Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk 2026, dengan alasan dampak konflik di Timur Tengah. Dalam laporan World Economic Outlook terbaru yang dirilis 14 April, IMF menggunakan skenario konflik berlanjut beberapa pekan lagi sebelum pasar kembali stabil pada pertengahan tahun. Berdasarkan skenario itu, pertumbuhan ekonomi global tahun ini diproyeksikan 3,1%, lebih rendah dibanding proyeksi 3,3% pada laporan triwulanan sebelumnya.
Dari Amerika Serikat, Indeks Harga Produsen (PPI) naik 0,5% pada Maret 2026. Kenaikan ini lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,1% karena volatilitas harga jasa yang lebih rendah. Meski demikian, kenaikan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah disebut terus menambah tekanan inflasi.
Di sektor teknologi dan periklanan digital, Meta berpeluang menyalip Google untuk pertama kalinya dalam pendapatan iklan digital pada 2026. Perusahaan riset pasar Emarketer memproyeksikan Meta—pemilik Instagram—mencapai pendapatan iklan bersih global sebesar US$243,46 miliar pada 2026, melampaui perkiraan Google sebesar US$239,54 miliar. Jika terealisasi, capaian itu akan mengakhiri dominasi panjang Google di segmen yang selama ini menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan industri periklanan digital.
Sementara itu di Eropa, Uni Eropa (UE) mencapai kesepakatan baru untuk melindungi industri baja dari dampak kelebihan kapasitas global. Dewan Eropa dan Parlemen Eropa menyepakati secara sementara peraturan baru untuk mengatasi dampak negatif kelebihan kapasitas baja global terhadap pasar UE.
Di pasar energi, Badan Energi Internasional (IEA) memangkas tajam perkiraan pertumbuhan pasokan dan permintaan minyak global. IEA menyatakan kedua indikator diperkirakan menurun dari level tahun 2025 di tengah konflik Timur Tengah yang mengganggu aliran minyak dan memberi tekanan pada ekonomi dunia. IEA juga menilai permintaan minyak triwulanan berpotensi turun ke level terendah sepanjang masa.
Lonjakan harga bahan bakar turut berimbas pada pasar otomotif. Data yang dirilis 14 April oleh Benchmark Mineral Intelligence (BMI) menunjukkan harga bensin yang tinggi mendorong rekor penjualan kendaraan listrik (EV) di Eropa pada Maret 2026. Capaian tersebut disebut menandai bulan pertama pertumbuhan penjualan EV secara global pada tahun ini.
Di pasar komoditas, harga tembaga menguat seiring perubahan ekspektasi geopolitik. Pada 14 April, harga tembaga naik 0,4% menjadi US$13.107,50 per ton di London Metal Exchange (LME), setelah sempat menyentuh US$13.162 per ton—level tertinggi sejak 10 Maret. Sejumlah harga logam industri lain juga bergerak naik di tengah ekspektasi pasar bahwa Amerika Serikat dan Iran akan melanjutkan pembicaraan damai.
Konflik di Timur Tengah juga tercermin pada data produksi minyak. OPEC melaporkan pada 13 April bahwa produksi minyak mentah di negara-negara pengekspor utama di Teluk Persia turun tajam pada Maret 2026 akibat konflik antara AS, Israel, dan Iran. Total produksi OPEC pada Maret 2026 merosot 27% dibanding bulan sebelumnya, dari 28,7 juta barel per hari menjadi 20,8 juta barel per hari.
Di sisi lain, analis Miad Maleki dari kelompok riset Foundation for Defense of Democracy (FDD) memperkirakan blokade AS terhadap Selat Hormuz dapat merugikan Iran sekitar US$435 juta per hari. Perkiraan kerugian itu mencakup sekitar US$276 juta dari ekspor yang hilang, terutama minyak mentah dan petrokimia.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana eskalasi konflik di kawasan produsen energi utama dapat menjalar ke proyeksi pertumbuhan global, tekanan inflasi, hingga pergerakan harga komoditas dan perubahan perilaku konsumsi di berbagai wilayah.