Serangan mendadak Amerika Serikat (AS) terhadap tiga fasilitas nuklir Iran menjadi salah satu peristiwa internasional yang paling menyita perhatian sepanjang sepekan terakhir. Langkah Washington itu memicu kekhawatiran bahwa perang Iran–Israel dapat meluas dan menyeret kawasan Timur Tengah ke konflik yang lebih besar.
Di Asia Tenggara, Thailand dilanda krisis politik baru setelah rekaman percakapan telepon Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra dengan mantan pemimpin Kamboja, Hun Sen, bocor ke publik. Peristiwa tersebut memunculkan tekanan politik agar Paetongtarn mundur.
Berikut rangkuman sejumlah isu utama internasional yang mencuat pada periode Senin (16/6/2025) hingga Minggu (22/6/2025).
Iran membalas serangan AS, Bandara Ben Gurion jadi sasaran
Iran pada Minggu dilaporkan merespons serangan udara AS terhadap tiga situs nuklirnya dengan meluncurkan serangan ke Israel, termasuk menghantam Bandara Internasional Ben Gurion. Serangan tersebut disebut berlangsung dalam dua gelombang dan melibatkan 30 rudal.
Angkatan bersenjata Iran menyatakan “Gelombang ke-20 Operasi True Promise 3 dimulai dengan menggunakan kombinasi rudal berbahan bakar cair dan padat jarak jauh dengan daya hulu ledak yang dahsyat,” seperti dikutip kantor berita Fars.
Empat skenario setelah AS terlibat langsung
Keterlibatan AS dinilai berpotensi membawa perang Iran–Israel ke fase yang lebih berbahaya. Serangan itu menempatkan militer AS secara langsung dalam konflik setelah beberapa hari ketidakpastian mengenai kemungkinan intervensi.
Situasi tersebut juga disebut dapat memunculkan konsekuensi yang tidak terduga, tidak hanya bagi Iran tetapi juga bagi kawasan secara lebih luas. Dalam pemberitaan pekan ini, muncul pembahasan mengenai empat skenario yang mungkin terjadi setelah AS terlibat.
Kekhawatiran jika rezim Iran tumbang
Di tengah eskalasi, Israel disebut menunjukkan ambisi untuk menjatuhkan pemerintahan Iran di bawah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dengan serangan yang tidak hanya menyasar fasilitas nuklir, tetapi juga target lain seperti kantor penyiar nasional Iran (IRIB).
“Serangan Israel tampaknya lebih ditujukan untuk perubahan rezim dibanding sekadar pencegahan proliferasi nuklir,” ujar peneliti Carnegie Endowment, Nicole Grajewski.
Namun, para analis memperingatkan bahwa jatuhnya Khamenei dapat membuka babak baru ketidakpastian dan kekacauan di Timur Tengah.
IRGC menyatakan perang usai pemboman AS
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan perang setelah AS melancarkan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir utama di Iran. Pernyataan tersebut dipandang sebagai eskalasi besar dari konflik Iran–Israel yang berlangsung sejak Jumat (13/6/2025) menuju konfrontasi yang lebih luas.
Seorang analis Timur Tengah menyebut situasi ini bukan lagi sekadar saling serang, melainkan telah memasuki fase perang terbuka.
WN China jadi buron FBI, diduga terkait suplai komponen senjata
Di AS, otoritas setempat memburu seorang warga negara China bernama Baoxia Liu alias Emily Liu. Ia diduga terlibat penyelundupan teknologi militer asal AS ke Iran.
Liu dituduh menyuplai ribuan komponen elektronik yang dapat digunakan untuk produksi drone, rudal balistik, dan senjata militer lainnya—yang kemudian dikaitkan dengan konflik bersenjata Iran–Israel. Tiga nama lain juga disebut bekerja sama dengannya dan masuk dalam daftar pencarian, yakni Li Yongxin alias Emma Lee, Yung Yiu Wa alias Stephen Yung, serta Zhong Yanlai alias Sydney Chung.
Skandal telepon PM Thailand memicu desakan mundur
Thailand menghadapi tekanan politik baru setelah rekaman percakapan pribadi Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra dengan Hun Sen bocor ke publik dan menuai kecaman. Rekaman berdurasi 17 menit itu diunggah langsung oleh Hun Sen ke Facebook pada Rabu (18/6/2025).
Percakapan tersebut membahas ketegangan di perbatasan Thailand–Kamboja. Alih-alih meredakan situasi, kebocoran rekaman justru memicu krisis baru di tengah ketidakstabilan politik Thailand yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Israel disebut tercengang melihat kemampuan Iran
Serangan balasan Iran yang terjadi bertubi-tubi disebut membuat Israel tercengang karena Teheran dinilai memiliki kemampuan besar untuk melanjutkan perlawanan. Wakil Presiden Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, mengatakan serangan rudal Iran yang terus berlanjut menunjukkan kemampuan Teheran untuk melakukan regrouping meski sejumlah komandan militernya tewas.
“Mereka (Israel) meremehkan kemampuan Iran untuk berkumpul kembali setelah Israel berhasil menargetkan pimpinan tertinggi militer Iran dan berhasil membunuh beberapa dari mereka,” kata Parsi, dilansir CNN pada Senin (16/6/2025).

