Di tengah terpaan pandemi Covid-19 pada 2020 yang membuat banyak usaha melambat bahkan berhenti, Lotus Group memilih mengambil jalur berbeda. Perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai penyedia cinderamata pernikahan dan hadiah korporat itu tetap melangkah dengan mengandalkan adaptasi, kreativitas, dan kolaborasi. Dari proses tersebut, lahirlah SOVLO pada Juni 2020.
SOVLO—kependekan dari Souvenir Local—dibangun sebagai upaya mempertemukan karya seniman lokal dengan pasar yang lebih luas. Di bawah kepemimpinan CEO sekaligus pendiri Lidya Valensia, jenama ini membawa visi menjembatani kreativitas ilustrator Indonesia dengan kebutuhan konsumen yang terus berkembang dan semakin sadar pada nilai karya lokal.
Salah satu prinsip yang diusung SOVLO adalah menghadirkan ilustrasi sebagai bagian dari “wearable art”. Ilustrasi yang digunakan tidak ditempatkan sekadar ornamen visual, melainkan melalui proses kurasi untuk menjaga keaslian ide, kekuatan artistik, serta keselarasan dengan karakter produk. Pendekatan ini membuat setiap desain membawa cerita dan makna tersendiri.
Karya-karya ilustrator kemudian diterapkan pada berbagai produk yang dekat dengan aktivitas harian, seperti tas, laptop sleeve, pouch, dompet, hingga aksesori personal. SOVLO juga menyertakan informasi tentang ilustrator di balik desain, sehingga konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi dapat mengenal kreator serta konteks cerita yang melatarinya.
Komitmen terhadap ilustrator lokal turut diwujudkan lewat kampanye yang dijalankan secara konsisten, salah satunya gerakan #BanggaIlustratorLokal. SOVLO juga mengembangkan kolaborasi lintas sektor, termasuk kerja sama edisi terbatas bersama Smartfren yang menghadirkan karya ilustrator Hana Madness. Ilustrasi yang terinspirasi dari pengalaman personal terkait kesehatan mental itu diterjemahkan ke dalam desain fesyen edisi khusus, sekaligus membuka ruang dialog dengan masyarakat.
Ruang pertemuan antara seniman, komunitas, dan publik juga dihadirkan melalui Teras Inspirasi atau Terasi. Pada penyelenggaraan 2025, puluhan ilustrator terlibat dalam perayaan kreativitas yang menampilkan beragam sudut pandang visual dari berbagai daerah di Indonesia. Pengunjung diajak menikmati pengalaman ruang yang imersif melalui sejumlah zona tematik, termasuk Rumah Cahaya—kolaborasi lintas generasi antara Generasi pertama Tika dan Eko Nugroho, serta SOVLO bersama IDNFT—yang mempertemukan seni, teknologi, dan eksplorasi kreatif.
Selain itu, Terasi menghadirkan Rumah Kita Semua sebagai ruang reflektif yang menekankan nilai inklusivitas melalui pameran karya Ikatan Sindroma Down Indonesia (ISDI). Zona ini menegaskan pesan bahwa kreativitas tidak mengenal batas serta membuka ruang apresiasi terhadap keberagaman dalam ekosistem kreatif.
Kehadiran SOVLO disebut membuka peluang bagi ilustrator untuk memperluas jangkauan karya. Ilustrasi yang sebelumnya banyak hidup di ruang digital kini dapat hadir dalam bentuk produk yang digunakan sehari-hari. Model kolaborasi ini dinilai tidak hanya membuka akses pasar, tetapi juga memperkuat posisi ilustrator dalam rantai nilai ekonomi kreatif.
Sejumlah tema yang diangkat SOVLO antara lain Strong Woman, Kembang Nusantara, Grateful Indonesia, hingga Indonesia Maju. Melalui tema-tema tersebut, ilustrator menyampaikan pesan tentang identitas, keberanian, dan optimisme yang memperkaya narasi visual Indonesia.
Memasuki 2026, SOVLO merencanakan penyelenggaraan Terasi 2026 bertema Grow Together, yang menandai enam tahun kebersamaan dengan ilustrator dan konsumen dalam ekosistem kreatif. Terasi 2026 dirancang menghadirkan instalasi seni dari 60 ilustrator terkurasi serta pameran produk kolaborasi bersama sejumlah nama, seperti Dinda PS, Liunic, dan Darbotz. Antusiasme publik sebelumnya disebut terlihat dari lebih dari 24 ribu pengunjung pada penyelenggaraan terdahulu.
Di luar agenda Terasi, SOVLO juga merencanakan peluncuran Rumah Ilustrator Lokal sebagai ruang belajar dan kolaborasi berkelanjutan. Inisiatif ini disebut mendapat dukungan pemerintah melalui peran Kementerian Ekonomi Kreatif. Staf Khusus Menteri Bidang Penguatan Ekosistem Ekraf dan Data, Jago Anggara, menyampaikan kesiapan kementerian untuk mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pelaku industri ritel dan mitra strategis, guna memperluas skala penyelenggaraan Terasi serta membuka peluang baru bagi ilustrator lokal.
Rangkaian inisiatif tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi antara brand, ilustrator, dan pemerintah dalam membangun ekosistem kreatif yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui Terasi dan program pendukung lainnya, SOVLO tidak hanya merangkum perjalanan kreatifnya sejak pandemi, tetapi juga menghadirkan ruang tumbuh bersama bagi ilustrasi lokal di tingkat nasional.

