Pemerintah Taiwan menargetkan tingkat pemanfaatan dialisis rumahan mencapai 18 persen pada 2035, seiring meningkatnya kemampuan masyarakat dalam melakukan dialisis mandiri. Target ini merupakan bagian dari komitmen mewujudkan visi “Buku Putih Dialisis Rumahan Taiwan”, kata Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan Shih Chung-liang.
Shih menjelaskan, salah satu kendala utama rendahnya pemanfaatan dialisis rumahan pada masa lalu adalah tekanan psikologis yang dirasakan pasien ketika harus menjalankan prosedur medis secara mandiri. Namun, ia menilai peningkatan tingkat pendidikan masyarakat serta penguatan edukasi kesehatan dapat mendorong kenaikan pemanfaatan dialisis rumahan secara bertahap.
Menurut Shih, dialisis rumahan dinilai tidak hanya memperkuat ketahanan sistem pelayanan kesehatan, tetapi juga memberi kemudahan dan fleksibilitas bagi pasien karena tidak terikat waktu dan lokasi layanan medis.
Ia menambahkan, setelah pandemi COVID-19, sejumlah negara mulai mengalihkan layanan dialisis dari model terpusat di fasilitas kesehatan ke model berbasis rumah, termasuk dialisis peritoneal dan hemodialisis rumahan. Shih menyebut Singapura dan Australia telah mencapai tingkat pemanfaatan sekitar 20 persen. Taiwan, yang saat ini berada di kisaran 8 persen, menetapkan target peningkatan menjadi 18 persen sebagai sasaran awal.
Ketua Taiwan Society of Nephrology Chen Chin-shun menilai Taiwan tidak hanya perlu mengejar ketertinggalan, tetapi juga membangun pendekatan khas yang disebut “Model Taiwan”. Ia mengatakan upaya tersebut sejalan dengan visi nasional “Taiwan Sehat” yang dicanangkan Presiden Lai Ching-te, guna memastikan kebijakan kesehatan terintegrasi dengan pembangunan nasional.
Sementara itu, Wakil Direktur Jenderal Asuransi Kesehatan Nasional (NHIA) Chang Yu-pin menyatakan bahwa pada 2025 pihaknya mengalokasikan dana khusus sebesar NT$433,5 juta (Rp231,8 miliar) untuk mendorong fasilitas kesehatan meningkatkan layanan dialisis peritoneal dan hemodialisis rumahan.
Menurut Chang, program tersebut juga akan memanfaatkan layanan kesehatan jarak jauh berbasis teknologi pintar untuk meningkatkan mutu pelayanan yang berpusat pada pasien sekaligus mendukung keberlanjutan sistem kesehatan.

