Sejumlah negara Eropa resmi mengakui Palestina sebagai sebuah negara menjelang Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Perkembangan ini menjadi salah satu sorotan utama dalam rangkuman berita internasional sepekan terakhir.
Di saat yang sama, Amerika Serikat kembali memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB (DK PBB) yang menyerukan gencatan senjata permanen di Gaza serta pembebasan para sandera. Berikut rangkuman sejumlah peristiwa global edisi Senin (15/9/2025) hingga Minggu (21/9/2025).
Pengakuan Palestina oleh sejumlah negara Barat
Inggris, Australia, Kanada, dan Portugal pada Minggu resmi mengakui Negara Palestina setelah hampir dua tahun perang di Gaza. Selain keempat negara tersebut, Perancis, Belgia, dan sejumlah negara lain disebut diperkirakan akan segera mengambil langkah serupa di Sidang Umum PBB. Langkah ini menandai pergeseran besar di kalangan negara Barat.
Penembakan di dekat penyeberangan Allenby
Seorang sopir truk pengangkut bantuan kemanusiaan dari Yordania ke Jalur Gaza menembak mati dua tentara Israel pada Kamis (18/9/2025). Menurut layanan medis darurat Israel, Magen David Adom, penembakan terjadi di dekat penyeberangan perbatasan Allenby, jalur vital antara Yordania dan Tepi Barat yang diduduki Israel.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi insiden tersebut. IDF menyatakan sedang mencari tersangka tambahan dan sempat mengepung kota Jericho di Tepi Barat.
AS untuk keenam kali memveto resolusi DK PBB
Amerika Serikat untuk keenam kalinya memveto rancangan resolusi DK PBB terkait situasi Gaza yang menyerukan gencatan senjata permanen serta pembebasan para sandera. Wakil Utusan AS untuk Timur Tengah, Morgan Ortagus, menyatakan teks resolusi itu dinilai tidak cukup keras mengecam Hamas dan tidak mengakui hak Israel untuk membela diri.
“Resolusi ini tidak mengecam Hamas atau mengakui hak Israel untuk membela diri, dan secara keliru melegitimasi narasi palsu yang menguntungkan Hamas, yang sayangnya mendapat tempat di dewan ini,” kata Ortagus sebelum pemungutan suara.
Polemik pembelian jet tempur F-35 di Kanada
Amerika Serikat memperingatkan Kanada akan menghadapi “konsekuensi serius” bila Ottawa membatalkan rencana pembelian jet tempur F-35. Peringatan itu muncul ketika Kanada sedang mengkaji ulang proyek senilai 19 miliar dollar Kanada untuk membeli 88 jet tempur F-35, dengan kajian yang diperkirakan rampung pada akhir September 2025.
Juru bicara Departemen Pertahanan Nasional Kanada, Alex Tetreault, mengatakan hasil kajian akan difinalisasi pada akhir musim panas sebelum diajukan kepada Perdana Menteri Mark Carney untuk diputuskan.
Razia pekerja Korea Selatan di Georgia, AS
Seorang pejabat ekonomi di Negara Bagian Georgia menyebut pihaknya membahas pengembalian pekerja Korea Selatan yang dirazia otoritas imigrasi AS. Para pekerja tersebut dirazia saat bekerja di lokasi pembangunan pabrik baterai gabungan Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution.
Disebutkan para pekerja itu ditahan selama sepekan sebelum akhirnya dipulangkan ke negara asalnya.
AS menyatakan penyesalan atas razia yang menahan lebih dari 300 pekerja
Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau menyatakan penyesalan atas penggerebekan imigrasi yang membuat lebih dari 300 pekerja asal Korea Selatan ditahan di Georgia. Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyebut Landau menyampaikan penyesalan mendalam dan mengusulkan agar insiden tersebut dijadikan titik balik untuk memperbaiki sistem serta memperkuat hubungan Korea Selatan-AS.
Menurut Landau, Presiden AS Donald Trump memiliki “kepentingan tinggi” dalam peristiwa ini.
Kesepakatan awal divestasi TikTok
Pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump mengumumkan telah mencapai kesepakatan awal dengan China untuk mengalihkan kepemilikan TikTok kepada investor AS. Dengan kerangka kesepakatan tersebut, TikTok disebut akan tetap beroperasi di Amerika Serikat.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan kerangka perjanjian telah tercapai. Trump juga dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping pada Jumat (19/9/2025) untuk merampungkan kesepakatan itu.

