Konflik dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang berlangsung beberapa tahun terakhir kian bergerak melampaui isu neraca perdagangan dan tarif impor-ekspor. Ketegangan kini mencerminkan persaingan strategis yang lebih luas antara dua kekuatan besar dunia, mencakup teknologi, keamanan nasional, hingga pengaruh geopolitik di panggung global.
Perang dagang berawal dari kebijakan tarif yang diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap berbagai produk China. Kebijakan itu didorong oleh alasan ketidakseimbangan perdagangan serta anggapan adanya perlakuan yang tidak adil terhadap perusahaan asing di China. Namun, seiring waktu, isu teknologi, keamanan, dan geopolitik semakin menonjol, membuat perseteruan menjadi lebih kompleks dan berpotensi berlangsung panjang.
Lembaga riset BCA Research menilai konflik tarif saat ini hanya bagian permukaan dari rivalitas struktural kedua negara. Ketegangan tersebut dinilai dapat berkembang ke bentuk konfrontasi lain, meski tidak selalu mengarah pada konflik militer terbuka.
Dalam beberapa tahun terakhir, strategi AS terhadap China digambarkan lebih selektif namun tegas. AS tetap menerapkan tarif terhadap produk China, tetapi cenderung menghindari pengenaan tarif terhadap negara lain. Pendekatan ini dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi global sekaligus memusatkan tekanan pada pihak yang dianggap pesaing strategis utama, yakni China.
Ada sejumlah faktor yang mendorong fokus tekanan AS tersebut. Pertama, dominasi teknologi dan isu keamanan nasional. AS memandang ambisi teknologi China di bidang kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan jaringan 5G sebagai tantangan terhadap keunggulan strategisnya. Kekhawatiran atas ketergantungan teknologi juga mendorong pembatasan terhadap perusahaan seperti Huawei dan TikTok.
Kedua, faktor geopolitik di Asia Pasifik. Aktivitas China di kawasan, termasuk Laut China Selatan dan Taiwan, memicu kekhawatiran di Washington. AS merespons melalui penguatan kerja sama militer dan diplomatik dengan mitra strategis di kawasan sebagai bagian dari upaya penyeimbangan.
Ketiga, kalkulasi politik domestik. Sikap tegas terhadap China menjadi isu yang populer lintas partai di AS, sehingga pemerintahan yang mengambil pendekatan keras cenderung memperoleh dukungan politik luas, terutama menjelang pemilu.
Di sisi lain, China merespons tekanan AS melalui kombinasi kebijakan ekonomi dan strategi politik. Langkah yang diambil mencakup tarif balasan hingga intervensi mata uang. Pada awal April 2025, nilai tukar yuan melemah ke level terendah sejak 2007, baik di pasar offshore maupun onshore. Pelemahan ini dipandang tidak hanya mencerminkan tekanan eksternal, tetapi juga menjadi salah satu cara menjaga daya saing ekspor di tengah tarif AS.
China juga merancang stimulus fiskal yang diperkirakan mencapai 3–4% dari PDB, atau sekitar 3 triliun yuan, untuk menstabilkan ekonomi domestik. Namun, sebagian analis menilai bahwa jika besaran stimulus tidak digandakan, China bisa jadi sedang menyiapkan langkah non-ekonomi, seperti peningkatan tekanan diplomatik terhadap Taiwan atau strategi militer hibrida.
Taiwan menjadi salah satu titik paling sensitif dalam rivalitas ini. Bagi China, Taiwan dipandang sebagai bagian wilayahnya dalam kerangka “one China”. Sementara bagi AS, Taiwan merupakan mitra strategis yang tidak resmi namun penting secara geopolitik. Penjualan senjata AS dan dukungan diplomatik terhadap Taiwan dipandang Beijing sebagai indikator sejauh mana AS bersedia menantang kepentingan inti China. Jika negosiasi ekonomi gagal dan tekanan meningkat, risiko eskalasi di kawasan dinilai bisa menjadi lebih nyata.
Meski tensi meningkat, konflik militer terbuka bukan pilihan utama kedua negara. AS dan China sama-sama menyadari dampak konfrontasi militer akan sangat besar, tidak hanya bagi mereka, tetapi juga bagi stabilitas global. Karena itu, banyak analis menilai eskalasi saat ini lebih berupa tekanan simbolik dan taktis untuk memperkuat posisi tawar.
Dalam situasi demikian, diplomasi, saluran komunikasi yang terbuka, serta kejelasan kebijakan menjadi faktor penting untuk mencegah kesalahpahaman yang dapat memicu krisis besar.
Dari sisi ekonomi global, ketidakpastian jangka panjang menjadi konsekuensi yang perlu diantisipasi investor dan pelaku pasar. BCA Research menyarankan investor untuk beralih ke aset safe haven seperti emas, obligasi pemerintah, dan saham defensif; menghindari risiko tinggi di wilayah yang terdampak langsung; serta mewaspadai reli pasar jangka pendek yang dinilai dapat menipu di tengah ketegangan geopolitik.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, konflik AS–China dinilai berpengaruh signifikan. Ketergantungan pada perdagangan global, investasi asing, dan stabilitas nilai tukar membuat banyak negara rentan terhadap guncangan eksternal. Namun, dinamika ini juga dapat membuka peluang bagi negara yang mampu mengambil posisi strategis, antara lain melalui diversifikasi mitra dagang, penguatan pasar domestik, serta peningkatan daya saing sektor manufaktur.
Secara keseluruhan, konflik AS–China kini mencerminkan perubahan lebih besar dalam tatanan global, ketika dua kekuatan besar bersaing menentukan norma dan arah masa depan dunia. Di tengah risiko konfrontasi strategis, ruang stabilisasi melalui dialog dan diplomasi tetap terbuka. Bagi Indonesia dan negara lain, tantangannya adalah merespons secara cermat dengan memperkuat fondasi ekonomi, menjaga stabilitas domestik, dan membangun hubungan luar negeri yang seimbang.

