Kuala Lumpur — Ketegangan di Laut China Selatan masih menjadi isu krusial bagi kawasan ASEAN. Persoalan ini dinilai perlu segera menemukan jalan keluar untuk menjaga stabilitas kawasan sekaligus memastikan kerja sama dengan Tiongkok tetap berjalan.
Dalam ASEAN Media Forum 2025 di Kuala Lumpur, Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn mengatakan pembahasan penyusunan kode tata perilaku (code of conduct/COC) di Laut China Selatan telah menunjukkan kemajuan berarti.
“Hari ini, saya ingin menyampaikan bahwa kita telah mencapai kemajuan pesat (terkait COC),” ujar Kao pada Kamis, 6 November 2025.
Menurut Kao, Malaysia sebagai Ketua ASEAN tahun ini terus mengupayakan percepatan negosiasi COC, antara lain dengan memperbanyak pertemuan untuk memberi pedoman tambahan kepada kelompok kerja negosiasi. Ia menyebut proses tersebut “sangat melelahkan.”
Kao menegaskan COC tidak akan menyelesaikan persoalan bilateral maupun klaim terkait Laut China Selatan. Karena itu, ia menekankan pentingnya semua pihak yang terlibat dalam negosiasi berpegang pada Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS).
Ia berharap kesepakatan penuh atas COC dapat meredakan ketegangan, mendorong pemahaman yang lebih baik, dan menstabilkan kawasan. Kao juga menilai penyusunan COC tidak boleh ditunda, dan jika telah difinalisasi maka seluruh negara anggota ASEAN serta Tiongkok harus mematuhinya tanpa pengecualian.
“Saya sangat yakin bahwa pekerjaan ini akan selesai tahun depan. Saya berharap ini akan selesai tahun depan selama masa kepemimpinan Filipina,” kata Kao.
Filipina dijadwalkan menjadi ketua ASEAN pada 2026 dan akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN serta forum-forum terkait lainnya.
Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim menegaskan isu Laut China Selatan perlu diselesaikan secara internal di antara negara-negara ASEAN dan mitra kawasan, tanpa intervensi pihak luar. Mengutip pernyataan Anwar, pembahasan mendalam mengenai Laut China Selatan telah dilakukan dan para pihak sepakat untuk menyusun COC yang mengatur perilaku di wilayah tersebut.
“Kami ingin persoalan ini diselesaikan dalam kerangka ASEAN dan bersama para mitra di kawasan. Begitu ada kesan bahwa penyelesaiannya dipaksakan atau didikte oleh kekuatan luar, maka situasinya menjadi lebih rumit dan tegang,” ujar Anwar dalam sambutannya pada KTT Asia Timur di Kuala Lumpur, Senin, 28 Oktober 2025.

