Bulan Ramadan dipandang sebagai bulan penuh keberkahan bagi umat Islam. Pada Ramadan 2025, yang dimulai pada Sabtu, 1 Maret 2025, memasuki hari ke-17. Malam ini diyakini sebagai malam Nuzulul Quran, yakni peringatan turunnya wahyu pertama Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril.
Peristiwa Nuzulul Quran menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Islam karena menandai awal turunnya petunjuk bagi manusia. Al-Qur’an disebut sebagai pedoman hidup, sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Baqarah ayat 185 yang menyatakan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pembeda antara yang hak dan batil.
Nuzulul Quran dipahami sebagai momentum istimewa untuk memperingati turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini menjadi dasar penting bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan berlandaskan syariat.
Proses turunnya wahyu pertama
Syekh M Ali As-Shabuni dalam kitab At-Tibyan fi Ulumil Qur’an menjelaskan bahwa Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada 17 Ramadan, saat Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun, sekitar tahun 608–609 M. Peristiwa itu terjadi di Gua Hira, sekitar 5 kilometer dari Makkah.
Dalam riwayat tersebut, Malaikat Jibril datang dan memeluk Nabi Muhammad SAW sebanyak tiga kali sambil memerintahkan, “Iqra’!” (Bacalah!). Nabi menjawab bahwa dirinya tidak mengenal bacaan. Setelah itu, Jibril membacakan wahyu pertama berupa Surat Al-Alaq ayat 1–5, yang berisi perintah membaca dengan menyebut nama Tuhan, serta penegasan bahwa Allah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Syekh M Ali As-Shabuni juga menyebutkan bahwa setelah menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad SAW mengalami ketakutan yang luar biasa. Beliau pulang ke rumah dan diselimuti oleh Sayyidah Khadijah RA untuk menenangkan diri.
Perbedaan pendapat tentang wahyu pertama
Di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat mengenai wahyu pertama yang diturunkan. Sebagian menyebut wahyu pertama adalah Surat Al-Alaq ayat 1–5, merujuk pada riwayat dari Sayyidah Aisyah RA yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Namun, riwayat lain dari Jabir bin Abdullah—juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim—menyebutkan bahwa wahyu pertama adalah Surat Al-Muddatstsir. Dalam riwayat itu, Nabi Muhammad SAW dikisahkan mendengar suara dari langit, melihat malaikat yang pernah mendatanginya di Gua Hira, lalu kembali ke rumah dan meminta diselimuti. Setelah itu turun ayat pembuka Surat Al-Muddatstsir yang berisi perintah untuk bangkit memberi peringatan dan mengagungkan Tuhan.
Dalam penjelasan yang disebutkan, pendapat yang dinilai lebih kuat menyatakan bahwa Surat Al-Alaq ayat 1–5 merupakan wahyu awal kenabian, sedangkan Surat Al-Muddatstsir dipahami sebagai wahyu pertama yang menandai dimulainya tugas kerasulan dalam bentuk perintah berdakwah.
Awal dakwah
Setelah menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad SAW mulai menyampaikan dakwah secara sembunyi-sembunyi kepada kerabat dan sahabat terdekat. Dakwah secara terang-terangan disebut dimulai setelah turunnya Surat Al-Muddatstsir.
Selain itu, dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 214, Allah SWT memerintahkan Nabi untuk memberi peringatan kepada keluarga terdekat. Setelah perintah tersebut, Nabi Muhammad SAW mulai menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia, meski menghadapi tantangan dan penolakan dari kaum Quraisy.
Makna peringatan Nuzulul Quran
Peristiwa Nuzulul Quran kerap dimaknai sebagai pengingat tentang kedudukan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Wahyu pertama yang diawali perintah “Iqra’” juga menegaskan pentingnya membaca dan mencari ilmu. Selain itu, perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW yang menghadapi penolakan menjadi pelajaran tentang kesabaran dalam menyampaikan kebenaran.
Nuzulul Quran diperingati sebagai momen turunnya wahyu pertama, yang dalam penjelasan tersebut merujuk pada Surat Al-Alaq ayat 1–5, sementara Surat Al-Muddatstsir dipahami sebagai penanda dimulainya perintah dakwah. Peristiwa ini mengingatkan umat Islam untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan.

