Jakarta—Tensi geopolitik Rusia-Ukraina dilaporkan mereda setelah militer Rusia dikabarkan kembali ke barak. Perkembangan ini memicu pergerakan harga komoditas yang sebelumnya terdorong kekhawatiran konflik, dengan sejumlah komoditas melemah sementara sebagian lain bertahan atau justru menguat.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan bahwa Kementerian Pertahanan Rusia telah menarik tentara serta prasarana dan sarana pendukung dari perbatasan Ukraina. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers bersama Kanselir Jerman Olaf Scholz di Moskow.
Putin menegaskan Rusia tidak menginginkan perang dan menyatakan kesiapan mencari solusi bersama Barat melalui negosiasi. Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg juga menyambut sinyal tersebut, menyebut ada pertanda dari Moskow bahwa diplomasi akan berlanjut. Situasi ini membuat kekhawatiran eskalasi konflik mereda, yang kemudian berdampak pada pasar komoditas.
Minyak turun hingga lebih dari 3%
Harga minyak mentah dunia terkoreksi tajam pada perdagangan Selasa (15/2/2022), seiring meredanya sentimen risiko perang. Minyak Brent ditutup di US$ 93,28 per barel, turun 3,32%. Sementara West Texas Intermediate (WTI) ditutup di US$ 92,07 per barel, melemah 3,55%.
Rusia merupakan salah satu produsen dan distributor minyak terbesar dunia. Mengacu pada BP Statistical Review, Rusia menempati posisi produsen minyak terbesar nomor tiga dengan produksi 10,7 juta barel per hari pada 2020, setara 12,1% dari total produksi global. Karena itu, perkembangan konflik di kawasan tersebut kerap memengaruhi harga minyak.
Batu bara ikut melemah
Penurunan harga minyak turut menekan batu bara, mengingat keduanya sama-sama komoditas energi. Pada Selasa (15/2/2022), harga batu bara dunia ditutup di US$ 215,4 per ton, turun 2,09% dibandingkan hari sebelumnya.
Aset safe haven terkoreksi
Meredanya ketidakpastian geopolitik juga mendorong pelemahan aset safe haven yang biasanya diburu saat risiko konflik meningkat. Emas spot ditutup di US$ 1.853 per troy ons pada Selasa (15/2/2022), turun 0,92%. Perak turun lebih dalam, melemah 2,06% menjadi US$ 23,34 per ons.
Nikel menguat di tengah persediaan menipis
Berbeda dengan sejumlah komoditas lain, harga nikel justru menguat. Rusia tercatat sebagai produsen nikel terbesar nomor tiga dunia dengan produksi 280.000 ton pada 2020, mengacu data Statista. Meski demikian, faktor persediaan yang terus menipis disebut mendorong kenaikan harga.
Pada Rabu (16/2/2022) pukul 13.46 WIB, harga nikel tercatat US$ 23.425 per ton, naik 0,57% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
CPO tertekan mengikuti minyak
Harga crude palm oil (CPO) melemah seiring anjloknya harga minyak mentah, mengingat CPO dapat diolah menjadi biodiesel sebagai substitusi bahan bakar. Pada Rabu (16/2/2022) pukul 13.42 WIB, harga CPO di Bursa Malaysia tercatat MYR 5.516 per ton, turun 2,49%.

