Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan pemerintahannya memilih fokus pada diplomasi dan tidak akan bergabung dalam serangan terhadap Iran yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel. Ia menyatakan solusi terbaik untuk meredakan situasi adalah melalui negosiasi.
Dalam konferensi pers di Downing Street, Starmer membela keputusan untuk tidak ikut serta dalam aksi militer ofensif tersebut. Menurutnya, posisi Inggris tetap mengutamakan jalur diplomatik ketimbang eskalasi militer.
“Itulah mengapa saya mengambil keputusan bahwa Inggris tidak akan bergabung dengan serangan awal terhadap Iran oleh AS dan Israel,” kata Starmer.
Starmer juga menekankan Inggris akan “tetap teguh” pada nilai-nilainya meski ada tekanan internasional terkait tindakan militer terhadap Iran. Ia mengatakan keputusan itu telah dipertimbangkan secara cermat dan diambil atas dasar kepentingan nasional.
Di sisi lain, Inggris meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk. Starmer mengumumkan penambahan empat jet tempur Typhoon yang akan dikerahkan ke Qatar, menyusul permintaan dari sekutu. Ia menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat operasi pertahanan Inggris di Qatar dan wilayah sekitarnya.
Ketika ditanya apakah sikap Inggris yang menekankan aktivitas militer defensif ketimbang tindakan ofensif dapat berubah, Starmer tidak memberikan jawaban langsung. Ia menyatakan pemerintah terus bekerja sama erat dengan sekutu dan Amerika Serikat, serta telah menjalankan kerja sama tersebut “untuk beberapa waktu.”
Starmer juga menyinggung penggunaan pangkalan militer untuk melancarkan serangan ke Iran. “AS menggunakan pangkalan militer untuk melancarkan serangan ke Iran,” ujarnya. “Itulah pemahaman dan pengaturan yang telah kita buat.”
Terkait komunikasi dengan Washington, Starmer mengatakan ia belum berbicara dengan Presiden AS Donald Trump sejak Sabtu. Namun, ia menegaskan kerja sama kedua negara tetap berjalan, termasuk dalam penempatan dari pangkalan yang digunakan bersama, perlindungan personel di pangkalan bersama, serta berbagi intelijen selama 24 jam.
Awal pekan ini, Trump secara terbuka mengkritik respons Starmer terhadap konflik yang melibatkan Iran. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump menyebut pemimpin Inggris itu “bukan Winston Churchill” dan menuduhnya merusak hubungan internasional. Trump juga mengkritik kebijakan imigrasi dan energi pemerintah Inggris, serta mendesak Inggris menghapus apa yang ia sebut “pengadilan Syariah” dan memperluas pengeboran minyak dan gas di Laut Utara.

