalan). Laba bersih 9M25 mencapai Rp5,6 triliun (naik 9% secara tahunan) dan disebut sejalan dengan ekspektasi.

Bank CIMB Niaga (BNGA) mencatat laba bersih Rp1,8 triliun pada 3Q25 (naik 5% secara tahunan, naik 10% secara kuartalan) dan disebut menjadi laba bersih kuartalan tertinggi sepanjang masa. Laba bersih 9M25 sebesar Rp5,3 triliun (naik 3% secara tahunan) sejalan dengan ekspektasi.

Jasa Marga (JSMR) membukukan laba bersih Rp857 miliar pada 3Q25 (turun 10% secara tahunan, turun 9% secara kuartalan). Laba bersih 9M25 mencapai Rp2,7 triliun (turun 17% secara tahunan).

Erajaya Swasembada (ERAA) mencatat laba bersih Rp217 miliar pada 3Q25 (turun 19% secara tahunan, naik 7% secara kuartalan). Laba bersih 9M25 sebesar Rp786 miliar (turun 1% secara tahunan) disebut sejalan dengan ekspektasi. Sementara Sinar Eka Selaras (ERAL) membukukan laba bersih Rp45 miliar pada 3Q25 (turun 33% secara tahunan, naik 19% secara kuartalan), dengan laba bersih 9M25 sebesar Rp125 miliar (turun 21% secara tahunan).

Dalam pembaruan lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah berencana menawarkan lebih banyak fasilitas bagi eksportir sumber daya alam dalam revisi aturan penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA). Namun, ia tidak merinci fasilitas tambahan yang akan diberikan dan menegaskan pemerintah tidak akan memperluas aturan penempatan DHE di luar sektor SDA.

Sejumlah aksi korporasi juga diumumkan, antara lain rencana dividen interim dari Selamat Sempurna (SMSM), Tempo Scan Pacific (TSPC), Nusantara Sejahtera Raya (CNMA), dan Medco Energi Internasional (MEDC). Selain itu, Tower Bersama Infrastructure (TBIG) dan Allo Bank Indonesia (BBHI) menyampaikan rencana pembelian kembali saham (buyback) dalam periode 30 Oktober 2025–29 Januari 2026, yang disebut tidak memerlukan persetujuan RUPS seiring relaksasi dari OJK untuk mendukung stabilitas pasar modal.