BERITA TERKINI
Sembilan Negara Eropa Minta Respons Darurat UE atas Tanker LNG Rusia yang Hanyut di Mediterania

Sembilan Negara Eropa Minta Respons Darurat UE atas Tanker LNG Rusia yang Hanyut di Mediterania

Sembilan negara Eropa, termasuk Italia dan Prancis, mendesak Komisi Eropa segera mengambil tindakan darurat terkait sebuah kapal tanker liquefied natural gas (LNG) asal Rusia yang dilaporkan terombang-ambing tanpa arah di perairan Laut Mediterania. Kapal bermuatan bahan bakar itu dinilai menimbulkan ancaman ekologi yang disebut “segera dan serius” bagi kawasan tersebut.

Dalam surat resmi negara-negara Uni Eropa (UE) kepada Komisi Eropa, kapal bernama Arctic Metagaz dilaporkan hanyut di perairan antara Malta dan Italia. Mereka menilai situasi ini menghadirkan “tantangan ganda”: Eropa harus menjaga keselamatan maritim serta mencegah bencana ekologi massal, namun pada saat yang sama tetap menegakkan sanksi ketat UE terhadap Rusia.

Kondisi fisik kapal yang disebut rentan, ditambah muatan yang dianggap sangat spesifik dan berbahaya, dikhawatirkan dapat memicu bencana lingkungan berskala besar di wilayah maritim UE. UE sebelumnya juga mengidentifikasi kapal tersebut sebagai bagian dari “Shadow Fleet” atau “Armada Bayangan” Rusia, taktik yang disebut digunakan Moskow untuk mengakali sanksi ekonomi menyusul invasi ke Ukraina pada 2022.

Di sisi lain, langkah-langkah penyelamatan standar seperti pengawasan, pemantauan, atau dukungan teknis maritim dinilai berpotensi memunculkan dilema politik. Sejumlah pihak khawatir keterlibatan semacam itu dapat menggerus integritas dan efek jera dari rezim sanksi Eropa.

Menanggapi situasi tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengonfirmasi kapal itu kini dalam keadaan tidak berawak. Dalam pernyataan di situs resmi kementerian, ia mengatakan kapal membawa 700 metrik ton berbagai jenis bahan bakar serta “sejumlah besar gas alam”. Rusia, menurutnya, tetap menjalin kontak dengan pemilik kapal dan otoritas asing terkait.

Namun, Zakharova menyatakan bahwa berdasarkan norma hukum internasional, tanggung jawab untuk menangani kapal yang hanyut dan mencegah bencana lingkungan berada pada negara-negara pesisir. “Keterlibatan lebih lanjut dari pemilik kapal dan Rusia sebagai negara bendera akan sangat bergantung pada keadaan tertentu,” tulisnya, yang mengisyaratkan Rusia tidak serta-merta turun tangan secara langsung.

Sementara itu, nasib dan kondisi Arctic Metagaz masih diwarnai klaim yang saling bertentangan. Awal bulan ini, Kementerian Transportasi Rusia menuding kapal yang membawa LNG dari pelabuhan Arktik Murmansk itu diserang drone laut Ukraina yang diluncurkan dari pesisir Libya. Namun, badan maritim Libya pada 4 Maret melaporkan hal berbeda, menyebut kapal tersebut telah tenggelam di perairan antara Libya dan Malta setelah mengalami kebakaran hebat sehari sebelumnya.