Menjelang senja di kawasan Kotabaru, Yogyakarta, Masjid Syuhada menjadi salah satu titik yang ramai didatangi warga. Pada bulan Ramadhan, masjid ini tak hanya dipenuhi jemaah yang hendak beribadah, tetapi juga para perantau yang mencari suasana kebersamaan menjelang waktu berbuka. Melalui program “Takjil Nusantara”, pelataran masjid berubah menjadi ruang temu yang menghadirkan ragam cita rasa dari berbagai daerah di Indonesia.
Masjid Syuhada memiliki latar historis yang lekat dengan semangat perjuangan dan nasionalisme. Masjid ini berdiri sebagai monumen untuk menghormati 21 pejuang yang gugur dalam Pertempuran Kotabaru, dan diresmikan pada 20 September 1952 sebagai hadiah dari pemerintah pusat untuk rakyat Yogyakarta. Sejak awal, masjid tersebut dirancang sebagai simbol integrasi nilai keislaman dan keindonesiaan—semangat yang kini tercermin dalam kegiatan Ramadhan yang melibatkan banyak kalangan.
Program Takjil Nusantara dijalankan secara konsisten sepanjang bulan suci. Berdasarkan data operasional panitia Ramadhan, Masjid Syuhada menyediakan sekitar 700 hingga 1.000 porsi buka puasa setiap hari. Keistimewaan program ini terletak pada variasi menu yang berganti-ganti, mewakili daerah berbeda dari Sumatera hingga Sulawesi. Panitia menerapkan seleksi vendor katering dengan kriteria kemampuan menghadirkan resep autentik agar cita rasa yang diterima jemaah tetap terjaga.
Daftar menu yang dirilis panitia menampilkan sejumlah hidangan yang akrab bagi banyak perantau, seperti Soto Kudus, Ayam Betutu Bali, Coto Makassar, hingga Mie Aceh. Bagi sebagian mahasiswa dan pekerja yang belum bisa pulang kampung, makanan dengan rasa yang mengingatkan pada rumah kerap menjadi penguat secara emosional. Suasana berbuka bersama juga menghadirkan pengalaman lintas budaya, ketika jemaah dari berbagai daerah duduk berdampingan menanti azan Maghrib.
Selain menghadirkan dampak sosial, program ini turut menyentuh aspek ekonomi lokal. Penyediaan ribuan porsi takjil melibatkan pemberdayaan unit UMKM katering di sekitar Kotabaru. Namun, pelaksanaannya juga dihadapkan pada tantangan, terutama terkait stabilitas donasi. Pada 2026, panitia disebut perlu melakukan manajemen keuangan secara presisi agar efisiensi anggaran tidak mengurangi kualitas maupun jumlah porsi yang dibagikan.
Rangkaian kegiatan Ramadhan di Masjid Syuhada tidak berhenti pada pembagian makanan. Sebelum takjil dibagikan, jemaah mengikuti kajian sore yang diisi tokoh-tokoh dari berbagai latar, termasuk akademisi dan praktisi sosial. Pola kegiatan ini dirancang agar jemaah memperoleh penguatan spiritual sekaligus merasakan kebersamaan dalam suasana Ramadhan.
Keramaian yang tertib setiap sore memperlihatkan perjumpaan lintas daerah di satu ruang yang sama. Mahasiswa asal Papua dapat duduk berdampingan dengan perantau dari Sumatera, menanti waktu berbuka sambil mencicipi menu yang bisa jadi baru bagi sebagian orang. Dalam konteks ini, Takjil Nusantara menjadi semacam “pameran kebudayaan” harian yang dapat diakses siapa saja tanpa memandang latar sosial.
Menjelang akhir Ramadhan 2026, upaya menjaga orisinalitas dan makna program tetap menjadi pekerjaan rumah. Meski demikian, antusiasme jemaah yang memenuhi serambi masjid bahkan sebelum pukul 16.30 WIB menunjukkan bahwa program ini terus mendapat tempat. Melalui Takjil Nusantara, Masjid Syuhada menghadirkan cara sederhana untuk merawat persatuan: membuka pintu, mempertemukan orang-orang dari berbagai daerah, dan menyajikan hidangan yang mengingatkan pada rumah.

